• Latest
Kabut, Kata, dan Keberanian Dwi Aji Prajoko dalam Memelihara Nurani

Kabut, Kata, dan Keberanian Dwi Aji Prajoko dalam Memelihara Nurani

Maret 8, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kabut, Kata, dan Keberanian Dwi Aji Prajoko dalam Memelihara Nurani

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
Maret 8, 2026
in # Bedah Puisi, # Book Opinion, Bedah buku, Jawa Timur
Reading Time: 4 mins read
0
Kabut, Kata, dan Keberanian Dwi Aji Prajoko dalam Memelihara Nurani
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Pada malam Jumat, 6 Maret 2026, selepas solat tarawih, sebuah guest house bernama Omahkoe di Kota Madiun berubah menjadi ruang percakapan kebudayaan. Di sana berlangsung bedah buku antologi puisi Berteman Kabut Pagi karya Dwi Aji Prajoko, acara ini terselenggara hasil kerja sama Kosamara (Komunitas Sastra Madiun Raya), Jaringan Kebudayaan Madiun, Komunitas Rusa Terbang, Negeri Kertas, dan Omahkoe Guest House.

Saya hadir sebagai pembahas, dengan Dwi Handayani sebagai moderator, sementara sejumlah tokoh budaya, akademisi, seniman, hingga pelajar turut meramaikan diskusi: Agnes Adhani, Apoung Purwanto, Aris P., Aris Wuryanto, Asti Musman, Bayu Sanjaya dari Dewan Kesenian Kota Madiun, Kartika Rahayu, Lukas Nandamai, Rindu Anggun Pratiwi, Titus Tri Wibowo, hingga Yakobus Wasit. Namun lebih dari sekadar acara sastra, pertemuan itu terasa seperti upaya kecil menyingkap kabut zaman yang kian menebal.

Sastra sering dianggap sebagai kegiatan sunyi yang terpisah dari realitas sosial. Tetapi malam itu justru membuktikan sebaliknya. Diskusi puisi menjelma percakapan tentang bangsa, sejarah, dan masa depan. Filsuf Friedrich Nietzsche pernah berkata, “kita memiliki seni agar tidak mati oleh kebenaran.” Kalimat ini terasa relevan ketika membaca puisi-puisi Dwi Aji Prajoko yang ditulis antara 2021 hingga 2023. Puisi-puisinya tidak sekadar menjadi pelarian estetis dari realitas, melainkan cara lain menghadapi kenyataan yang kompleks: realitas bangsa yang bergerak di antara kebebasan demokrasi, polarisasi wacana, dan banjir informasi yang sering kali lebih gaduh daripada bermakna.

Dalam perbincangan itu, Dwi Aji Prajoko sendiri menyampaikan satu refleksi sederhana, namun penting. Ia mengatakan bahwa puisi baginya bukanlah upaya untuk menjadi benar di hadapan orang lain, melainkan usaha merawat kejernihan batin. “Saya menulis puisi agar tidak kehilangan rasa percaya pada manusia. Kata-kata mungkin kecil, tetapi ia bisa menjadi lentera yang menuntun kita keluar dari kabut,” ujarnya dengan nada tenang.

Puisi pembuka dalam antologi ini, Berteman Kabut Pagi, menghadirkan metafora yang unik: kabut sebagai sahabat. Dalam banyak tradisi simbolik, kabut sering diartikan sebagai kebingungan atau ketidakpastian.

Namun di tangan Dwi Aji, kabut justru menjadi ruang dialog antara manusia dan dirinya sendiri. Aku-lirik dijemput kabut, seolah sahabat lama yang datang kembali. Di sini, puisi tidak berusaha mengusir ketidakpastian, melainkan memeluknya sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Pandangan ini mengingatkan pada gagasan filsuf Martin Heidegger yang pernah menulis bahwa manusia adalah makhluk yang selalu berada dalam “jalan menuju pemahaman.” Kita tidak pernah sepenuhnya tiba pada kepastian; kita hanya terus berjalan menuju makna. Dalam konteks itu, kabut dalam puisi Dwi Aji dapat dibaca sebagai metafora situasi bangsa: kita bergerak maju, tetapi jarak pandang terbatas. Justru karena keterbatasan itulah, kesadaran batin menjadi kompas yang penting.

Puisi berikutnya, Kredo Anti Gento, bergerak dari nada kontemplatif menuju deklarasi etis. Kata “kredo” menandakan keyakinan moral, sebuah pernyataan iman terhadap kebangsaan dan kemanusiaan. Dwi Aji meramu citraan alam dengan idiom sosial-politik: gunung, hujan, bugenvil, kantil, hingga naga dan domba. Namun di balik metafora itu tersimpan kritik halus terhadap krisis integritas publik.

