Oleh Dayan Abdurrahman
Di Aceh, ada satu pepatah lama yang sering diucapkan orang tua kepada anak-anaknya: “dunia hana tetap, laot kadang pasang kadang surut.” Dunia tidak pernah benar-benar tetap; seperti laut yang kadang naik dan kadang turun. Pepatah sederhana ini sesungguhnya mencerminkan hukum besar dalam sejarah manusia: tidak ada kekuatan yang abadi.
Imperium datang dan pergi. Kekuasaan berpindah tangan. Yang hari ini berada di puncak bisa saja esok mulai menurun. Sejarah pernah menyaksikan kekuatan Romawi, Persia, Ottoman, hingga berbagai kekuatan Eropa yang silih berganti memimpin dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, dunia berada dalam fase dominasi Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka bukan hanya memiliki kekuatan militer yang besar, tetapi juga menguasai sistem keuangan global, teknologi, jaringan informasi, hingga standar politik internasional.
Namun sebagaimana gelombang laut di Selat Malaka yang tidak pernah diam, tatanan global pun tidak benar-benar statis. Di bawah permukaan, perubahan perlahan sedang terjadi.
Hegemoni Barat dan Sikap Dunia
Harus diakui bahwa banyak kemajuan dunia modern lahir dari Barat: inovasi teknologi, sistem pendidikan modern, serta berbagai institusi internasional yang membantu menjaga stabilitas global. Tetapi seperti kata pepatah Aceh lain, “peu na kuasa kadang peugah lam hatee.” Ketika kekuasaan terlalu lama berada di satu tangan, sering kali muncul rasa percaya diri yang berlebihan—bahkan kadang berubah menjadi sikap pongah.
Sebagian kebijakan geopolitik Barat dalam beberapa dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan tersebut. Intervensi militer, tekanan ekonomi, serta sanksi internasional sering kali menjadi instrumen politik yang digunakan untuk memastikan bahwa sistem global tetap berada dalam orbit mereka.
Kasus di Timur Tengah menjadi contoh yang sering diperdebatkan. Dukungan kuat terhadap Israel, misalnya, oleh banyak negara dipandang sebagai bentuk standar ganda dalam politik internasional. Sementara konflik di berbagai kawasan lain sering diselesaikan melalui diplomasi, beberapa konflik di Timur Tengah justru dibiarkan berlarut-larut dengan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Namun melihat realitas ini tidak berarti kita harus terjebak pada sikap anti-Barat yang emosional. Dunia terlalu kompleks untuk dibagi secara sederhana menjadi “Timur melawan Barat.” Bahkan di dalam Barat sendiri terdapat banyak negara yang mengambil posisi lebih bijaksana dan moderat dalam melihat konflik global.
Negara-Negara yang Mencari Jalan Tengah
Di tengah ketegangan geopolitik global, beberapa negara mencoba memainkan peran yang lebih seimbang. Turki, misalnya, sering berusaha menempatkan dirinya sebagai jembatan antara dunia Barat dan Timur. Negara ini adalah anggota NATO, tetapi juga aktif menjalin hubungan dengan negara-negara di Asia dan Timur Tengah.
Beberapa negara Eropa juga mulai menunjukkan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap konflik global. Mereka menyadari bahwa stabilitas dunia tidak selalu bisa dicapai melalui tekanan militer atau ekonomi semata.
Di sisi lain, sebagian negara Arab menghadapi dilema yang tidak sederhana. Banyak di antara mereka memiliki hubungan ekonomi dan keamanan yang sangat erat dengan Barat. Hubungan ini membawa manfaat ekonomi, tetapi pada saat yang sama sering membuat ruang kemandirian politik mereka menjadi terbatas. Dalam beberapa kasus, negara-negara tersebut terlihat lebih sebagai mitra strategis dalam sistem global yang sudah ada, daripada sebagai aktor yang benar-benar menentukan arah politik regionalnya sendiri.
Iran dan Politik Kemandirian
Di tengah konfigurasi tersebut, Iran menempuh jalan yang berbeda. Sejak revolusi politik pada akhir abad ke-20, negara ini memilih jalur yang relatif mandiri dalam menghadapi sistem global yang didominasi Barat.
Pilihan ini membawa konsekuensi yang tidak ringan: sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, serta isolasi internasional dalam berbagai bentuk. Namun di sisi lain, tekanan tersebut juga mendorong Iran untuk mengembangkan kemampuan domestik dalam berbagai bidang—mulai dari industri pertahanan hingga teknologi.
Apakah model ini sempurna? Tentu tidak. Tidak ada negara yang bebas dari persoalan internal. Namun pengalaman Iran menunjukkan satu hal penting dalam geopolitik: ketika sebuah negara berusaha membangun kemandirian struktural, ia hampir pasti akan berhadapan dengan sistem global yang sudah mapan.
