HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika

Azharsyah Ibrahim by Azharsyah Ibrahim
Maret 20, 2026
in Analisis, Artikel, Kemiskinan, sosial
Reading Time: 4 mins read
0
Memaknai Kibaran Bendera Putih di Aceh
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Azharsyah Ibrahim

Dalam Islam, ada sebuah ungkapan yang sering disandarkan sebagai hadis yang menyebutkan bahwa “kemiskinan mendekati kekufuran”. Pernyataan ini, jika ditarik ke dalam ranah sosiologi, sebenarnya tidak sedang membahas persoalan teologis semata, melainkan membedah sebuah realitas sosial yang ironis di sekitar kita.

Baca Juga

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Maret 20, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Sumpah dari Puncak  Meratus

Sumpah dari Puncak Meratus

Maret 20, 2026

Di banyak negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, kita sering menyaksikan fenomena pelanggaran aturan yang meluas dan terkikisnya etika sosial. Ini adalah sebuah lingkaran setan yang perlahan, namun pasti mengancam sendi-sendi peradaban sebuah bangsa.

Secara kasat mata, kita melihat penduduk di negara-negara miskin cenderung lebih mudah melanggar aturan. Fenomena ini mulai dari hal-hal yang dianggap sepele—seperti melanggar lampu lalu lintas atau tidak tertib dalam antrean—hingga persoalan yang lebih berat seperti rendahnya disiplin kerja, hilangnya kejujuran, dan absennya keadilan sosial bagi seluruh warga. Pertanyaannya, mengapa kemiskinan berdampak begitu sistemik terhadap perilaku manusia?

Akar Ekonomi di Balik Krisis Moral

ADVERTISEMENT

Satu hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa fenomena ini bukanlah persoalan agama, melainkan persoalan ekonomi. Meskipun realitas ini banyak terjadi di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang kebetulan masih tergolong miskin, pangkal masalahnya tetaplah urusan perut. Seseorang yang kebutuhan dasarnya, seperti sandang dan pangan belum terpenuhi, cenderung akan dikuasai oleh rasa khawatir dan kecemasan akan kelangkaan sumber daya.

Ketakutan bahwa kebutuhan hidup tidak akan tercukupi mendorong individu untuk mengabaikan aturan demi bertahan hidup. Awalnya, mereka mungkin hanya melanggar aturan umum kemasyarakatan. Namun, secara bertahap, tekanan ekonomi ini dapat mengarah pada pengabaian nilai-nilai agama, yang pada akhirnya membawa mereka pada kondisi “kekufuran” dalam arti luas: hilangnya integritas dan rasa syukur.

Salah satu manifestasi yang paling merusak adalah munculnya konsep “membantu yang tidak pada tempatnya”. Dalam masyarakat yang terhimpit secara ekonomi, penyimpangan etika sering kali dianggap sebagai bentuk solidaritas. Contohnya adalah praktik meluluskan seseorang masuk kuliah, mendapatkan pekerjaan, atau bahkan menduduki jabatan publik padahal orang tersebut tidak memiliki kualifikasi yang memadai. Praktik nepotisme ini seringkali dibungkus dengan dalih “menolong sesama”, padahal secara substansi, itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap keadilan dan profesionalisme.

Korupsi sebagai Penghancur Harapan

Masalah kemiskinan ini diperparah oleh keberadaan korupsi yang masif. Secara empiris, korupsi memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kemiskinan; korupsi melahirkan kemiskinan, dan kemiskinan—melalui ketidaksetaraan—kembali melahirkan korupsi. Korupsi bekerja bak mesin penghancur yang menjebak masyarakat dalam lingkaran setan kemiskinan yang berkelanjutan.

Data menunjukkan betapa dahsyatnya dampak korupsi terhadap ketahanan negara. Di Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat sebanyak 2.730 kasus korupsi sepanjang tahun 2020 hingga 2024. Kerugian negara yang ditimbulkan sangat fantastis, mencapai angka Rp 310,61 triliun pada tahun 2024 saja. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan representasi dari hilangnya hak-hak masyarakat miskin.

