Dengarkan Artikel
oleh Fileski Walidha Tanjung
Selasa sore, 17 Maret 2026, langit Madiun menggantungkan warna jingga yang samar ketika saya melangkah menuju Angkringan Jamur di Jalan Tanjung Manis. Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Di tempat sederhana yang biasanya hanya dipenuhi percakapan santai tentang harga beras, sepak bola, atau kenangan masa sekolah, sore itu saya menemukan sesuatu yang lain: sebuah perjumpaan waktu. Komunitas Historia van Madioen (HvM), di bawah koordinasi Septian D. Kharisma, mengadakan acara buka bersama. Namun peristiwa ini tidak sekedar ritual sosial berbasis kalender religius. Ia menjelma ruang pertemuan lintas disiplin, lintas gagasan, dan lintas harapan.
Saya duduk di antara para pegiat sejarah, aktivis kebudayaan, dan tokoh komunitas yang masing-masing membawa perspektif unik tentang masa lalu dan masa depan. Turut hadir Haris Saputra dari Gusdurian Madiun, juga hadir berbagai komunitas lain seperti; Madiun Book Party, LESBUMI kota Madiun, komunitas pecinta keris, dari lintas agama ada Romo Teddy dari Gereja Mater Dei, ada juga Ustad Yusuf Ahmad, juga dari para pemuda Nahdlatul Ulama yang makin menambah gayeng acara ini. Termasuk saya, yang diundang dari kalangan penulis sastra, merasa seolah sedang menyaksikan sebuah laboratorium pemikiran yang hidup. Di atas meja kayu sederhana, segelas teh hangat, nasi kotak, es kopyor, dan berbagai sajian buah menjadi saksi betapa diskursus intelektual tidak selalu membutuhkan aula megah atau panggung akademik.
Di tengah percakapan itu, saya teringat sebuah gagasan dari Michel Foucault yang pernah mengatakan, “Sejarah bukanlah sekadar kisah tentang masa lalu, melainkan medan pertarungan makna di masa kini.” Kutipan itu, dalam suasana angkringan yang hangat, terasa sangat konkret. Sejarah tidak lagi tampil sebagai teks yang dingin dalam buku pelajaran, melainkan sebagai denyut yang hidup dalam percakapan manusia. Saya mulai menyadari bahwa acara buka bersama ini, pada dasarnya, adalah bentuk kecil dari revolusi kesadaran. Ia menggeser paradigma bahwa sejarah hanya milik arsip, museum, atau seminar akademik.
Di Madiun, kota yang sering dipersepsikan sebagai ruang transit dalam peta besar Indonesia, sore itu saya melihat sejarah bertransformasi menjadi ruang dialog. Para peserta tidak hanya membicarakan kronologi peristiwa atau tokoh-tokoh masa lampau, tetapi juga mencoba membaca ulang relevansi sejarah dalam menghadapi tantangan kontemporer. Ada kegelisahan tentang bagaimana generasi digital semakin terputus dari ingatan kolektif. Ada kekhawatiran bahwa modernitas yang serba cepat justru menciptakan amnesia budaya. Namun di balik kegelisahan itu, saya menangkap optimisme yang tenang.
Sejarah, seperti yang saya rasakan dalam forum kecil ini, ternyata tidak sekadar menatap ke belakang. Ia adalah jembatan menuju masa depan. Saya merasakan bagaimana sejarah dapat menjadi energi moral. Dan ketika saya sendiri mencoba mengartikulasikan pengalaman batin seorang penulis dalam membaca realitas sosial, saya menyadari bahwa sastra pun adalah bentuk historiografi yang halus.
Di sela percakapan yang mengalir hangat, Hanif dari LESBUMI NU Kota Madiun—yang juga dikenal sebagai pemilik Angkringan Jamur sekaligus anggota komunitas pecinta keris—perlahan mengubah arah diskusi menjadi lebih konkret dan berwujud. Dengan penuh kehati-hatian, ia memperkenalkan beberapa koleksi pusaka keris yang ia simpan. Ia tidak sekadar memamerkan benda-benda itu sebagai artefak estetis, melainkan menjadikannya pintu masuk untuk memahami jejak kebudayaan Nusantara. Hanif menjelaskan perbedaan jenis keris, dari yang berluk ganjil hingga lurus sederhana, dari keris tayuhan hingga keris ageman, sembari menunjukkan bagaimana cara memegang keris dengan sikap hormat, bukan dengan rasa takut. Dalam penjelasannya, keris tampil bukan sebagai simbol kekuatan gaib, melainkan sebagai karya peradaban yang sarat filosofi, teknik tempa, dan narasi sejarah panjang.
