Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Beredarnya pengumuman hasil Tes kemampuan akademik (TKA) SMA pada akhir Desember 2025 lalu menjadi trending topic di kalangan masyarakat, termasuk para pengamat atau pemerhati pendidikan, khususnya di Aceh.
Sebab isu ini bagi seorang yang concern dengan pendidikan, biasanya ia akan sangat suka mengikuti dan mengamati semua isu yang berkembang dalam dunia pendidikan. Maka, ia sering dijuluki sebagai pengamat atau pemerhati pendidikan. Ia juga cenderung mengkritisi kebijakan-kebijakan di bidang pendidikan, termasuk juga tentang prestasi pendidikan dan lainnya terkait pendidikan.
Belakangan ini, isu yang santer dibicarakan oleh pengamat atau pemerhati pendidikan di Aceh adalah soal hasil TKA yang kembali membuat daerah Aceh harus mengurut dada lagi. Para pengamat atau pemerhati pendidikan pun ikut berduka atau baper ketika mendengar isu klasik di tanah rencong, terkait dunia pendidikan. Rasa sedih dan prihatin ketika membaca pengumuman tentang hasil Test Kemampuan Akademik Siswa SMA yang diselenggarakan tahun 2025.
Entah mengapa ia harus sedih, padahal ia bukan pejabat di Dinas Pendidikan Aceh, bukan pula sedang menduduki kursi empuk kepala Dinas Pendidikan. Namun, rasa sedih mendalam itu banyak di antara mereka tak mampu menahan diri, dan selalu ingin memberikan komentar atau penilaian dan menganalisis apa yang membuat kondisi buruk ini kembali mendera Aceh.
Ya, mungkin karena ia pemerhati atau pengamat pendidikan, wajar saja ia sedih atau berduka. Kan tidak ada yang melarang ia sedih, kecuali kalau ia melakukan kritik pedas, karena mencongkel kenyamanan pejabat, baru tersinggung. Yang harus Baper atau bersedih, bahkan merasa malu itu adalah kepala Dinas Pendidkan Provinsi Aceh dan jajarannya hingga ke level kepala sekolah dan guru, karena mereka belum berhasil menyiapkan peserta didik mampu mengikuti dan lulus tes dengan hasil baik, tapi ya, begitulah.
Namun, tak masalah kalau sang pengamat atau pemerhati pendidikan ikut sedih dan prihatin. Dengan terlibatnya kesedihan dan keprihatinannya, ia akan berusaha memberikan hasil kajiannya sebagai pemerhati dan bisa memberikan kritik dan saran atau masukan kepada pihak penyelenggara pendidikan di Dinas Pendidikan yang mengemban tanggung jawab itu.
Sebenarnya, rasa prihatin itu, juga tidak hanya hadir di perasaan hati seorang pengamat atau pemerhati pendidikan, tetapi juga menjadi keprihatinan banyak pihak. Ikatan Guru Indonesia ( IGI) Aceh misalnya, menjadikan isu ini sebagai topik diskusi bersama anggotanya di hotel Permata Hati, jalan Rel Kereta Api, Belakang kantor Serambi Indonesia pada hari Minggu, 8 Maret 2026.
Ya, jelas bukan hanya pengamat atau pemerhati pendidikan, organisasi guru saja yang prihatin, tetapi menjadi keprihatinan semua pihak, termasuk orangtua dan mungkin juga siswa sendiri sebagai peserta uji atau tes kemampuan akademik itu. Pertanyaan, mengapa Aceh kembali menduduki posisi kunci? Apa tidak malu menempati posisi itu selalu?
Bila ditanya apakah para pengelola pendidikan di Aceh tidak merasa malu?
Sebagai orang yang punya rasa malu, pasti mereka malulah dengan hasil yang rendah ini. Apalagi ketika membaca lagi sebuah fakta hasil TKA, hasil itu menyakitkan.
