Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Tulisan ini terinspirasi dari canel Money Matters dengan judul “Iran Just Activated Underground Missile Cities — 12,000 Ballistic Missiles Israel Cannot Reach” Saya coba menyederhanakannya dengan gaya tulisan Koptagul, wak!
Nuan bayangkan, saat pian lagi santai. Kopi di tangan. Hidup terasa aman. Lalu, Iran muncul bukan dengan pidato, tapi dengan tur properti paling menyeramkan di planet ini. Bukan rumah, bukan apartemen, tapi kota bawah tanah. Isinya? Bukan manusia. Tapi, rudal. Ribuan. Disusun rapi seperti gudang logistik akhir zaman.
Tiga hari lalu, Iran menampilkan Missile City 505. Lokasinya di Pegunungan Alborz, kedalaman 500 meter di bawah tanah. Itu bukan bunker. Itu level “kalau bumi bergetar, mereka masih sempat ngopi dulu di bawah.”
Terowongan utama sepanjang 4 km, bercabang seperti akar pohon raksasa. Di tiap cabang, ada 8–12 peluncur rudal di atas rel. Dari posisi santai ke siap tembak? Kurang dari 20 menit. Lebih cepat dari oknum Ormas menyerbu prasmanan nikahan.
Ini bagian yang bikin kepala cenat-cenut. Itu cuma satu dari 12 fasilitas. Masing-masing berisi 800–1.200 rudal. Totalnya? Sekitar 9.600 sampai 14.400 rudal. Ini bukan arsenal. Ini “paket bundle kehancuran edisi premium.”
Jenisnya? Ghadr (2.000 km), Sejjil (2.500 km), Emad (bisa menghindari pertahanan), Kheibar Shekan, sampai Fattah hipersonik Mach 13. Satu rudal bawa hulu ledak 650–1.200 kg. Satu saja cukup meratakan satu blok kota. Ribuan? Ya… jenengan bisa bayangkan sendiri, atau mungkin tidak sanggup.
Sekarang, mari masuk ke adegan yang sering akang lihat di berita, dan di sinilah narasi jadi makin absurd.
Kalian pasti pernah melihat bagaimana drone Iran datang seperti kawanan lebah. Bukan satu dua. Tapi ratusan. Ribuan. Berdengung di langit seperti suara mesin pemotong rumput yang tiba-tiba berubah jadi soundtrack kiamat. Fenomena ini bukan halusinasi, memang strategi mereka, serangan massal untuk membanjiri pertahanan lawan.
Drone seperti Shahed bisa diproduksi murah, sekitar 20.000–50.000 dolar per unit. Murah, sederhana, tapi dikirim dalam jumlah besar. Logikanya sederhana, bukan kualitas, tapi kuantitas. Bukan sniper, ini hujan panah zaman modern.
Iran bahkan sudah meluncurkan lebih dari 1.400 serangan drone dalam konflik terbaru. Sebagian besar berupa gelombang bertubi-tubi. Ini bukan serangan. Ini “spam folder” versi militer.
Bandingkan dengan negara yang hobinya impor drone, ya, kita tidak usah sebut nama, tapi nuan tahu siapa. Sekali kirim, mungkin langsung mikir, “Stok tinggal berapa ya?” Iran? Stoknya seperti mie instan saat promo, tidak ada habisnya. Bahkan laporan menyebut mereka punya puluhan ribu drone siap pakai.
Ketika rudal belum keluar dari perut bumi, drone sudah duluan datang seperti lebah pengantar malapetaka. Pertahanan udara dipaksa menembak ke segala arah, menghabiskan amunisi mahal hanya untuk menghancurkan “drone murah meriah.”
Balik ke bawah tanah. Israel punya GBU-28, tembus 30 meter. Amerika punya GBU-57, tembus 60 meter. Target? 500 meter. Itu bukan selisih. Itu beda alam.
Satu-satunya opsi? Nuklir. Tapi begitu itu dipakai, bukan cuma Iran dan Israel yang selesai, dunia ikut rapat koordinasi darurat level kiamat.
Sistem pertahanan Israel seperti Arrow hanya bisa menghadapi sekitar 112 target sekaligus. Iran bisa kirim 600 rudal dalam satu gelombang. Sisanya? Silakan masuk, pilih target, jangan lupa tinggalkan kesan.
Setelah satu gelombang selesai, Iran masih punya sekitar 11.000 rudal tersisa. Mereka bisa ulang lagi besok pagi, mungkin sambil sarapan roti dan teh.
Kesimpulannya brutal. Israel mungkin menang di permukaan. Tapi Iran bermain di bawah tanah, secara literal dan strategis. Rudalnya tersembunyi, dronenya tak habis-habis, dan matematikanya kejam.
Ini bukan perang biasa. Ini kombinasi gudang bawah tanah, kawanan lebah mekanik, dan kalkulator yang tidak pernah berpihak pada yang bertahan.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