Pergeseran yang Perlahan Terjadi
Dunia hari ini mungkin sedang memasuki fase yang oleh banyak pengamat disebut sebagai pergeseran menuju sistem multipolar. Artinya, kekuatan global tidak lagi sepenuhnya terpusat pada satu blok, tetapi mulai tersebar pada beberapa pusat kekuatan baru.
Perkembangan ekonomi Asia, kebangkitan teknologi di berbagai negara Timur, serta semakin kuatnya kerja sama regional menunjukkan bahwa dunia sedang mencari keseimbangan baru.
Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia berlangsung perlahan—seperti perubahan arah angin yang awalnya hampir tidak terasa, tetapi lama-lama mempengaruhi seluruh perjalanan kapal.
Pandangan dari Serambi Mekkah
Bagi masyarakat Aceh, perubahan dunia bukanlah hal yang asing. Wilayah ini sejak berabad-abad lalu telah menjadi simpul pertemuan berbagai peradaban: pedagang Arab, ulama dari India, pedagang Tiongkok, hingga pelaut Eropa pernah singgah di sini.
Sejarah tersebut memberikan satu pelajaran penting: dunia selalu bergerak. Tidak ada peradaban yang selamanya berada di atas, dan tidak ada pula bangsa yang selamanya tertinggal.
Dari sudut pandang ini, perubahan tatanan global seharusnya tidak dilihat sebagai ajang permusuhan antarperadaban, melainkan sebagai proses pendewasaan sejarah manusia.
Indonesia dan Jalan Non-Blok
Di tengah dinamika tersebut, Indonesia memiliki posisi yang unik. Sejak masa awal kemerdekaan, Indonesia dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan non-blok—sebuah prinsip diplomasi yang menolak untuk terjebak dalam rivalitas kekuatan besar dunia.
Prinsip ini masih relevan hingga hari ini. Indonesia memiliki hubungan baik dengan negara-negara Barat sekaligus menjalin kerja sama dengan berbagai negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Namun harus diakui bahwa posisi strategis ini juga menghadapi tantangan. Persoalan domestik—mulai dari ketimpangan ekonomi hingga dinamika politik internal—sering kali membuat Indonesia harus berhitung dengan sangat hati-hati dalam mengambil peran di panggung global.
Dalam konteks konflik antara Iran dan Barat, misalnya, Indonesia memiliki potensi moral untuk menjadi penengah. Tetapi pada saat yang sama, pemerintah juga harus mempertimbangkan berbagai faktor strategis agar langkah diplomasi tersebut tidak justru menimbulkan risiko baru bagi kepentingan nasional.
Ramadan dan Refleksi Peradaban
Momentum Ramadan memberikan ruang refleksi yang lebih dalam terhadap semua dinamika ini. Ramadan mengajarkan kesabaran, keseimbangan, serta kemampuan untuk menahan diri dari sikap berlebihan.
Dalam geopolitik, nilai-nilai tersebut sangat relevan. Dunia tidak membutuhkan euforia kemenangan satu pihak atas pihak lain. Yang lebih dibutuhkan adalah kebijaksanaan untuk membangun sistem global yang lebih adil dan seimbang.
Menuju Kedewasaan Tatanan Global
Jika ada pelajaran besar dari sejarah imperium dunia, maka pelajaran itu adalah kerendahan hati. Kekuatan yang terlalu percaya diri sering kali lupa bahwa waktu pada akhirnya akan menguji setiap kekuasaan.
Barat, Timur, dunia Islam, maupun negara-negara berkembang semuanya memiliki tanggung jawab yang sama: membangun tatanan global yang tidak didasarkan pada dominasi, tetapi pada keseimbangan.
Jalan Solutif
Bagi Indonesia—dan bagi masyarakat Aceh yang menjadi bagian penting dari republik ini—perubahan tatanan global seharusnya dilihat sebagai peluang untuk memperkuat diri.
Pertama, memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengembangan industri nasional dan inovasi teknologi.
Kedua, memperdalam kualitas pendidikan agar generasi muda mampu bersaing dalam dunia yang semakin kompleks.
Ketiga, memperkuat diplomasi damai yang menjadi ciri khas Indonesia sejak era non-blok.
Keempat, menjaga stabilitas sosial dan politik domestik sebagai fondasi utama bagi peran global yang lebih besar.
Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan konsisten, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi penonton dalam perubahan dunia, tetapi juga dapat berkontribusi sebagai kekuatan penyeimbang yang bijaksana.
Seperti laut yang mengelilingi Aceh, sejarah dunia akan terus bergerak. Pasang akan datang, surut pun akan tiba. Yang terpenting bukan siapa yang selalu berada di puncak, tetapi siapa yang mampu menjaga kebijaksanaan ketika gelombang perubahan itu datang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini














