Dengarkan Artikel
Oleh : Novita Sari Yahya
Lapangan sekolah masih kosong ketika Arga datang lebih awal. Udara pagi terasa bersih. Matahari baru naik setinggi atap ruang kelas. Ia duduk di bangku panjang dekat lapangan basket. Tasnya diletakkan di samping. Dari kejauhan terdengar suara penjaga sekolah menyapu halaman.
Arga suka datang pagi. Suasana tenang membuat pikirannya tidak terlalu berat. Belakangan ini ia sering merasa lelah tanpa alasan jelas. Bukan lelah fisik, tetapi seperti ada yang terus berjalan di kepalanya.
Di kelas sebelas, semuanya terasa seperti perlombaan. Nilai, organisasi, pertemanan, juga soal hubungan. Banyak teman mulai bercerita tentang pacar. Ada yang bahagia. Ada yang sering menangis. Arga mendengarkan saja. Ia tidak merasa harus ikut.
Baginya, hidup sudah cukup penuh dengan hal yang harus dipahami.
Bel berbunyi. Murid mulai berdatangan. Suara langkah dan tawa memenuhi koridor. Arga masuk kelas dan duduk di bangku dekat jendela. Dari sana ia bisa melihat pohon ketapang yang daunnya bergerak pelan tertiup angin.
Pelajaran pertama adalah sosiologi. Bu Ratri masuk dengan membawa beberapa lembar kertas. Wajahnya tenang seperti biasa.
“Hari ini kita bicara tentang ketahanan,” katanya.
Beberapa siswa tampak bingung. Kata itu terdengar seperti istilah berat. Bu Ratri menulis di papan tulis: Ketahanan Remaja, Ketahanan Bangsa.
“Menurut kalian, apa hubungan hidup remaja dengan masa depan negara?” tanyanya.
Kelas hening. Lalu seorang siswa menjawab, “Karena kami yang nanti jadi orang dewasa.”
Bu Ratri tersenyum. “Betul. Tapi bukan hanya itu. Cara kalian mengambil keputusan hari ini akan membentuk kualitas masyarakat nanti.”
Arga menatap tulisan di papan. Ia tidak pernah memikirkan hidupnya akan berpengaruh pada masyarakat. Ia hanya berusaha melewati hari dengan baik.
Tugas hari itu sederhana. Setiap siswa diminta menulis satu hal yang membuat mereka merasa kuat, dan satu hal yang membuat mereka rentan.
Arga menulis lama. Ia merasa kuat ketika bersama keluarganya. Ia merasa rentan ketika harus memenuhi harapan orang lain.
Saat mengumpulkan kertas, Bu Ratri berkata pelan, “Tidak apa-apa merasa rapuh. Yang penting kita tahu cara merawat diri.”
Kalimat itu terasa ringan, tetapi menetap di pikiran Arga.
Di kantin, suasana ramai seperti biasa. Bau gorengan dan suara obrolan bercampur. Arga duduk bersama sahabatnya, Bima.
“Lo kepikiran apa sih dari tadi?” tanya Bima.
“Bu Ratri bilang keputusan kecil kita bisa ngaruh ke masa depan,” jawab Arga.
Bima tertawa kecil. “Berat amat. Gue cuma mikirin besok latihan futsal.”
Arga ikut tersenyum. Ia suka cara Bima melihat hidup. Sederhana, tetapi tidak sembrono. Bima jarang terlibat masalah. Ia tahu batas. Ia tahu kapan harus berhenti.
Di meja sebelah, dua siswa berdebat soal hubungan mereka. Suara mereka cukup keras. Arga tidak bermaksud mendengar, tetapi kalimat itu sampai juga ke telinga.
“Aku capek harus selalu nurutin kamu.”
Arga menunduk. Ia sadar banyak temannya menjalani hubungan tanpa benar-benar merasa nyaman. Mereka takut kehilangan. Mereka takut sendirian.
Ia bertanya dalam hati, apakah kedewasaan selalu datang dengan kebingungan seperti itu.
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan program pengembangan diri. Bukan seminar panjang, melainkan diskusi kecil di tiap kelas. Topiknya tentang mengenali emosi dan membuat keputusan sehat.
Fasilitatornya seorang psikolog muda. Ia tidak banyak memberi teori. Ia lebih banyak bertanya.
“Kapan terakhir kalian merasa bangga pada diri sendiri?”
Pertanyaan itu membuat banyak siswa terdiam. Tidak mudah mengingat momen ketika kita benar-benar self love dengan diri sendiri.
Arga ingat satu hal. Ia pernah menolak ajakan teman untuk bolos latihan organisasi karena ingin pulang membantu ibunya. Saat itu ia merasa keputusan itu kecil. Sekarang ia sadar itu bentuk menjaga prioritas.
📚 Artikel Terkait
“Bangga bukan berarti sombong,” kata psikolog. “Bangga berarti tahu bahwa kalian berusaha menjaga diri.”
Diskusi berlangsung hangat. Banyak siswa bercerita tentang tekanan yang mereka rasakan. Tentang tuntutan nilai. Tentang perbandingan di media sosial. Tentang rasa takut gagal.
Arga merasa lega. Ternyata banyak yang merasakan hal serupa.
Ia pulang hari itu dengan perasaan lebih santai.