Dikatakan demikian karena hal yang sama dihadapi lagi oleh dunia pendidikan di Aceh, khususnya pada jenjang SMA/SMK yang berada di bawah manajemen Dinas Pendidikan Provinsi Aceh yang jumlah sekolahnya hanya sekitar 800 an sekolah itu, bukan menangani semua jenjang dan jenis pendidikan. Tapi mengapa ya, seperti nasib keledai?
Mungkin ini jugalah yang membuat pengamat atau pemerhati pendidikan ikut Baper dan jengah.Bayangkan saja, sudah berapa kali tampuk pimpinan/ kepala Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh berganti dan digantikan, masalah kualitas pendidikan jenjang sekolah Menengah Atas (SMA/SMK). Masalahnya tidak move on, hanya itu dan itu saja. Padahal, kalau bicara soal anggaran pendidikan, Dinas ini sangat basah, tapi mengapa selalu menghadirkan perilaku keledai dalam mengatasi masalah pendidikan?
Nasib hasil tes kemampuan akademik (TKA) siswa Aceh yang telah diumumkan oleh Kemendikdasmen pada minggu ketiga Desember 2025 ini, sebenarnya adalah bentuk kegagalan pendidikan level SMA di Ace yang selalu berhadapan dengan belum berhasil mengantarkan lulusan ke puncak bahagia.
Sayangnya, kegagalan-kegagalan masa lalu, tidak pernah menjadi pelajaran dan pelecut untuk berubah. Dulu pengelola pendidikan di Aceh pernah ribut dan perang dingin dengan para pengamat atau pemerhati pendidikan. Ingat ketika angka kelulusan masuk perguruan tinggi atau ketika Aceh menempati posisi papan bawah dalam pertarungan ujian nasional yang begitu menghebohkan saat itu?
Bagaiamana , kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh kebakaran jenggot, merespon kegagalan itu dan mengambil langkah yang menurut mereka strategis. Kini, kasus yang nyaris sama berulang dengan jargon yang berbeda berupa hasil TKA tahun ini tega membuat malu daerah ini.
Langkah responsif itu misalnya melakukan koordinasi dengan kepala-kepala sekolah dan berusaha mencari faktor kegagalan. Namun, hasil pertemuan koordinasi itu juga tidak dapat menemukan akar masalah yang harus diselesaikan. Temuan mereka umumnya masih pada tataran faktor eksternal dan belum menusuk akar masalahnya.
Dinas Pendidikan Aceh beserta jajarannya hanya mampu mengidentifikasi masalah yang muncul di permukaan atau di puncak gunung es. Sehingga mereka gagal lagi dan mengulangi kegagalan dalam mengatasi masalah. Karena tidak tahu apa akar masalah.
Jadi wajar saja, kalau kesalahan berulang, seperti keledai. Lihat saja fakta mengenaskan yang ditunjukkan dari hasil TKA. Ya, dari 38 provinsi ditambah satu sekolah Indonesia yang dinilai TKA-nya, Provinsi Aceh bercokol di peringkat 31 dengan skor nilai bahasa Indonesia 50,56, matematika 34,39, dan bahasa Inggris 22,74.
Sekali lagi pantas saja banyak pengamat/ pemerhati pendidikan menjadi baper melihat hasil TKA yang secara nasional memang tidak membuat hati lega, apalagi melihat hasil Aceh, terutama untuk mapel TKA wajib (matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris). Memalukan kah?
Harusnya malu, tapi apakah masih ada rasa malu. Jangan-jangan urat malu sudah putus. Tentu bisa jadi tidak, karena masih banyak alasan yang bisa diberikan. Misalnya, karena pengaruh gadget atau HP, sehingga tindakan yang diambil adalah dengan melarang siswa membawa HP atau gadget ke kelas. Namun, apakah itu solusi atas kegagalan membangun kualitas pendidikan di Aceh?
