Dengarkan Artikel
Oleh Aswan Nasution
Lebaran selalu identik dengan kata pulang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan. Terminal sesak oleh orang yang membawa rindu. Semua bergerak menuju satu titik: rumah. Namun tidak semua orang merasakan perjalanan itu. Ada yang justru tetap tinggal di kampung halaman—bukan karena tak ingin pulang, tetapi karena rumah yang dulu terasa hangat kini terasa jauh.
Ia tidak merantau. Tidak perlu menempuh ratusan kilometer seperti orang-orang yang datang dengan koper besar dan wajah penuh harap. Ia sudah berada di kampungnya sendiri. Jalan yang ia lewati setiap hari adalah jalan yang sama dengan masa kecilnya. Pohon mangga di depan rumah masih berdiri di tempat yang sama. Masjid di ujung gang masih mengumandangkan azan yang sama.
Tetapi entah sejak kapan, semuanya terasa berbeda.
Di malam takbiran, langit kampung dipenuhi suara gema takbir. Anak-anak berlarian bertakbiran dengan sepeda motor. Petasan kecil sesekali meledak di kejauhan. Rumah-rumah mulai dipenuhi tamu. Lampu teras menyala lebih terang dari biasanya. Ia duduk di beranda rumahnya yang sunyi.
Ada waktu ketika ia juga menjadi bagian dari keramaian itu. Dulu ia pulang dengan cerita keberhasilan. Dengan senyum yang disambut bangga oleh keluarga. Namanya sering disebut dalam percakapan. Ada cahaya yang membuat orang ingin dekat. Sekarang cahaya itu sedang redup.
Bukan karena ia berhenti berusaha. Hidup hanya sedang berjalan ke arah yang tidak ia rencanakan. Usaha yang pernah ia bangun perlahan runtuh. Rencana yang pernah ia jaga dengan hati-hati tiba-tiba berubah arah. Dan seperti banyak hal dalam hidup, perubahan itu tidak datang dengan peringatan. Ia hanya datang. Diam-diam.
Sejak saat itu, percakapan dengan keluarga mulai terasa berbeda. Ada jeda yang tidak pernah dijelaskan. Ada kalimat yang berhenti di tengah jalan. Ada tatapan yang berubah makna. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata keras. Tetapi ada jarak yang tumbuh pelan-pelan, seperti retakan halus di kaca.
Orang sering berpikir bahwa disisihkan berarti ditolak secara terang-terangan. Padahal sering kali ia terjadi dengan cara yang lebih sunyi. Tidak ada yang mengatakan “kamu tidak diinginkan.” Hanya saja, perlahan, seseorang berhenti dipanggil.
Ia mulai menyadari itu ketika undangan keluarga datang lebih lambat dari biasanya. Ketika percakapan grup keluarga tidak lagi menunggu jawabannya. Ketika rencana berkumpul dibuat tanpa benar-benar menanyakan apakah ia akan datang. Bukan kebencian. Hanya ketidaknyamanan yang tidak pernah diucapkan.
Malam takbiran semakin larut. Angin membawa aroma ketupat yang direbus dari rumah-rumah tetangga. Bau santan, bawang goreng, dan daun pandan bercampur dalam udara yang lembab. Ia menutup mata sejenak.
Kenangan datang tanpa diminta. Ia ingat masa kecil ketika Lebaran berarti bangun pagi dengan baju baru. Berlari menuju ruang tamu yang penuh saudara. Tertawa ketika sepupu-sepupu berebut kue kering. Merasa dunia begitu sederhana dan penuh kemungkinan. Dulu ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan duduk sendiri di malam Lebaran.
Yang paling berat bukanlah kesepian itu sendiri. Yang paling berat adalah pertanyaan yang terus muncul di kepala: kapan semuanya berubah? Apakah ketika usahanya gagal? Apakah ketika ia tidak lagi bisa memberi seperti dulu?
Atau mungkin ketika orang-orang mulai melihatnya bukan sebagai harapan, tetapi sebagai beban cerita yang terlalu rumit untuk didengar. Pagi Lebaran datang dengan cahaya yang lembut.
Suara takbir masih menggema dari masjid. Orang-orang berjalan berkelompok menuju lapangan untuk salat Id. Anak-anak mengenakan baju terbaik mereka. Orang tua saling menyapa dengan senyum yang hangat. Ia ikut berjalan ke masjid.
Di antara kerumunan itu, ia merasa seperti bayangan. Tidak sepenuhnya terlihat, tidak sepenuhnya hilang. Beberapa orang menyapanya dengan ramah. Beberapa yang lain hanya mengangguk singkat. Tidak ada yang benar-benar salah. Hanya saja, ia tahu bahwa posisinya dalam cerita orang lain sudah berubah.
Ketika khatib menyampaikan khutbah tentang makna Idul Fitri—tentang kembali pada kesucian—ia mendengarkan dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selama ini ia selalu mengira bahwa kesucian berarti keberhasilan menjalani puasa dengan baik. Bahwa kemenangan Ramadan adalah soal menahan lapar dan dahaga. Tetapi pagi itu ia menyadari sesuatu yang lain.
Mungkin kesucian juga berarti menerima diri sendiri apa adanya. Bahkan ketika dunia tidak lagi memandang kita dengan cara yang sama. Mungkin kemenangan yang paling sunyi adalah keberanian untuk tetap berdiri ketika cahaya hidup sedang redup.
Setelah salat selesai, orang-orang saling bersalaman. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” terdengar di mana-mana. Ketika seseorang mengucapkan kalimat itu kepadanya, ia tersenyum dan menjawab dengan tulus. Karena di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia juga sedang memaafkan banyak hal. Memaafkan keadaan. Memaafkan harapan yang pernah runtuh. Dan mungkin, pelan-pelan, memaafkan dirinya sendiri.
Di perjalanan pulang dari masjid, matahari mulai naik perlahan. Cahaya pagi menyentuh atap rumah-rumah kampung dengan warna keemasan yang hangat. Ia berhenti sejenak di jalan kecil yang biasa ia lewati sejak kecil.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan kesedihan. Bukan juga kegembiraan yang meledak-ledak. Hanya ketenangan yang sederhana. Seperti seseorang yang akhirnya mengerti bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi terang di mata orang lain. Kadang hidup hanya tentang menjaga api kecil di dalam diri agar tidak padam.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, cahaya itu akan kembali terang.Tidak untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun. Tetapi cukup untuk menerangi jalan pulang—bahkan jika jalan itu hanya menuju dirinya sendiri.
Serbelawan ni Huta, 3 Syawal 1447 H.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










