Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

Maret 2026

Turut Berduka atas Wafatnya Ayatollah Khomeini.

Oleh Ilhamdi Sulaiman.

seperti doa yang jatuh di antara peluru,
tapi mampu bertahan di dada luka
sebagai nyala kecil tak padam.
Ia tak mampu membungkam deru meriam,
tapi bisa menjadi bisikan lembut
di telinga anak-anak tak lagi punya bantal.
Bukan senjata, tapi ia senantiasa hadir
sebagai air di padang luka.

Rumah yang Hilang.
Oleh Ilhamdi Sulaiman


Kami pernah punya rumah, atapnya dari tawa ayah,
lantainya dari cerita ibu,
dindingnya dari tangis yang saling mendekap.
Kini rumah itu hanya bayang
di pasir yang selalu bergerak,
tempat kami menggali malam
dengan tangan telanjang,
mencari mimpi yang tertimbun puing perang.

Roti di Tengah Ledakan

Karya Ilhamdi Sulaiman.

Ada roti yang tak bisa dimakan,
bukan karena basi,
tapi karena tangannya tak sampai
melewati pagar seng dan laras senapan.
Anak-anak mengunyah angin
dan membayangkan gandum di televisi,
sementara langit menggigil
karena terlalu banyak janji
yang tak turun sebagai hujan.

Perbatasan
Di perbatasan peta jadi senjata
Sungai kecil tempat bermain
kini jadi garis api
memisahkan tangan dari pelukan
mata dari tatapan,
dan cinta dari pulang.
Perbatasan bukan garis
tapi lubang yang menganga
di dada para pengungsi.

Di Balik Puing

Karya Ilhamdi Sulaiman.


Ada puisi yang lahir dari reruntuhan
bukan dari tinta tapi dari darah mengering di jari.
Ia menulis dengan pecahan kaca,
di dinding-dinding kehilangan nama
meski tak dibaca siapa-siapa
ia tetap menulis
itulah satu-satunya cara untuk meneriakan derita.

2025.

Tentang Penulis
Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.