Filsuf Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam kehidupan politik bukanlah kejahatan besar yang dramatis, melainkan banalitas ketidakpedulian. Dalam banyak masyarakat modern, kerusakan moral sering muncul bukan karena orang ingin berbuat jahat, tetapi karena mereka berhenti berpikir secara kritis. Puisi Kredo Anti Gento tampak seperti ajakan untuk menolak banalitas semacam itu. Ia tidak menyerukan revolusi, tetapi mengajak manusia menjaga keberanian moral dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika puisi Di Taman Ismail Marzuki Jakarta dibahas, diskusi malam itu bergeser pada memori kebudayaan Indonesia. Nama-nama seperti W.S. Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet Abdul Sjukur, Sutardji Calzoum Bachri, Teguh Karya, hingga Christine Hakim muncul sebagai jejak pergulatan estetika bangsa. Puisi ini mengingatkan bahwa kebudayaan Indonesia lahir dari keberanian melawan kemapanan.

Albert Camus pernah menulis, “tugas seorang seniman bukanlah berpihak pada kekuasaan, melainkan menjaga agar manusia tidak kehilangan martabatnya.” Kalimat itu terasa hidup dalam puisi Dwi Aji yang menampilkan Taman Ismail Marzuki sebagai ruang dialektika. Seni bukan sekadar hiburan; ia adalah tempat gagasan saling beradu untuk melahirkan kemungkinan baru.

Baca Juga

ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026

Menariknya, diskusi malam itu tidak berhenti pada estetika puisi. Moderator acara, Dwi Handayani, memberikan refleksi yang menyentuh realitas kota Madiun. Ia mengatakan bahwa pertemuan ini lahir dari kegelisahan para pegiat literasi dan seni yang sering kali menemui jalan buntu ketika mencoba mengetuk pintu kebijakan kebudayaan. “Bedah buku ini adalah cara kami merawat semangat. Ketika komunitas mulai membuka diri satu sama lain, langkah berikutnya bisa jauh lebih dahsyat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa karya Dwi Aji Prajoko yang memotret pengalaman personal sebenarnya bisa dibaca lebih luas sebagai refleksi kondisi kota. Sastra, katanya, selalu terbuka untuk berbagai tafsir. Setelah karya dilempar kepada pembaca, maknanya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penciptanya.

Puncak dialog lintas generasi dalam antologi ini muncul pada puisi Kepada Chairil Anwar. Dwi Aji berbicara langsung kepada ikon Angkatan ’45 tersebut, tetapi bukan sekadar memuja. Ia mengontekstualisasikan semangat Chairil dalam zaman yang sering disebut sebagai era pasca-kebenaran. Di masa ketika opini emosional sering mengalahkan fakta, keberanian kata menjadi semakin penting.

Di sinilah puisi menemukan relevansi barunya. Ia bukan sekadar bahasa keindahan, melainkan ruang perlawanan terhadap manipulasi makna. Seperti pernah dikatakan penyair Octavio Paz, “puisi adalah pengetahuan, penyelamatan, dan kekuatan.” Ia menyelamatkan manusia dari lupa, dari propaganda, dari kesunyian makna.

Puisi terakhir dalam antologi ini, Orang Bilang, tampak sederhana tetapi justru menyentuh persoalan yang sangat kontemporer: budaya menghakimi. Dalam dunia media sosial, manusia sering tergoda memberi label cepat terhadap orang lain. Puisi ini menawarkan sikap berbeda: empati dan pembelaan.

Dalam diskusi malam itu, saya menyimpulkan bahwa keseluruhan puisi Dwi Aji Prajoko membentuk sebuah arsitektur kesadaran. Ia bergerak dari kontemplasi personal menuju refleksi kebangsaan, dari ingatan kultural menuju dialog historis, lalu berakhir pada pembelaan terhadap martabat manusia. Puisi-puisi ini tidak menawarkan jawaban final, tetapi membuka ruang pertanyaan.

ADVERTISEMENT

Mungkin itulah fungsi sastra yang paling mendalam. Ia tidak selalu memberi solusi, tetapi membantu manusia mengajukan pertanyaan yang lebih jujur. Ketika kita hidup di zaman yang dipenuhi kebisingan informasi, mungkin justru pertanyaanlah yang dapat menyelamatkan kita.

Pertanyaannya kemudian sederhana namun mendasar. Di tengah kabut zaman yang semakin tebal, apakah kita masih berani berhenti sejenak untuk mendengarkan kata-kata yang lahir dari keheningan? Ataukah kita justru memilih berjalan terus tanpa arah, membiarkan diri tersesat dalam riuhnya suara dunia. (*) 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Tadarus - At-Taubah Ayat 103

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com