• Latest

Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8

Maret 4, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8

Redaksi by Redaksi
Maret 4, 2026
in Islam
Reading Time: 3 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Ada satu jenis keadilan yang mudah: keadilan kepada mereka yang kita cintai. Dan ada satu jenis keadilan yang hampir mustahil: keadilan kepada mereka yang melukai kita.

QS Al-Mā’idah ayat 8 berbicara tentang yang kedua. Ayat ini tidak lahir di ruang hening. Ia turun di Madinah, di tengah ketegangan politik, pengkhianatan, dan perbedaan iman. Namun yang diperintahkan bukan pembalasan, bukan dominasi, bukan kemenangan moral atas lawan. Yang diperintahkan adalah sesuatu yang jauh lebih berat: adil.

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.”

Kalimat ini seperti memindahkan pusat pertempuran dari luar ke dalam. Musuh terbesar bukan lagi kelompok lain — tetapi kecenderungan batin untuk membenarkan diri sendiri.

Dalam tradisi tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari dan Tafsir Ibn Kathir, ayat ini dipahami sebagai perintah universal: keadilan tidak gugur hanya karena relasi sosial rusak. Bahkan terhadap musuh, integritas harus dijaga.

Namun jika kita membacanya lebih dalam, ayat ini tidak hanya berbicara tentang hukum. Ia berbicara tentang kesadaran.

Mengapa Allah menutup ayat ini dengan kalimat: “Adil itu lebih dekat kepada takwa”? Karena keadilan dalam Islam bukan sekadar prosedur legal. Ia adalah disiplin spiritual.

Takwa bukan hanya takut kepada Tuhan. Takwa adalah kemampuan menjaga jarak antara emosi dan keputusan. Antara luka dan vonis. Antara amarah dan kesimpulan.

Filsuf Yunani seperti Plato berbicara tentang keadilan sebagai harmoni jiwa. Filsuf modern seperti John Rawls membayangkan “tirai ketidaktahuan” agar manusia bisa memutuskan secara objektif.

Namun Al-Qur’an melangkah lebih jauh: Ia tidak hanya mengatur sistem. Ia menata hati.

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, Nabi ﷺ menolak membedakan hukum antara bangsawan dan rakyat biasa. Itu bukan hanya tindakan politik; itu adalah konsistensi moral. Sunnah menjadi bukti bahwa ayat ini bukan idealisme utopis — tetapi realitas yang bisa diwujudkan.

Baca Juga

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Maret 19, 2026

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 17, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026

Hari ini, kita hidup dalam ekosistem yang mempercepat kebencian. Algoritma memperkuat preferensi. Identitas menggantikan argumentasi. Opini sering lahir sebelum verifikasi. QS Al-Mā’idah ayat 8 berdiri seperti cermin:

Apakah kita membela kebenaran — atau hanya membela kelompok? Apakah kita mencari keadilan — atau hanya mencari kemenangan?Keadilan sejati sering kali tidak terasa heroik. Ia sunyi. Ia tidak viral. Ia bahkan bisa membuat kita terlihat lemah di hadapan kelompok sendiri. Tetapi justru di sanalah letak takwa.

Episode ini bukan sekadar tafsir ayat. Ia adalah perjalanan batin untuk menimbang ulang cara kita menilai orang lain. Ia adalah pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: Jika musuhmu benar, mampukah engkau mengakuinya? Jika temanmu salah, beranikah engkau mengoreksinya?

Karena mungkin, ukuran kedewasaan iman bukan pada seberapa keras kita membela yang kita cintai —tetapi pada seberapa adil kita terhadap yang kita benci.

Dengarkan episode ini. Dan biarkan satu ayat menguji bukan dunia luar —tetapi dunia di dalam diri kita.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: IslamPodcast
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain
Artikel

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain

Maret 23, 2026
Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam
#Sejarah Islam

Kisah Runtuhnya Dinasti Abbasiyah, Hancurnya Peradaban Islam

Maret 19, 2026
Islam

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 17, 2026
Islam

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
Next Post
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana

Ramadhan dan Warung Kopi, Rutinitas yang Tak Lekang oleh Waktu.

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com