HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Maret 23, 2026
in Esai, #Idul Fitri
Reading Time: 4 mins read
0
Lebaran di Kampung yang Sunyi
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution

Lebaran selalu identik dengan kata pulang. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan. Terminal sesak oleh orang yang membawa rindu. Semua bergerak menuju satu titik: rumah. Namun tidak semua orang merasakan perjalanan itu. Ada yang justru tetap tinggal di kampung halaman—bukan karena tak ingin pulang, tetapi karena rumah yang dulu terasa hangat kini terasa jauh.

Baca Juga

Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Maret 23, 2026
Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain

Maret 23, 2026
Buka Bersama HVM Mengubah Cara Saya Membaca Sejarah

Buka Bersama HVM Mengubah Cara Saya Membaca Sejarah

Maret 19, 2026

Ia tidak merantau. Tidak perlu menempuh ratusan kilometer seperti orang-orang yang datang dengan koper besar dan wajah penuh harap. Ia sudah berada di kampungnya sendiri. Jalan yang ia lewati setiap hari adalah jalan yang sama dengan masa kecilnya. Pohon mangga di depan rumah masih berdiri di tempat yang sama. Masjid di ujung gang masih mengumandangkan azan yang sama.

Tetapi entah sejak kapan, semuanya terasa berbeda.

Di malam takbiran, langit kampung dipenuhi suara gema takbir. Anak-anak berlarian bertakbiran dengan sepeda motor. Petasan kecil sesekali meledak di kejauhan. Rumah-rumah mulai dipenuhi tamu. Lampu teras menyala lebih terang dari biasanya. Ia duduk di beranda rumahnya yang sunyi.

Ada waktu ketika ia juga menjadi bagian dari keramaian itu. Dulu ia pulang dengan cerita keberhasilan. Dengan senyum yang disambut bangga oleh keluarga. Namanya sering disebut dalam percakapan. Ada cahaya yang membuat orang ingin dekat. Sekarang cahaya itu sedang redup.

Bukan karena ia berhenti berusaha. Hidup hanya sedang berjalan ke arah yang tidak ia rencanakan. Usaha yang pernah ia bangun perlahan runtuh. Rencana yang pernah ia jaga dengan hati-hati tiba-tiba berubah arah. Dan seperti banyak hal dalam hidup, perubahan itu tidak datang dengan peringatan. Ia hanya datang. Diam-diam.

Sejak saat itu, percakapan dengan keluarga mulai terasa berbeda. Ada jeda yang tidak pernah dijelaskan. Ada kalimat yang berhenti di tengah jalan. Ada tatapan yang berubah makna. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata keras. Tetapi ada jarak yang tumbuh pelan-pelan, seperti retakan halus di kaca.

Orang sering berpikir bahwa disisihkan berarti ditolak secara terang-terangan. Padahal sering kali ia terjadi dengan cara yang lebih sunyi. Tidak ada yang mengatakan “kamu tidak diinginkan.” Hanya saja, perlahan, seseorang berhenti dipanggil.

Ia mulai menyadari itu ketika undangan keluarga datang lebih lambat dari biasanya. Ketika percakapan grup keluarga tidak lagi menunggu jawabannya. Ketika rencana berkumpul dibuat tanpa benar-benar menanyakan apakah ia akan datang. Bukan kebencian. Hanya ketidaknyamanan yang tidak pernah diucapkan.

Malam takbiran semakin larut. Angin membawa aroma ketupat yang direbus dari rumah-rumah tetangga. Bau santan, bawang goreng, dan daun pandan bercampur dalam udara yang lembab. Ia menutup mata sejenak.

Kenangan datang tanpa diminta. Ia ingat masa kecil ketika Lebaran berarti bangun pagi dengan baju baru. Berlari menuju ruang tamu yang penuh saudara. Tertawa ketika sepupu-sepupu berebut kue kering. Merasa dunia begitu sederhana dan penuh kemungkinan. Dulu ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan duduk sendiri di malam Lebaran.

ADVERTISEMENT

Yang paling berat bukanlah kesepian itu sendiri. Yang paling berat adalah pertanyaan yang terus muncul di kepala: kapan semuanya berubah? Apakah ketika usahanya gagal? Apakah ketika ia tidak lagi bisa memberi seperti dulu?

Atau mungkin ketika orang-orang mulai melihatnya bukan sebagai harapan, tetapi sebagai beban cerita yang terlalu rumit untuk didengar. Pagi Lebaran datang dengan cahaya yang lembut.

Suara takbir masih menggema dari masjid. Orang-orang berjalan berkelompok menuju lapangan untuk salat Id. Anak-anak mengenakan baju terbaik mereka. Orang tua saling menyapa dengan senyum yang hangat. Ia ikut berjalan ke masjid.

Di antara kerumunan itu, ia merasa seperti bayangan. Tidak sepenuhnya terlihat, tidak sepenuhnya hilang. Beberapa orang menyapanya dengan ramah. Beberapa yang lain hanya mengangguk singkat. Tidak ada yang benar-benar salah. Hanya saja, ia tahu bahwa posisinya dalam cerita orang lain sudah berubah.

Ketika khatib menyampaikan khutbah tentang makna Idul Fitri—tentang kembali pada kesucian—ia mendengarkan dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selama ini ia selalu mengira bahwa kesucian berarti keberhasilan menjalani puasa dengan baik. Bahwa kemenangan Ramadan adalah soal menahan lapar dan dahaga. Tetapi pagi itu ia menyadari sesuatu yang lain.

Mungkin kesucian juga berarti menerima diri sendiri apa adanya. Bahkan ketika dunia tidak lagi memandang kita dengan cara yang sama. Mungkin kemenangan yang paling sunyi adalah keberanian untuk tetap berdiri ketika cahaya hidup sedang redup.

Setelah salat selesai, orang-orang saling bersalaman. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” terdengar di mana-mana. Ketika seseorang mengucapkan kalimat itu kepadanya, ia tersenyum dan menjawab dengan tulus. Karena di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia juga sedang memaafkan banyak hal. Memaafkan keadaan. Memaafkan harapan yang pernah runtuh. Dan mungkin, pelan-pelan, memaafkan dirinya sendiri.

Di perjalanan pulang dari masjid, matahari mulai naik perlahan. Cahaya pagi menyentuh atap rumah-rumah kampung dengan warna keemasan yang hangat. Ia berhenti sejenak di jalan kecil yang biasa ia lewati sejak kecil.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan kesedihan. Bukan juga kegembiraan yang meledak-ledak. Hanya ketenangan yang sederhana. Seperti seseorang yang akhirnya mengerti bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi terang di mata orang lain. Kadang hidup hanya tentang menjaga api kecil di dalam diri agar tidak padam.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, cahaya itu akan kembali terang.Tidak untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun. Tetapi cukup untuk menerangi jalan pulang—bahkan jika jalan itu hanya menuju dirinya sendiri.
Serbelawan ni Huta, 3 Syawal 1447 H.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 187x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 157x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 135x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Baca Juga

Aceh

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi?

Maret 23, 2026
Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran
Artikel

Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran

Maret 23, 2026
Emak Mananti Lebaran
#Cerpen

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?
#Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Maret 23, 2026
Next Post
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com