Dengarkan Artikel
Turut Berduka atas Wafatnya Ayatollah Khomeini.
Oleh Ilhamdi Sulaiman.
seperti doa yang jatuh di antara peluru,
tapi mampu bertahan di dada luka
sebagai nyala kecil tak padam.
Ia tak mampu membungkam deru meriam,
tapi bisa menjadi bisikan lembut
di telinga anak-anak tak lagi punya bantal.
Bukan senjata, tapi ia senantiasa hadir
sebagai air di padang luka.
Rumah yang Hilang.
Oleh Ilhamdi Sulaiman
Kami pernah punya rumah, atapnya dari tawa ayah,
lantainya dari cerita ibu,
dindingnya dari tangis yang saling mendekap.
Kini rumah itu hanya bayang
di pasir yang selalu bergerak,
tempat kami menggali malam
dengan tangan telanjang,
mencari mimpi yang tertimbun puing perang.
Roti di Tengah Ledakan
Karya Ilhamdi Sulaiman.
📚 Artikel Terkait
Ada roti yang tak bisa dimakan,
bukan karena basi,
tapi karena tangannya tak sampai
melewati pagar seng dan laras senapan.
Anak-anak mengunyah angin
dan membayangkan gandum di televisi,
sementara langit menggigil
karena terlalu banyak janji
yang tak turun sebagai hujan.
Perbatasan
Di perbatasan peta jadi senjata
Sungai kecil tempat bermain
kini jadi garis api
memisahkan tangan dari pelukan
mata dari tatapan,
dan cinta dari pulang.
Perbatasan bukan garis
tapi lubang yang menganga
di dada para pengungsi.
Di Balik Puing
Karya Ilhamdi Sulaiman.
Ada puisi yang lahir dari reruntuhan
bukan dari tinta tapi dari darah mengering di jari.
Ia menulis dengan pecahan kaca,
di dinding-dinding kehilangan nama
meski tak dibaca siapa-siapa
ia tetap menulis
itulah satu-satunya cara untuk meneriakan derita.
2025.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