Harusnya memang malu. Sebab malunya Aceh karena Aceh berada di bawah Maluku yang bertengger di peringkat 30 dengan skor bahasa Indonesia 50,15, matermatika 34,67, dan bahasa Inggris 22,58. Bisa jadi di bawah Aceh masih ada yang lebih rendah yakni Sulawesi Utara (peringkat 32), Maluku Utara (33), Sulawesi Tengah (34), Papua Selatan (35), Papua Barat Daya (36), Gorontalo (37), Sulawesi Barat (38), dan NTT (39). Namun, posisi Aceh sesungguhnya masuk pada posisi sakit. Posisi seperti ini tentu bukan hanya sekarang. Posisi ini adalah posisi juara bertahan sejak dahulu hingga sekarang.
Lalu, apakah dengan rendahnya hasil TKA siswa provinsi Aceh ini bisa dijadikan bunyi alarm nyaring yang sebenarnya membongkar lagi kelemahan pengelolaan pendidikan di Provinsi Aceh ini?
Agaknya pemerintah Aceh harus lebih responsif melihat masalah ini. Pemerintah Aceh tidak boleh gegabah dan asal tunjuk kepala Dinas Pendidikan yang tidak paham akar masalah pendidikan di Aceh, termasuk Dinas Pendidikan Aceh. pemerintah Aceh juga menjauhkan pembangunan pendidikan Aceh dari kepentingan politik penguasa. Bila dunia pendidikan diseret ke pusaran politik, maka upaya peningkatan kualitas pendidikan hanyalah sebuah utopia.
Harusnya pemerintah Aceh juga malu, karena rendahnya kemampuan akademik para siswa SMA/SMK yang berada di bawah payung Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Hal ini telah menjadi perbincangan banyak pihak di berbagai tempat, di warung-warung kopi, di podcast televisi dan di media sosial.
Apa yang kita saksikan selama ini mengenai pendidikan di Aceh yang ditunjukkan oleh hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 itu tetap saja memperlihatkan kita akan pola lama yakni, respond panik, solusi instan, tanpa menyentuh akar masalah. Strategi “pemadam kebakaran” ini hanya fokus pada nilai ujian akhir, bukan pada proses pembelajaran jangka panjang. Pendekatan dan tindakan yang ditempuh hanya untuk menyelesaikan apa yang ada di permukaan, tidak menyentuh akar masalah. Alhasil pendidikan di Aceh terperosok di jurang yang sama.
Oleh sebab itu bila kita mau melihat lebih dalam kita harus menemukan akar masalah dari kegagalan itu. Apa akar masalahnya? Tentu tidak dapat dimungkiri bahwa rendahnya kemampuan literasi siswa yang tidak mampu mencari solusi tepat dalam ajang test, sebagai akibat dari kurang terbiasa membaca, memahami teks, dan mengkritisi informasi. Itu akar pertama. Akar kedua saat ini para siswa dihadapkan pada lemahnya kemampuan numerasi. Akibatnya parasol siswa mengalami kesulitan dalam logika matematika, pemecahan masalah, dan penerapan konsep. Ketiga, adalah kurangnya penguasaan sains: minim praktik, eksperimen, dan keterkaitan dengan kehidupan nyata.
Ketiga akar masalah ini menjadi semakin buruk karena para siswa kita saat ini hidup dalam budaya belajar yang dangkal. Konon disebabkan oleh pilihan yang lebih menekankan hafalan daripada pemahaman dan analisis.
Sayangnya ketiga akar masalah ini tidak menjadi concern dari pemerintah Aceh dan Dinas Pendidikan di level provinsi yang cenderung responsif terhadap masalah insidentil dengan penanganan yang juga tidak mengakar, sehingga terus menuai kegagalan dalam meningkatkan kualitas lulusan SMA/SMK di Aceh.
Nah, bila kita mau belajar pada kesuksesan Finlandia yang bertengger di papan atas dalam kemampuan literasi dan numerasi, serta sains yang tinggi. Pihak Finlandia telah buka kartu bahwa apa yang membuat Finlandi berada di barisan papan atas, karena seperti ditulis oleh Duta Besar Finlandia di Kompas beberapa waktu lalu, karena mereka sudah siap dan tidak ada lagi masalah terkait dengan kemampuan literasi, numerasi dan sains bagi anak usia 15 tahun.
