HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Khotbah Tiga Jelata

Syarifudin Brutu by Syarifudin Brutu
Februari 25, 2026
in Esai
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Syarifudin Brutu

​Di sebuah saluran pembuangan raksasa yang bermuara tepat di bawah gedung Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, tiga makhluk sedang mengadakan rapat darurat. Aroma di sana adalah perpaduan antara kotoran manusia kelas atas, deterjen mahal, dan sisa-sisa bahan kimia tambang yang menyengat.

Baca Juga

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Maret 13, 2026

​Tokoh utamanya adalah Anjing—golden retriever yang baru saja melarikan diri dari rantai emas tuannya, si Babi hutan yang badannya penuh bekas luka tembak peluru aparat, dan pendatang baru kita: Tikus Got.

​Tikus ini bukan sembarang tikus. Dia memiliki inteligensi yang diasah oleh sisa-sisa koran politik yang ia makan setiap hari.

​”Kau tahu, Njing,” si Tikus mencicit sambil membersihkan kumisnya dari sisa limbah cair. “Aku punya sepupu di dalam gedung sana. Banyak. Mereka berdasi, memakai parfum Oudyang harganya bisa buat beli satu kecamatan, dan duduk di kursi empuk. Tapi jujur saja, setiap kali namaku disandingkan dengan mereka, aku ingin muntah. Kami tikus got punya harga diri; kami mencuri untuk bertahan hidup, bukan untuk koleksi jam tangan mewah!”

​Babi mendengus, suaranya menggetarkan dinding beton yang retak. “Tikus berdasi itu lebih berbahaya dari macan lapar. Macan hanya makan dagingmu. Tapi tikus berdasi itu memakan masa depanmu, memakan oksigenmu, bahkan memakan tanah tempat kau akan dikubur nanti.”.

ADVERTISEMENT

​”Aku melihatnya sendiri tadi siang,” kata Anjing dengan nada getir. “Tuan-ku—si bajingan yang foto wajahnya terpampang di baliho ‘Pahlawan Pembangunan’ itu—sedang menjamu direktur perusahaan swasta. Mereka tidak bicara tentang rakyat. Mereka bicara tentang ‘persentase’. ‘Berapa persen buat partai?’, ‘Berapa persen buat aparat?’, ‘Berapa persen buat beli mulut aktivis?'”

​Anjing itu meludah ke genangan air hitam. “Mereka membagi-bagi hutan kita seperti membagi kue ulang tahun. Satu izin tambang keluar, satu tas Hermes masuk ke lemari istrinya. Satu gunung rata, satu unit apartemen di Singapura terbeli. Ini bukan pembangunan, ini penjarahan yang dilegalkan oleh stempel negara!”

​Tikus Got melompat ke atas sebuah pipa besi yang berkarat. “Itu namanya korupsi sistemik, Njing. Di gedung sana, mereka punya mantra sakti: ‘Wajar Tanpa Pengecualian’. Artinya? Silakan maling, asal administrasinya rapi. Mereka mengubah undang-undang seolah-olah itu adalah pesanan menu di restoran cepat saji. Mau revisi pasal lingkungan? Siap! Mau hapus sanksi pidana tambang? Laksanakan! Asal setorannya lancar, alam boleh hancur!”

​Babi hutan itu menabrakkan kepalanya ke dinding beton sebagai pelampiasan amarah. “Rumahku di pedalaman sekarang jadi lubang neraka. Mereka bilang itu ‘Hilirisasi’. Kata-kata yang terdengar intelektual untuk menutupi aksi pemerkosaan terhadap bumi. Mereka ambil nikelnya, mereka kirim ke luar negeri, lalu mereka sisakan kami lumpur beracun dan debu yang membuat paru-paru anak-anak di desa sekitar jadi keras seperti semen.”