Di rumah, suasana selalu sederhana. Ayahnya bekerja sebagai teknisi. Ibunya membuka warung kecil. Mereka hidup sederhana tetapi selalu ada perhatian dan kasih sayang.
Malam itu, Arga membantu ibunya menutup warung.
“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang,” kata ibunya.
Arga mengangguk. “Di sekolah lagi banyak diskusi soal self love.”
Ibunya tersenyum. “Orang kuat bukan yang tidak pernah jatuh. Tapi yang tahu cara berdiri lagi.”
Arga menyimpan kalimat itu dalam hati. Ia mulai menyadari bahwa ketahanan bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia dibangun dari kebiasaan kecil. Dari cara seseorang berbicara pada dirinya sendiri. Dari pilihan yang mungkin tidak dilihat orang lain.
Di sekolah, perubahan kecil mulai terasa. Program diskusi rutin membuat siswa lebih terbuka. Guru juga lebih sering mengajak dialog, bukan hanya memberi tugas.
Bima semakin serius dengan latihannya. Ia ingin mencoba seleksi tim kota. Arga mendukung penuh. Ia melihat bagaimana disiplin membuat Bima lebih percaya diri.
Suatu sore setelah latihan, mereka duduk di tribun.
“Gue dulu gampang kebawa temen,” kata Bima. “Sekarang gue mikir, kalau gue rusak, mimpi gue juga ikut rusak.”
Arga mengangguk. Ia mengerti maksudnya. Menjaga diri bukan soal aturan semata. Itu soal menjaga masa depan.
Menjelang akhir semester, kelas mereka diminta membuat proyek sosial kecil. Tema bebas, tetapi harus berkaitan dengan kesehatan atau pendidikan.
Kelompok Arga memilih membuat kampanye sederhana tentang pentingnya ruang aman bagi remaja untuk bercerita. Mereka membuat poster, video pendek, dan sesi berbagi pengalaman.
Saat presentasi, Arga berbicara di depan kelas dengan suara yang lebih mantap dari biasanya.
“Ketahanan remaja bukan hanya soal menghindari risiko,” katanya. “Ini tentang bagaimana kita punya tempat untuk didengar. Ketika remaja merasa aman, mereka lebih mampu membuat keputusan yang sehat.”
Kelas bertepuk tangan. Bu Ratri tampak bangga.
Momen itu membuat Arga sadar bahwa suaranya punya arti.
Waktu berjalan cepat menuju kelulusan. Banyak hal berubah, tetapi satu hal tentang kesadaran bahwa masa depan tidak dibangun oleh satu keputusan besar, melainkan oleh pilihan kecil yang konsisten.
Pada hari terakhir sekolah, mereka berkumpul di aula. Tidak ada pidato panjang. Hanya sesi refleksi. Setiap siswa diminta menuliskan pelajaran terpenting selama masa sekolah.
Arga menulis:
Ia belajar bahwa kuat bukan berarti tidak pernah takut. Kuat berarti tetap memilih yang baik meski tidak mudah. Ia belajar bahwa menjaga diri bukan tindakan egois, tetapi bentuk tanggung jawab.
Saat menutup kertas berisi tulisannya dan tersenyum karena merasa tenang.
Beberapa tahun kemudian, Arga kembali ke sekolah sebagai pembicara tamu. Kini ia menjadi relawan di program pengembangan remaja. Berdiri di depan siswa, ia melihat dirinya yang dulu.
Ia tidak memberi nasihat panjang. Ia hanya bercerita.
Bahwa masa remaja adalah masa membangun fondasi. Bahwa setiap orang punya potensi menjadi kuat, asal diberi ruang dan dukungan. Bahwa bangsa yang tangguh lahir dari individu yang mengenal dirinya dan mencintai dirinya.
Seorang siswa mengangkat tangan. “Apa tanda kita sudah kuat?”
Arga tersenyum. “Saat kamu bisa memilih yang baik untuk dirimu, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”
Ruangan hening, lalu mengangguk pelan.
Di luar, matahari siang menerangi halaman sekolah. Suasana terasa hidup. Arga menyadari sesuatu yang sederhana tetapi penting bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil di dalam diri seseorang.
Ketahanan remaja merupakan konsep yang hadir dalam keputusan sehari-hari. Dalam keberanian berkata tidak. Dalam kemauan menjaga mimpi. Dalam kemampuan meminta bantuan saat lelah.
Dan dari remaja yang kuat, masyarakat yang kuat akan tumbuh.
Arga melangkah keluar aula dengan senyuman. Ia tahu perjalanan setiap remaja berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama: menjadi manusia yang utuh.
Di halaman sekolah itu, ia melihat generasi baru sedang berjalan menuju kelas mereka. Langkah-langkah kecil, tetapi penuh kemungkinan.
Ia tersenyum.
Karena di sanalah masa depan sedang dibangun.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu Miss & Mister Nusantara Archilepago International
https://youtu.be/2kBOAxhCczc?si=tPNCJlOhN4RPZ20i
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi Novita Sari Yahya.
Novita sari yahya adalah CEO pemilihan
- Miss & Mister Nusantara Archipelago International
- Miss, Mrs & Mister Zamrud Khatulistiwa
- MIss & Mrs Hijab Heritage Internationa
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