Ia juga menekankan pentingnya literasi perawatan keris sebagai bagian dari upaya merawat ingatan kolektif. Membersihkan bilah dengan minyak cendana, menyimpannya dalam warangka yang tepat, hingga memahami waktu-waktu tertentu untuk melakukan perawatan menjadi bagian dari pendidikan kultural yang ia tawarkan kepada generasi muda. Hanif menyadari bahwa selama ini banyak anak muda menjauh dari keris karena bayangan mistis dan stigma klenik yang melekat kuat dalam imajinasi sosial. Karena itu, melalui ruang sederhana angkringan miliknya, ia berusaha menggeser cara pandang tersebut: bahwa keris adalah warisan estetika dan intelektual bangsa, bukan sekadar objek ketakutan. Dalam gestur tenangnya saat menjelaskan, saya merasakan bahwa upaya kecil semacam ini adalah bentuk lain dari perjuangan sejarah—menghidupkan kembali makna pusaka agar tidak tenggelam dalam prasangka zaman.
Saya teringat kata-kata Hannah Arendt yang pernah menulis, “Memahami berarti berdamai dengan kenyataan tanpa harus menerimanya begitu saja.” Dalam konteks pertemuan sore itu, kutipan ini terasa seperti kunci pembuka. Kita tidak berkumpul hanya untuk meromantisasi masa lalu. Kita juga tidak datang untuk mengutuk masa kini. Kita hadir untuk memahami, dan dari pemahaman itu lahir kemungkinan-kemungkinan baru. Mungkin inilah yang membuat suasana diskusi terasa begitu hidup. Tidak ada dominasi satu narasi. Tidak ada klaim kebenaran tunggal. Yang ada hanyalah keberanian untuk membuka ruang tafsir.
Angkringan Jamur, dengan lampu-lampu sederhana yang mulai dinyalakan menjelang magrib, berubah menjadi metafora. Ia mengajarkan bahwa ruang perjumpaan intelektual tidak selalu lahir dari kemapanan. Justru dari kesederhanaanlah sering muncul percakapan yang paling jujur. Di sana, sejarah tidak diposisikan sebagai menara gading, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya melihat bagaimana para peserta saling bertukar cerita tentang tradisi, konflik sosial, dan harapan masa depan. Semua itu menjadi fragmen-fragmen kecil yang membentuk mozaik kesadaran kolektif.
Dalam perjalanan pulang, saya merenungkan bahwa mungkin selama ini kita terlalu sering memisahkan disiplin ilmu secara kaku. Sejarah seolah hanya milik sejarawan. Sastra hanya milik penulis. Aktivisme sosial hanya milik pegiat komunitas. Padahal kenyataannya, kehidupan manusia tidak pernah terfragmentasi sedemikian rupa. Acara buka bersama ini menunjukkan bahwa dialog lintas disiplin justru membuka kemungkinan pemahaman yang lebih utuh. Ia menghadirkan perspektif alternatif tentang bagaimana kita bisa membaca realitas.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah kita selama ini terlalu sibuk mengejar kemajuan hingga lupa merawat ingatan? Apakah modernitas yang kita banggakan sebenarnya menyimpan risiko kehilangan arah? Ataukah justru dalam perjumpaan-perjumpaan kecil seperti inilah kita menemukan kembali kompas kemanusiaan? Pertanyaan-pertanyaan ini terus bergema, seperti gema azan magrib yang sore itu menandai berakhirnya puasa sekaligus membuka ruang kontemplasi.
Mungkin hakikat sejarah bukanlah sekadar merekam apa yang telah terjadi, tetapi menyalakan kesadaran tentang apa yang mungkin terjadi. Mungkin pula makna kebersamaan tidak terletak pada keseragaman gagasan, melainkan pada keberanian untuk saling mendengarkan. Dan mungkin, dalam dunia yang semakin bising oleh opini, kita justru membutuhkan lebih banyak ruang sunyi seperti meja angkringan itu, tempat manusia dapat kembali berbicara sebagai manusia.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa buka bersama HvM sore itu bukan hanya peristiwa sosial. Ia adalah pengalaman eksistensial. Ia mengajarkan bahwa sejarah dapat hadir dalam bentuk yang paling sederhana, namun meninggalkan jejak pemikiran yang mendalam. Ia mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari percakapan kecil. Dan ia menantang kita semua untuk bertanya: sejauh mana kita telah benar-benar memahami masa lalu kita sendiri, sebelum berani merancang masa depan. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




