POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan

RedaksiOleh Redaksi
March 2, 2026
Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

“Kita adalah bangsa yang memiliki akar yang kuat; maka mengapa kita harus takut? Kita punya kemampuan yang banyak. Bangsa kita(Iran) juga memiliki kesiapan ilmu pengetahuan dan kekayaan material yang cukup melimpah, di samping latar belakang sejarah dan akar ilmu pengetahuan dan budaya yang panjang. Kita memiliki apa yang lebih penting dari semua itu, Yaitu keimanan, keislaman, dan ketawakalan kepada Allah.” — Imam Ali Khamenei(1939-2026), Latar Belakang Sejarah dan Akar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Iran dalam Perang Kebudayaan(Terjemahan Penerbit Cahaya 2005).

Tak ada yang tahu bagaimana Ayatollah Imam Ali Khamenei ingin mengakhiri hidupnya.

Namun hari naas pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu Iran, mustahil tak menjadi pertimbangan bagi dirinya dalam menghadapi tekanan Amerika dan hasrat Israel untuk menyingkirkannya.

Sebagai seorang mullah dengan karir politik selama tujuh dekade sejak revolusi Islam Iran 1979 dan Imam Ali Khamenei pada 1989 — setelah wafatnya Ayatollah Rohullah Khomeini — naik tampuk kepemimpinan tertinggi Garda Revolusi Islam Iran, lebih dari cukup untuk menguasai dan memahami hakikat kekuasaan yang diembannya.

Lebih dari itu pula, Imam Ali Khamenei telah memahami dinamika kekuasaan lebih dari lima presiden Amerika, Bush, Clinton, Obama, Trump dan Biden sepanjang hayatnya.

Innallaha allimun bi zatis sudur, hanya Allah dan Imam Ali Khamenei yang tahu bagaimana harus mati — betapapun berada di benteng kekuasaan — dalam keadaan husnul khotimah.

Dan takdir itu, meski tak sepenuhnya nyata, akhirnya dikabarkan Ayatollah Imam Ali Khamenei(87) wafat di ruang kerja bersama putrinya, menantu, cucu dan seorang pengawal pribadi setelah serangan Amerika dan Israel kepadanya dan kota Iran, Teheran yang mematikan.

Bagi seorang syahid, mati di jalan Allah telah jadi pilihan dan juga dijamin oleh Al-Qur’an. Dan tentu, itu pedoman bagi para syahid dari sejarah manapun dan kapanpun.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 154 ditegaskan: “Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Lagi-lagi, ayat ini menjadi fondasi spiritual bahwa kematian seorang syahid bukanlah akhir, melainkan kemenangan ilahi yang paling awal dan terang.

Saied Reza Ameli, seorang akademisi Iran berusia 65 tahun, telah menulis biografi sang syahid: Ayatollah Seyed Ali Khamenei: The Life and Legacy of a Wise Leader(IHRC, 2025).

Buku setebal 144 halaman ini bukan sekadar kronologi, melainkan eksplorasi atas filosofi kepemimpinan Khamenei yang berakar pada hikmah ilahi, nilai Qurani, dan pandangan strategis.

Ameli menekankan bagaimana Khamenei membimbing Iran melewati transformasi internal besar sekaligus tekanan eksternal dari kekuatan global.

📚 Artikel Terkait

Kacabdisdik Bireuen Inisiasi Bantuan Sepeda untuk Siswa Miskin, Mukhlis Takabeya Respon Positif

Pararaton Bertopeng

Mengenal Haji Aman, Sang Wakil Rakyat, Duta Nafsu, dan Maharaja Mimpi Buruk

Surat Yasin Terakhir

Ia digambarkan sebagai pemimpin yang menempatkan kebijaksanaan spiritual sebagai landasan keputusan, menjaga stabilitas sosial-politik, menghadapi dominasi Barat, dan meninggalkan warisan intelektual yang membentuk arah kebudayaan Iran hingga detik ini.

Namun untuk memahami dimensi manusiawi sang Imam Syahid Abad 21, kita perlu menengok karya Imam Ali Khamenei sendiri, Perang Kebudayaan(Al-Ghazww Ats-Tsaqâfi: Al-Mugaddimät wa Al-Khalfiyyät At-Târikhiyyah), terbitan Dar Al-Wiläyah, Qum, Ramadhan 1419 H; terjemahan Indonesia, penerbit Cahaya 2005.

Buku ini menghimpun pidato-pidato Khamenei tentang serangan budaya Barat, kolonialisme, dan perang kebudayaan kaum penjajah terhadap dunia Islam.

Ia menegaskan bahwa serangan Amerika di Timur Tengah dan Israel di Palestina bukan sekadar politik, melainkan bagian dari perang kebudayaan global terhadap Islam.

Pada sub bab tiga, Peminggiran Islam secara Sosial Politik dan Menjauhkannya dari Umat Islam, dikutip ia menandaskan:

“Saat kebudayaan tanah air menjadi pilar utama
pertahanan dari sudut kehidupan masyarakat, maka
sesungguhnya ia akan menjadi target pertama. Seandainya musuh bermaksud menyerang benteng yang paling kokoh, maka hal pertama yang dipikirkannya adalah mencapai pilar dari fondasi benteng itu agar dapat merobohkan dinding-dindingnya.”

Dan, “Janganlah dengarkan perkataan musuh-musuh, tapi dengarkan firman Allah Swt”:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”(al-Bagarah: 120).

Akan tetapi, dalam perspektif filsafat budaya Persia, sebagaimana ditelusuri Muhammad Iqbal dalam The Development of Metaphysics in Persia(1908), tradisi Persia selalu menaruh perhatian pada spekulasi metafisik dan keterhubungan antara filsafat dengan agama.

Iqbal menunjukkan bagaimana dari Zoroaster hingga Baháʼí, Persia membentuk kerangka pemikiran metafisik yang luas dan berpengaruh.

Iman Ali Khamenei, sebagai pewaris tradisi itu, menempatkan perang kebudayaan bukan hanya sebagai isu politik, tetapi sebagai pertarungan metafisik antara nilai ilahi dan dominasi materialisme global.

Syahid abad-21 dalam perang kebudayaan berarti mati bukan sekadar sebagai korban politik, melainkan sebagai saksi atas kebenaran iman dalam pusaran sejarah.

Khamenei, dengan segala kontroversi dan pengaruhnya, menjadi simbol bagaimana kepemimpinan spiritual berhadapan dengan kekuatan global.

Ia wafat sebagai syahid yang terus hidup dalam teks Qurani, dalam biografi yang ditulis Ameli, dan dalam pidato-pidatonya yang menegaskan bahwa perang kebudayaan adalah medan jihad umat Islam di era modern.

coversongs:

Lagu “Iran Revolution 2026 – Sogand” dirilis oleh Azad-Music-Iran pada 18 Januari 2026 melalui label independen Records DK dan distribusi DistroKid.

Maknanya dapat dibaca sebagai ekspresi musikal atas gelombang protes dan pergolakan sosial-politik di Iran.

Kata Sogand sendiri berarti “sumpah” dalam bahasa Persia, sehingga lagu ini membawa nuansa janji atau ikrar yang kuat.

Dalam konteks revolusi, sumpah itu bisa dimaknai sebagai komitmen rakyat untuk melawan penindasan, mempertahankan identitas, dan menegaskan solidaritas.

credit foto Ayatullah Imam Ali Khamenei di berbagai platform media, diubah dalam bentuk sketsa oleh AI.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 54x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
145
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Tadarus - Ali ‘Imran ayat 134

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00