Sementara kita di Aceh dan Indonesia umumnya, para siswa kita masih berlepotan dengan minat membaca yang layu sebelum berkembang. Para siswa kita bahkan kini banyak yang mengalami pembusukan otak ( brain rot), sehingga hilang kemampuan kognitif, memupus kemampuan afektif dan psikomotorik. Jadi wajarlah kalau berhadapan dengan kegagalan.
Jadi kalau ingin tidak terperosok ke jurang yang sama lagi, seperti keledai, pemerintah Aceh lewat Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus dengan cara lebih serius membangun fondasi literasi, numerasi dan sains di kalangan siswa dan guru. Dinas pendidikan harus menghidupkan kembali minat siswa membaca. Kegiatan membaca harus menjadi basis’ pembelajaran yang dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan. Kuncinya, bangun kemampuan literasi, numerasi dan sains sejak dini. Bukankah hasil analisis dari rendahnya kualitas lulusan SMA/SMK yang dijadikan sebagai objek TKA adalah tiga hal tersebut?
Ke dua, untuk mendorong tumbuhnya minat membaca harus mengaktifkan perpustakaan sekolah dengan menyediakan bacaan yang menarik dan diisi dengan kegiatan membaca bersama atau dengan cara-cara lain yang menarik dan menyenangkan. Juga harus diwarnai dengan kegiatan atau peingakatan kemampuan numerasi berbasis permainan dan kehidupan sehari-hari.
Di samping itu, pola peningkatan kualitas guru juga harus dibenahi dengan beradaptasi pada kemajuan teknologi serta harus diikuti dengan perubahan paradigma pembelajaran• Dari “mengejar nilai ujian” atau angka menjadi “menguasai kompetensi”.
Jangan hilang ide, sekolah harus mampu mengisi perpustakaan dengan kegiatan-kegiatan membaca dan diskusi yang bergizi, jangan hanya mengisi perut dengan program makan bergizi gratis yang tak ada relevansinya dengan peningkatan hasil TKA.
Lebih penting lagi Dinas Pendidikan Aceh harus dengan serius melatih guru untuk mengembangkan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning). Hal ini bisa disinkronkan dengan kurikulum lokal yang relevan dengan konteks Aceh agar siswa merasa dekat dengan materi.
Jadi, selain menumbuhkan kembali minat membaca siswa dan guru, penguatan kapasitas guru, pelatihan berkelanjutan tentang literasi, numerasi, dan pedagogi kreatif harus dilakukan dengan baik dan terukur. Untuk mewujudkan lahirnya guru yang kompeten, maka perlu pula dibangun sistem mentoring antar guru berprestasi dengan guru lain.
Semua hal ini perlu dilakukan evaluasi berkelanjutan, bukan hanya ujian akhir. Penilaian formatif (harian, mingguan) untuk melihat perkembangan. Sementara, ujian akhir hanya salah satu indikator, bukan satu-satunya ukuran mutu.
Cara-cara yang dipaparkan di atas merupakan pilihan yang tepat, karena cara ini adalah cara untuk mengatasi akar masalah, yang fokus pada literasi, numerasi, dan sains, bukan sekadar nilai ujian. Kedua, cara ini juga merupakan cara yang berkelanjutan untuk membangun budaya belajar yang kuat, bukan solusi sesaat. Ketiga, cara ini juga cara yang memberdayakan siswa: mereka belajar berpikir kritis, bukan hanya menghafal. Dengan cara ini, diyakini dapat meningkatkan daya saing. siswa Aceh bisa bersaing secara nasional dan global.
Oleh sebab itu, mengelola pendidikan Aceh tidak boleh menggunakan cara-cara pengelolaan pendidikan ala keledai. Mari kita berfikir. Karena peningkatan kualitas pendidikan Aceh tidak bisa dilakukan dengan kepanikan sesaat. Ia membutuhkan strategi jangka panjang, berbasis literasi, numerasi, sains, dan budaya belajar yang sehat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