​”Dan lucunya,” Tikus Got menyela dengan tawa yang mirip suara gesekan logam. “Mereka bicara soal ‘Ekonomi Hijau’. Hijau matamu! Hijau itu warna uang suap yang mereka terima di bawah meja. Hijau itu warna lumut di atas nisan para petani yang mati melawan perampasan tanah. Manusia-manusia ini punya bakat sastra yang luar biasa dalam menciptakan istilah-istilah halus untuk menutupi bau busuk bangkai kebijakan mereka.”

​Anjing itu menatap Tikus dengan serius. “Sepupumu yang di dalam itu… apa mereka tidak punya hati nurani?”

​Tikus itu tertawa sampai terpingkal-pingkal. “Hati nurani? Di gedung itu, hati nurani adalah barang ilegal. Kalau kau punya hati nurani, kau tidak akan bisa naik jabatan. Kau harus jadi predator. Kau harus bisa tidur nyenyak setelah menandatangani izin yang akan menenggelamkan sepuluh desa oleh banjir bandang. Kau harus bisa tersenyum di depan kamera sambil menyumbang paket sembako, padahal kau baru saja merampok triliunan rupiah dari subsidi hutan.”

​Suara guruh terdengar dari atas. Bukan guruh hujan, tapi getaran dari deretan truk-truk raksasa yang membawa hasil bumi menuju pelabuhan.

​”Dengar itu,” bisik Babi. “Itu adalah langkah kaki raksasa yang akan menginjak kita semua. Mereka tidak akan berhenti sampai pohon terakhir tumbang, sungai terakhir mengering, dan kantong mereka penuh dengan kepingan emas.”

​Anjing itu berdiri, menatap lubang got yang menuju ke jalan raya. “Kita ini apa bagi mereka? Hanya statistik? Atau hanya gangguan kecil dalam laporan keuangan?”

​”Kita adalah pengingat akan kegagalan mereka menjadi manusia,” jawab Tikus Got dengan nada dingin yang mematikan. “Aku, Tikus yang kotor; Kau, Anjing yang dibuang; dan Kau, Babi yang diusir. Kita adalah wajah asli dari kemajuan yang mereka agung-agungkan. Kita adalah residu dari peradaban yang dibangun di atas pondasikerakusan dan pengkhianatan terhadap alam.”

​Tikus itu menunjuk ke arah gedung parlemen yang tampak megah di kejauhan. “Di sana, para tikus berdasi itu sedang merayakan keberhasilan mereka menipu rakyat. Tapi mereka lupa satu hal: Tanah yang mereka gali itu punya batas. Dan saat tanah itu sudah tidak bisa lagi menahan beban dosa mereka, alam akan melakukan ‘revisi undang-undang’ sendiri lewat tanah longsor dan air bah yang tidak bisa mereka suap dengan uang hasil tambang.”

​Malam itu, ketiga makhluk itu berpisah. Babi kembali ke rimba yang sudah compang-camping untuk melakukan perlawanan terakhirnya—menabrakkan diri ke alat berat. Anjing berkelana di jalanan, menjadi saksi bisu kemunafikan kota. Dan Tikus? Dia kembali ke dalam pipa-pipa kekuasaan, menggerogoti kabel-kabel server data korupsi, berharap suatu hari konsletnya sistem itu akan membakar seluruh sandiwara ini.

​Kritik mereka tidak akan sampai ke telinga para pejabat yang sedang mabuk wine mahal. Tapi di bawah sana, di dalam gelapnya got dan sunyinya hutan yang sekarat, alam sedang menyusun sebuah balas dendam yang tidak akan bisa dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi manapun.

​Sebab, ketika korupsi sudah menjadi oksigen, maka kehancuran hanyalah masalah waktu—dan saat itu tiba, tidak ada emas yang cukup banyak untuk membeli jalan keluar dari neraka yang mereka bangun sendiri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 317x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 283x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 242x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 206x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 157x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Baca Juga

Artikel

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya
#Korban Bencana

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Hari Buruh

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026
Cerpen

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Next Post
Aku Dan Kenangan Sekolah

Aku Dan Kenangan Sekolah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com