HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
Februari 28, 2026
in Budaya, Esai, POTRET Budaya
Reading Time: 3 mins read
0
Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Melekan Budaya: Sebuah Upaya Menghidupkan Ekosistem Kesenian di Daerah

oleh Fileski Walidha Tanjung 

Baca Juga

Buka Bersama HVM Mengubah Cara Saya Membaca Sejarah

Buka Bersama HVM Mengubah Cara Saya Membaca Sejarah

Maret 19, 2026
Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Maret 18, 2026

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026

Saya Fileski, datang ke sebuah malam yang tampaknya sederhana: duduk, mendengar, bersuara. Namun justru dari kesederhanaan itulah saya menemukan sebuah etika kebudayaan yang kian langka di zaman serba cepat ini. Malam itu bertajuk Melekan Bersama Dhalang Poer, sebuah forum diskusi kebudayaan yang digelar oleh Lesbumi NU Ngawi pada 27 Februari 2026, dari pukul 21.00 hingga menjelang sahur, di sanggar Lesbumi NU Ngawi, Dukuh Tanon, Sidorejo, Kendal, Ngawi. Melekan, dalam konteks ini, bukan sekadar menahan kantuk, melainkan memilih untuk hadir sepenuhnya, membuka telinga, dan menajamkan nurani.

Saya diundang oleh Dhalang Poer, seorang dalang wayang yang juga musisi dengan lagu-lagu populer berbahasa Jawa seperti Langit Mendung Kutho Ngawi dan Gusdur Pendekar Rakyat. Namun menyebut beliau hanya sebagai dalang atau musisi terasa terlalu sempit. Bagi saya, ia adalah guru kebudayaan yang menyampaikan ajaran melalui petuah dan syair Jawa yang sarat perenungan. Dalam salah satu jeda percakapan, ia menyatakan bahwa kesenian tidak boleh berhenti pada tepuk tangan penonton, melainkan harus berani masuk ke ruang batin masyarakat, mengurai kegelisahan sosial, dan menawarkan arah pulang bagi nilai-nilai yang tercerai-berai. Pernyataan itu terasa seperti gema dari nasihat Aristoteles yang kini sering dikutip ulang: seni bukan sekadar meniru realitas, melainkan membantu manusia memahami makna di baliknya.

Malam itu saya hadir bersama budayawan Titus Tri Wibowo dan Apung Purwanto, serta koreografer tari Nugroho Budi yang berkolaborasi menghadirkan pertunjukan gerak dan puisi. Saya membacakan puisi-puisi dari buku terbaru saya, kumpulan puisi Menyala dalam Senyap, yang kelak pada 30 Mei 2026 akan dibawakan dalam konser resital tembang puitik di Melbourne-Australia oleh soprano Elizabeth Rusli dan pianis Joseph Beckitt, dengan komposisi musik oleh Ananda Sukarlan. Bagi saya, perjalanan puisi dari Ngawi ke Melbourne bukanlah soal prestise geografis, melainkan bukti bahwa bahasa dan kejujuran estetik memiliki daya jelajah universal.

Yang membuat saya tertarik pada gagasan Dhalang Poer adalah kegelisahannya tentang ekosistem kesenian. Ia menolak pandangan bahwa seni cukup hidup dari popularitas dan keuntungan konser. Baginya, seni harus berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Dalam dialog malam itu, ia menyebut rencananya bersama para pegiat budaya setempat, membangun destinasi budaya Sumbernogo, sebuah ruang yang akan menjadi ponpes kebudayaan di bawah Lesbumi NU Ngawi, tempat musik, tari, teater tradisional, pameran seni rupa, dan diskusi kebudayaan berlangsung secara rutin. Saya teringat ucapan Rabindranath Tagore, “Peradaban yang besar tidak diukur dari gedung-gedungnya, melainkan dari kedalaman jiwanya.” Sumbernogo, dalam bayangan saya, adalah upaya merawat kedalaman jiwa itu.

Budayawan Titus Tri Wibowo dalam perbincangan malam itu menyatakan bahwa inisiatif seperti Sumbernogo penting untuk mengembalikan seni ke fungsi asalnya sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan. Ia melihatnya sebagai upaya membangun ruang belajar bersama, tempat generasi muda tidak hanya mengonsumsi estetika, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas makna yang mereka produksi. Senada dengan itu, perupa Yos Ponco yang hadir bersama Ahmad Rosyidin dari Sanggar Jatiswara menilai bahwa kolaborasi lintas disiplin seni pada malam tersebut menunjukkan bagaimana estetika bisa menjadi bahasa pemersatu di tengah fragmentasi sosial. Ahmad Rosyidin bahkan menyebut bahwa ia jarang menyaksikan forum yang mampu menjaga intensitas dialog hingga dini hari tanpa kehilangan kedalaman gagasan.

Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika wacana publik sering dipersempit oleh algoritma dan polarisasi, melekan bersama seni adalah tindakan kebudayaan dalam arti yang paling luhur. Ia menolak ketergesaan, menunda kesimpulan instan, dan memberi ruang bagi empati. Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa ilmu tanpa penyucian hati hanya akan melahirkan kesombongan. Kesenian, jika dipraktikkan sebagai latihan nurani, justru melatih manusia untuk tidak serakah, untuk mendengar sebelum berbicara, untuk merasakan sebelum menghakimi. Karakter semacam ini, saya percaya, tidak bisa dibentuk hanya dengan nasihat moral, tetapi melalui latihan estetika yang berkelanjutan.

Malam itu juga tampil penyair Sang Bayang yang untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan tari Nugroho Budi. Sajian tersebut menghadirkan ketegangan indah antara kata dan gerak, membuat hadirin tertegun, seolah diajak masuk ke ruang batin yang jarang dikunjungi. Saya melihat di wajah para hadirin, termasuk Yos Ponco, sebuah kesalutan yang bukan semata pada teknik, melainkan pada keberanian untuk jujur pada pengalaman manusiawi.

Di penghujung malam, ketika waktu sahur mendekat, saya menyadari bahwa “melekan” adalah metafora bagi pilihan kebudayaan kita hari ini. Apakah kita akan terus terlelap dalam kenyamanan hiburan instan, atau bersedia terjaga, meski lelah, demi merawat makna bersama. Friedrich Nietzsche pernah menulis bahwa manusia membutuhkan seni agar tidak mati oleh kebenaran.

Pertanyaannya kini bergeser: seni seperti apa yang kita butuhkan agar tidak mati oleh kekosongan? Dan sejauh mana kita berani hadir, terjaga, dan terlibat, untuk menjadikan kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan laku hidup yang menuntun kita menuju kehidupan yang lebih berempati, adil, dan bermakna. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 226x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 219x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 167x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?
# Koruptor

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
#Korban Bencana

Niat Bertugas di Daerah Bencana itu Terwujud 

Maret 20, 2026
Nofri Qosdiansyah Sukses Menembus Panggung Global
#Sosok

Nofri Qosdiansyah Sukses Menembus Panggung Global

Maret 20, 2026
Sumpah dari Puncak  Meratus
Artikel

Sumpah dari Puncak Meratus

Maret 20, 2026
Next Post

Ramadan dan Rekonstruksi Peradaban: Spiritualitas, Solidaritas, dan Etika Kekuasaan dalam Dialektika Timur–Barat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com