Dana publik yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, dan kebijakan sosial justru terdistorsi dan disalahgunakan oleh segelintir elite. Akibatnya, terjadi distorsi kebijakan publik di mana pembangunan tidak lagi berpihak pada rakyat banyak. Lebih jauh lagi, penegakan hukum yang lambat dan tidak adil dalam menangani kasus-kasus korupsi ini semakin mengikis kepercayaan masyarakat terhadap penguasa dan sistem yang ada.

Kegagalan integritas ini tidak hanya terjadi di lapisan bawah, tetapi justru seringkali berakar dari tingkat elite. Contohnya adalah fenomena plagiarisme yang melibatkan pejabat publik di berbagai negara, yang menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran etika akademik dan moral di tingkat kepemimpinan. Jika pemimpinnya saja mengabaikan etika, sulit mengharapkan rakyat yang sedang berjuang melawan lapar untuk tetap patuh pada aturan.

Memutus Rantai Secara Struktural

Mengatasi kaitan antara kemiskinan dan kemerosotan etika tidak bisa hanya dilakukan dengan ceramah moral. Negara memegang tanggung jawab konstitusional yang besar untuk menjamin kesejahteraan rakyat miskin, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 34 UUD 1945. Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak yang membuktikan bahwa kemiskinan bisa ditekan secara drastis, seperti yang terjadi pada periode 1976 hingga 1996 ketika pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di atas 7%.

Namun, keberlanjutan kemiskinan yang kita hadapi saat ini menunjukkan adanya masalah struktural. Kebijakan pemerintah seringkali masih cenderung berpihak kepada elite ekonomi daripada rakyat jelata. Oleh karena itu, solusi untuk memutus lingkaran kemiskinan dan pelanggaran aturan ini harus difokuskan pada dua hal utama: reformasi institusional dan pemerataan ekonomi.

Pertama, perlu adanya penguatan tata kelola pemerintahan. Transparansi, pengawasan, dan efektivitas penegakan hukum—terutama dalam kasus korupsi—harus ditingkatkan untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan sumber daya negara terdistribusi secara adil. Tanpa penegakan hukum yang tegas terhadap para pencuri uang rakyat, rasa keadilan masyarakat akan terus tercederai.

Kedua, pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan yang secara nyata mengatasi ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan pendapatan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang di puncak piramida, tetapi manfaatnya harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tantangan terbesar kita hari ini adalah meyakinkan para pembuat kebijakan bahwa mengatasi kemiskinan dan menegakkan hukum bukan sekadar retorika moral atau komoditas politik menjelang pemilu. Ini adalah kunci utama untuk membangun masyarakat yang tertib, jujur, dan berkeadilan. Jika perut sudah kenyang dan keadilan sudah tegak, maka etika dan ketaatan terhadap aturan akan tumbuh dengan sendirinya sebagai bagian dari budaya bangsa yang bermartabat. Wallahu a’lam bisshawab

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 202x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 171x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 165x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 159x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Azharsyah Ibrahim

Azharsyah Ibrahim

Short Biography Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, SE., Ak., M.S.O.M. adalah Guru Besar Manajemen Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Meraih S-1 di Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Syiah Kuala (2001), S-2 Operations Management dengan beasiswa Fulbright di Amerika Serikat (2008), dan menyelesaikan program doktoral Manajemen Syariah di University of Malaya pada 2015. Memiliki sejumlah publikasi akademik yang dapat diakses online. Di kampus, menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Editor in Chief dua jurnal ilmiah terakreditasi. Selain itu, aktif sebagai editor dan reviewer di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science, serta menjadi narasumber di berbagai pertemuan ilmiah. Prof. Azharsyah berdomisili di Limpok, Aceh Besar, dan dapat dihubungi melalui email: azharsyah@gmail.com.  

Baca Juga

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.
Artikel

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Maret 20, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?
# Koruptor

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
#Korban Bencana

Niat Bertugas di Daerah Bencana itu Terwujud 

Maret 20, 2026
Nofri Qosdiansyah Sukses Menembus Panggung Global
#Sosok

Nofri Qosdiansyah Sukses Menembus Panggung Global

Maret 20, 2026
Next Post
Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
تَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنكُمْ

Selamat Hari Raya

Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin
Semoga hati kembali suci

No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com