Dengarkan Artikel
Oleh Lidya Arista,
Wakil Ketua Banat Angkatan Fulkunnajihin KMM, Mesir.
Di balik riuhnya hiruk-pikuk agenda yang berbeda-beda, terdapat sebuah ruang tamu kecil di rumah Rio. Ruangan itu menjadi saksi bisu perjuangan kabinet angkatan Fulkunnajihin. Karena saking seringnya dijadikan markas rapat, mereka menjulukinya Sekretariat Fulkunnajihin.
Siang itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Agenda besar angkatan sudah di depan mata, namun keluhan demi keluhan dari anggota mulai bermunculan, menguji kesabaran para pengurus. Rio, sang ketua, tampak memijat pangkal hidungnya. Ia dikenal sebagai sosok yang setenang telaga, namun kali ini sorot matanya tak mampu menyembunyikan kelelahan yang hebat.
Di sampingnya, Sholeh, rekan seperjuangannya, mencoba memecah kekakuan. “Tenang, Yo. Kapal Fulkunnajihin tidak akan karam hanya karena ombak sekecil ini,” cetus Sholeh sambil menepuk bahu Rio, berusaha menyuntikan semangat. Namun, Lidia, wakil ketua banat, tidak sependapat. “Sholeh, kita butuh solusi nyata! Bukan sekadar untaian kata puitis,” serunya sambil menunjuk tumpukan berkas. “Tenggat waktu semakin dekat, sedangkan keluhan warga Fulkunnajihin semakin banyak!”
Cindy; sang Ketua banat , yang biasanya menjadi penengah, segera masuk ke dalam percakapan. Suaranya lembut, mencoba meredam api yang mulai menyulut antara Rio, Sholeh, dan Lidia. “Teman-teman, bagaimana kalau kita selesaikan satu per satu? Masalah keluhan ini, kita berikan tanbih (peringatan/penjelasan) terlebih dahulu. Katakan bahwa acara akan tetap berjalan, tapi mohon bersabar karena kita sedang mengusahakan dananya.”
Di sudut lain, di tengah pusingnya memikirkan anggaran yang tak kunjung turun, ada Falih dan Dwi. Sebagai Sekretaris Umum, jemari mereka seolah tak lepas dari perangkat kerja. Falih adalah tipe yang sangat tangkas dengan urusan dokumen digital, sementara Dwi sangat teliti pada detail, meski terkadang ia mudah panik jika ada sesuatu yang terlewat.
“Falih, ini draf dari Divisi Humas kenapa belum masuk?” lapor Dwi dengan wajah cemas. “Aman, Dwi. Tinggal aku salin sebentar lagi. Kamu fokus saja ke draf PSDM, biar sisanya aku yang rapikan dan amankan,” jawab Falih tenang, jemarinya terus menari lincah di atas papan ketik.
📚 Artikel Terkait
Sementara itu, urusan paling krusial berada di tangan Razif dan Maysun. Sebagai bendahara, mereka adalah penjaga napas bagi seluruh kegiatan ini. “Zif, bagaimana jika dana yang kita ajukan ke Bang Anca segini? Kira-kira aman tidak?” bisik Maysun cemas sambil menunjukkan layar laptopnya. Razif menghela napas panjang, matanya menatap angka-angka yang rumit. “Aku akan coba hubungi bendahara KMM. Kita tidak bisa terus-menerus memotong anggaran konsumsi. Kasihan teman-teman nanti jika harus bekerja dengan perut kosong.”
Perjuangan itu mencapai puncaknya di minggu kedua. Falih dan Dwi begadang demi menyempurnakan proposal untuk diajukan kepada Gubernur KMM, Bang Anca. Di saat yang sama, Razif dan Maysun berhasil mengunci angka final yang akan diajukan. Tiga hari menjelang hari-H, kedelapan Badan Pengurus Harian (BPH) itu pergi menuju Tagamu’ Awal untuk menemui Bang Anca di sekretariat KMM.
Setelah perbincangan panjang dan penjelasan mendalam mengenai urgensi acara, Bang Anca akhirnya mengangguk.”Insyaallah, dana akan turun malam ini,” ujar Bang Anca mantap. Kalimat itu bagaikan oase di padang pasir. Dengan perasaan lega yang membuncah, mereka segera mengabari seluruh divisi bahwa acara resmi mendapat lampu hijau.
Malam itu, seluruh BPH kembali ke rumah masing-masing dengan pundak yang terasa lebih ringan, meski persiapan teknis masih menanti di depan mata. Hari yang dinanti pun tiba. Setelah pusingnya mencari prasarana dan peliknya birokrasi, acara dimulai dengan kemeriahan yang luar biasa.
Di puncak acara, Rio dan Sholeh berdiri di belakang panggung, menyaksikan puluhan anggota Fulkunnajihin bersorak gembira, merayakan kebersamaan mereka. “Kita berhasil, Yo,” ujar Sholeh singkat, matanya berkaca-kaca. Rio tersenyum lebar. Ia melihat Cindy dan Lidia tertawa lega. Ia melihat Falih dan Dwi tersenyum tenang—wajah-wajah lelah yang kini berganti dengan kepuasan karena perjuangan mereka tidak sia-sia. Di sudut lain, ia melihat Razif dan Maysun akhirnya bisa menyantap hidangan konsumsi dengan tenang tanpa harus memikirkan Dana.
“Bukan kita, Leh,” koreksi Rio lembut. “Tapi kapal ini. Fulkunnajihin berhasil berlayar karena setiap orang di dalamnya tidak pernah berhenti mendayung.”
Malam itu, di bawah langit yang cerah, mereka menyadari satu hal: BPH bukan sekadar jabatan di atas kertas. Ia adalah tentang delapan jiwa yang belajar menurunkan ego demi membawa satu kapal besar mencapai dermaga keberhasilan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






