Dengarkan Artikel
Karya Novita Sari Yahya
Oleh: Paulus Laratmase
Identitas Buku
- Judul: Ibu Bangsa, Cermin Wajah Bangsa
- Penulis: Novita Sari Yahya
- Penerbit: Yayasan Putra Adi Dharma
- Cetakan: Pertama, Desember 2025
- QRCBN: 62-2040-5716-677
- IKAPI: No. 498/JBA/2024
Pendahuluan
Di tengah dinamika kebangsaan Indonesia yang bergerak antara harapan dan kerapuhan, wacana tentang moralitas publik kembali menemukan relevansinya. Politik identitas, krisis kepercayaan terhadap institusi, polarisasi digital, hingga melemahnya solidaritas sosial menunjukkan bahwa persoalan bangsa tidak semata terletak pada tata kelola struktural, melainkan juga pada fondasi etika kolektif.
Dalam konteks inilah buku Ibu Bangsa, Cermin Wajah Bangsa hadir sebagai intervensi moral yang penting. Buku ini bukan karya teori politik atau analisis ekonomi-politik yang kompleks, melainkan kumpulan esai reflektif yang menjadikan figur “ibu” sebagai metafora kebangsaan.
Ibu Bangsa dan Retorika Moral
Buku ini hadir dengan nada lirih, reflektif, dan penuh empati. Ia bukan sekadar kumpulan esai moral, melainkan proyek simbolik yang memosisikan “ibu” sebagai cermin kebangsaan.
Esai-esai pendek yang sebagian pernah terbit di media massa membahas tema beragam: nasionalisme, literasi, profesi dokter, pageant kecantikan, humor politik, jaminan sosial, hingga refleksi kemanusiaan. Benang merahnya: bangsa dibaca melalui etika domestik, dengan rumah tangga sebagai miniatur negara dan ibu sebagai metafora konstitusi moral.
Bangsa sebagai Imajinasi Moral
Novita menempatkan perempuan, khususnya “ibu”, sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa. “Ibu bangsa” menjadi simbol imajinasi kolektif tentang moralitas nasional. Namun, fokus pada karakter berisiko mengabaikan struktur kekuasaan. Korupsi, kemiskinan, dan ketimpangan cenderung dipandang sebagai persoalan etika individual, bukan sistemik.
Dokter Revolusioner dan Tanggung Jawab Intelektual
Salah satu esai tajam membahas gagasan “dokter revolusioner” yang tidak hanya menjalankan profesi, tetapi juga terlibat dalam perubahan sosial-politik. Novita menekankan bahwa profesionalisme harus disertai keberanian moral. Namun kritiknya masih normatif, belum mengurai bagaimana regulasi dan relasi negara-pasar membatasi ruang gerak profesi medis.
Pageant dan Tubuh Perempuan
📚 Artikel Terkait
Dalam esai tentang kontes kecantikan global, Novita mempertanyakan apakah partisipasi perempuan Indonesia benar-benar memberdayakan atau justru memperkuat standar kecantikan seragam. Kritik feminis terhadap objektifikasi tubuh perempuan hadir, tetapi analisis berhenti pada tataran moral, belum menyentuh struktur kapitalisme media.
Humor dan Demokrasi
Humor politik dipandang sebagai indikator bahwa kekuasaan tidak absolut. Tawa menjadi bentuk kritik halus namun efektif. Buku ini mengingatkan pada demokrasi yang cair dan inklusif, meski kurang membahas tantangan ruang publik digital yang kini dipenuhi disinformasi dan polarisasi.
Jaminan Sosial dan Negara Kesejahteraan
Novita menekankan solidaritas dan keikhlasan sebagai fondasi jaminan sosial. Negara dipahami sebagai entitas moral, bukan arena konflik kepentingan. Namun, perdebatan teknis mengenai kebijakan dan birokrasi tidak diuraikan secara rinci.
Retorika Ibu dan Risiko Esensialisme
Metafora “ibu bangsa” kuat secara simbolik, tetapi berisiko esensialis. Feminisme kontemporer mengkritik penyempitan identitas perempuan pada fungsi domestik. Dengan menjadikan ibu sebagai pusat moralitas nasional, ada potensi marginalisasi identitas perempuan lain.
Bahasa yang Jernih, Analisis yang Terbatas
Buku ini unggul dalam kejernihan bahasa yang komunikatif dan mudah diakses. Namun, kedalaman analisis kadang terkorbankan demi popularitas. Banyak esai berakhir pada seruan moral tanpa strategi perubahan yang konkret.
Empati sebagai Politik
Keberanian buku ini adalah mengusung politik empati. Di tengah polarisasi digital, empati menjadi bentuk resistensi. Posisi ini kuat secara etis, meski belum memadai secara struktural.
Kesimpulan
Ibu Bangsa, Cermin Wajah Bangsa adalah refleksi moral kebangsaan yang penting. Ia lebih kuat sebagai manifesto etika daripada analisis struktural. Buku ini layak dibaca, bukan untuk diterima tanpa kritik, melainkan untuk diajak berdialog.
Bangsa tanpa empati hanyalah slogan kosong.
Biak, Papua, 20 Februari 2026
(Paulus Laratmase, Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, Akademisi, Pimpinan Media Online Suara Anak Negeri News.com dan Negerinews.com)
Daftar Pustaka
- Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso, 1983.
- Beauvoir, Simone de. The Second Sex. New York: Vintage Books, 1949.
- Butler, Judith. Gender Trouble. New York: Routledge, 1990.
- Esping-Andersen, Gøsta. The Three Worlds of Welfare Capitalism. Princeton: Princeton University Press, 1990.
- Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers, 1971.
- Yahya, Novita Sari. Ibu Bangsa, Cermin Wajah Bangsa. Yogyakarta: Yayasan Putra Adi Dharma, 2025.
Apakah Anda ingin saya juga membuat versi ringkas (1–2 halaman) agar lebih mudah dipublikasikan di media atau jurnal?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






