Dengarkan Artikel
Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah
oleh Fileski Walidha Tanjung
Saya Fileski, datang ke sebuah malam yang tampaknya sederhana: duduk, mendengar, bersuara. Namun justru dari kesederhanaan itulah saya menemukan sebuah etika kebudayaan yang kian langka di zaman serba cepat ini. Malam itu bertajuk Melekan Bersama Dhalang Poer, sebuah forum diskusi kebudayaan yang digelar oleh Lesbumi NU Ngawi pada 27 Februari 2026, dari pukul 21.00 hingga menjelang sahur, di sanggar Lesbumi NU Ngawi, Dukuh Tanon, Sidorejo, Kendal, Ngawi. Melekan, dalam konteks ini, bukan sekadar menahan kantuk, melainkan memilih untuk hadir sepenuhnya, membuka telinga, dan menajamkan nurani.
Saya diundang oleh Dhalang Poer, seorang dalang wayang yang juga musisi dengan lagu-lagu populer berbahasa Jawa seperti Langit Mendung Kutho Ngawi dan Gusdur Pendekar Rakyat. Namun menyebut beliau hanya sebagai dalang atau musisi terasa terlalu sempit. Bagi saya, ia adalah guru kebudayaan yang menyampaikan ajaran melalui petuah dan syair Jawa yang sarat perenungan. Dalam salah satu jeda percakapan, ia menyatakan bahwa kesenian tidak boleh berhenti pada tepuk tangan penonton, melainkan harus berani masuk ke ruang batin masyarakat, mengurai kegelisahan sosial, dan menawarkan arah pulang bagi nilai-nilai yang tercerai-berai. Pernyataan itu terasa seperti gema dari nasihat Aristoteles yang kini sering dikutip ulang: seni bukan sekadar meniru realitas, melainkan membantu manusia memahami makna di baliknya.
Malam itu saya hadir bersama budayawan Titus Tri Wibowo dan Apung Purwanto, serta koreografer tari Nugroho Budi yang berkolaborasi menghadirkan pertunjukan gerak dan puisi. Saya membacakan puisi-puisi dari buku terbaru saya, kumpulan puisi Menyala dalam Senyap, yang kelak pada 30 Mei 2026 akan dibawakan dalam konser resital tembang puitik di Melbourne-Australia oleh soprano Elizabeth Rusli dan pianis Joseph Beckitt, dengan komposisi musik oleh Ananda Sukarlan. Bagi saya, perjalanan puisi dari Ngawi ke Melbourne bukanlah soal prestise geografis, melainkan bukti bahwa bahasa dan kejujuran estetik memiliki daya jelajah universal.
📚 Artikel Terkait
Yang membuat saya tertarik pada gagasan Dhalang Poer adalah kegelisahannya tentang ekosistem kesenian. Ia menolak pandangan bahwa seni cukup hidup dari popularitas dan keuntungan konser. Baginya, seni harus berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Dalam dialog malam itu, ia menyebut rencananya bersama para pegiat budaya setempat, membangun destinasi budaya Sumbernogo, sebuah ruang yang akan menjadi ponpes kebudayaan di bawah Lesbumi NU Ngawi, tempat musik, tari, teater tradisional, pameran seni rupa, dan diskusi kebudayaan berlangsung secara rutin. Saya teringat ucapan Rabindranath Tagore, “Peradaban yang besar tidak diukur dari gedung-gedungnya, melainkan dari kedalaman jiwanya.” Sumbernogo, dalam bayangan saya, adalah upaya merawat kedalaman jiwa itu.
Budayawan Titus Tri Wibowo dalam perbincangan malam itu menyatakan bahwa inisiatif seperti Sumbernogo penting untuk mengembalikan seni ke fungsi asalnya sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan. Ia melihatnya sebagai upaya membangun ruang belajar bersama, tempat generasi muda tidak hanya mengonsumsi estetika, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas makna yang mereka produksi. Senada dengan itu, perupa Yos Ponco yang hadir bersama Ahmad Rosyidin dari Sanggar Jatiswara menilai bahwa kolaborasi lintas disiplin seni pada malam tersebut menunjukkan bagaimana estetika bisa menjadi bahasa pemersatu di tengah fragmentasi sosial. Ahmad Rosyidin bahkan menyebut bahwa ia jarang menyaksikan forum yang mampu menjaga intensitas dialog hingga dini hari tanpa kehilangan kedalaman gagasan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika wacana publik sering dipersempit oleh algoritma dan polarisasi, melekan bersama seni adalah tindakan kebudayaan dalam arti yang paling luhur. Ia menolak ketergesaan, menunda kesimpulan instan, dan memberi ruang bagi empati. Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa ilmu tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan kesombongan. Kesenian, jika dipraktikkan sebagai latihan nurani, justru melatih manusia untuk tidak serakah, untuk mendengar sebelum berbicara, untuk merasakan sebelum menghakimi. Karakter semacam ini, saya percaya, tidak bisa dibentuk hanya dengan nasihat moral, tetapi melalui latihan estetika yang berkelanjutan.
Malam itu juga tampil penyair Sang Bayang yang untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan tari Nugroho Budi. Sajian tersebut menghadirkan ketegangan indah antara kata dan gerak, membuat hadirin tertegun, seolah diajak masuk ke ruang batin yang jarang dikunjungi. Saya melihat di wajah para hadirin, termasuk Yos Ponco, sebuah kesalutan yang bukan semata pada teknik, melainkan pada keberanian untuk jujur pada pengalaman manusiawi.
Di penghujung malam, ketika waktu sahur mendekat, saya menyadari bahwa “melekan” adalah metafora bagi pilihan kebudayaan kita hari ini. Apakah kita akan terus terlelap dalam kenyamanan hiburan instan, atau bersedia terjaga, meski lelah, demi merawat makna bersama. Friedrich Nietzsche pernah menulis bahwa manusia membutuhkan seni agar tidak mati oleh kebenaran.
Pertanyaannya kini bergeser: seni seperti apa yang kita butuhkan agar tidak mati oleh kekosongan? Dan sejauh mana kita berani hadir, terjaga, dan terlibat, untuk menjadikan kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan laku hidup yang menuntun kita menuju kehidupan yang lebih berempati, adil, dan bermakna. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





