POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengintip Perkembangan Kebun Kurma di Indonesia

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
February 21, 2026
Mengintip Perkembangan Kebun Kurma di Indonesia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Puasa Ramadan tidak bisa dipisahkan dari buah kurma. Umumnya kita hanya tahu, kurma itu didatangkan dari Arab. Siapa sangka, negeri ini juga punya kebun kurma. Mari kita intip perkembangannya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!

Di bawah terik lembab tropis yang katanya tak ramah untuk tanaman gurun, kebun-kebun kurma di Indonesia justru berkembang dengan ritme yang makin serius, makin terstruktur, dan makin bikin data impor terasa ironis.

Perkembangannya bukan isapan jempol. Di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, kebun Yayasan Ukhuwah Datu seluas 10 hektar dengan lebih dari seribu pohon Kurma Rinjani atau Datu sudah berbuah sepanjang tahun. Ini bukan sekadar simbolik. Ini model percontohan nasional. Di Aceh Besar, Lembah Barbate membentang 300 hektar. Pasuruan, Jawa Timur, mengembangkan 3,7 hektar agrowisata kurma yang menggabungkan produksi dan edukasi. Karo, Sumatera Utara, di ketinggian 750 mdpl membuktikan kurma bisa adaptif di dataran tinggi. Riau menanam di halaman Masjid An-Nur Pekanbaru. Kalimantan Barat, termasuk Sintang di lahan gambut serta Dusun Pinang Merah dekat Kota Sambas, menunjukkan bahwa bahkan tanah yang dulu dianggap “mustahil” kini bisa produktif.

Prestasi internasional memperkuat gambaran perkembangan ini. Varietas Ukhuwah Datu Nusantara dari Lombok Utara masuk Top 7 Best Dates pada Festival Kurma Dunia Abu Dhabi 2025. Artinya, kualitasnya diakui di panggung global. Ini indikator, kebun kurma Indonesia bukan sekadar tren musiman, tetapi sudah masuk fase kompetitif.

Dari sisi produktivitas, satu pohon betina dewasa dapat menghasilkan 100–300 kilogram per tahun. Harga fresh ruthob berkisar Rp250.000–Rp360.000 per kilogram. Secara potensi, itu setara Rp10–Rp30 juta per pohon per tahun. Angka ini menjelaskan mengapa minat investasi dan penanaman terus tumbuh.

📚 Artikel Terkait

Kenapa Tidak Berempati pada Gaza?

Indahnya Menjadi Guru

Hujan Pagi ini

Kabar Redaksi

Sementara itu, Indonesia masih mengimpor 55.430 ton kurma pada 2024 senilai Rp1,32 triliun, dengan rekor 61.350 ton pada 2022. Lonjakan terbesar selalu terjadi menjelang Ramadan pada Januari–Februari. Data ini menjadi latar belakang penting: perkembangan kebun kurma dalam negeri sejatinya memiliki ruang pasar yang besar dan nyata.

Dari sisi kualitas, kurma lokal umumnya dipanen pada tahap ruthob karena iklim lembab. Teksturnya lebih segar, juicy, dengan kandungan vitamin C lebih tinggi dibanding tamr kering. Pakar IPB menyatakan, rasa ruthob lokal setara dengan ruthob Timur Tengah pada tahap yang sama. Perbedaannya hanya pada proses akhir. Di Arab bisa dibiarkan kering menjadi tamr, di Indonesia harus dinikmati segar agar tidak busuk.

Tantangan tetap ada. Bibit relatif mahal, penyerbukan manual, dan manajemen kelembaban. Namun dengan kultur jaringan dan varietas adaptif seperti Barhee, Ajwa, dan Rinjani, perkembangan kebun kurma di Indonesia menunjukkan arah yang menjanjikan.

So, ketika kita mengintip perkembangan kebun kurma di Indonesia, yang terlihat bukan sekadar pohon berbuah, tetapi transformasi pertanian tropis menuju komoditas bernilai tinggi. Dari lahan kering hingga gambut, dari pekarangan masjid hingga kebun komersial, kurma Indonesia sedang menulis bab baru, perlahan, tapi pasti.

Jangan pernah meremehkan potensi yang tumbuh di tanah sendiri hanya karena teori lama bilang “tidak mungkin”. Perkembangan kebun kurma di Indonesia mengajarkan, keberanian mencoba, riset yang serius, dan konsistensi petani mampu mengubah keraguan menjadi prestasi. Bahkan, sampai diakui dunia. Di balik angka impor 55.430 ton senilai Rp1,32 triliun pada 2024 dan rekor 61.350 ton pada 2022, tersembunyi peluang besar untuk mandiri, mengurangi ketergantungan, dan menciptakan kesejahteraan dari pekarangan sendiri. Artinya, masa depan ekonomi tidak selalu datang dari luar; sering kali ia sudah berakar di tanah kita, menunggu dirawat dengan visi, ilmu, dan keberanian.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 111x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 69x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
78
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00