• Latest
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Februari 21, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Maret 14, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Februari 21, 2026
in #Pendidikan, Bingkai Sekolah, Kualitas pendidikan, Literasi, literasi digital, pegiat literasi, Profil Sekolah, Sekolah
0
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Di era digital yang semakin canggih ini, terkadang kita menyaksikan banyak sekali hal yang kadang dapat dikategorikan sebagai hal yang aneh. Ya, aneh, karena tidak biasanya demikian pada waktu sebelumnya. Namun, di era digital yang begitu canggih ini, hal-hal yang dahulu tidak biasa, tidak dianggap edan, kini malah berbalik 180 derajat. Sehingga terasa edan, dan memang semakin edan. Tidak salah kalau juga disebut sebagai dunia terbalik.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Maret 12, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Maret 10, 2026

Bayangkan saja, kalau dahulu kita lebih cenderung percaya pada berita yang orisinal, tidak suka membaca berita bohong, atau berita yang belum tentu benarnya dan kita berusaha mencari berita yang benar, tapi kini malah yang paling laku berita hoaks. Sehingga banyak sekali generasi bangsa ini, baik yang muda, maupun yang tua terpapar berita hoaks, baik pada tataran mempercayai, maupun pada tataran distributif dalam bentuk like and sharing di Medsos. 

Bukan hanya itu, di dunia pendidikan kondisinya juga semakin banyak yang berubah. Perubahan yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan kemampuan kognitif. Ada fenomena atau gejala baru yang melanda generasi muda saat ini, terkait kemampuan kognisi mereka. Apa yang terjadi adalah menurunnya kemampuan kognisi para siswa pada hampir seluruh jenjang pendidikan. Penurunan kemampuan kognisi itu ditandai dengan hilangnya kemampuan dasar siswa seperti pengetahuan geografi dan sejarah serta kemampuan berhitung atau dalam istilah linguistik disebut kemampuan numeracy.

Ya,Fenomena yang kita sebutkan—menurunnya kemampuan kognisi siswa dan hilangnya pengetahuan dasar seperti geografi dan sejarah itu, menjadi hal yang juga menjadi biasa dan menjadi tontonan sehari-hari di Tik Tok atau Facebook maupun di media sosial lainnya. Apalagi kalau kita sudah pernah klik video itu, akan banyak video serupa bermunculan karena algoritmanya.

Rendahnya kemampuan kognisi siswa itu menjadi bahan tertawaan kita, sambil beristigfar, dengan heran bertanya, kok bisa begitu? Ya, begitulah.  Edan, bukan?  Tentu banyak yang berkata edan, namun belum tentu jawabannya edan bagi generasi sekarang. Mereka bahkan akan hanya ikut tertawa karena menikmati kelucuan yang mereka tidak pahami. Bahkan bisa jadi mereka akan berkata, biasa aja. Emangnya kenapa?  

Ternyata kemampuan kognisi di era digital juga ikut mengalami proses disrupting. Artinya, kemampuan kognisi akan terus menghilang atau punah, lalu kemampuan itu menjadi kemampuan robot saja.  

Setiap kali guru sejarah bertanya, kapan Indonesia Merdeka, mereka tidak tahu kapan dan merasa tidak perlu tahu kapan Indonesia merdeka. Kalau pun memerlukan jawaban, cukup gunakan Google atau AI. Pengetahuan itu tidak perlu disimpan di otak lagi. Apalagi tidak bisa menghasilkan materi, benar kan?

Dalam hal pengetahuan dasar di pelajaran geografi juga demikian, mereka juga tidak tahu ketika ditanya di pulau apakah letak kota Jakarta? Mereka malah tidak hafal 5!pulau besar yang ada di Indonesia. Dan mereka juga merasa tidak perlu tahu dan menyimpan pengetahuan itu di otak, karena kalau perlu tanya saja Google map.

Jangankan dua pelajaran itu, kemampuan dasar berhitung saja juga semakin menurun. Cobalah ajak anak-anak bermain hitung-hitungan tanpa menggunakan alat bantu seperti kalkulator, kita akan menemukan fakta mengenaskan tentang penurunan kemampuan numeracy anak-anak  generasi sekarang. Heran? Tidak juga.

Menurunnya kemampuan kognisi pengetahuan dasar pada generasi sekarang adalah sebuah fakta yang akan membahayakan masa depan generasi bangsa. Bila kondisi ini dibiarkan, maka banyak konsekuensi yang akan mereka hadapi ke depan. 

Sayangnya kondisi menurunnya kemampuan kognisi, bahkan terjadinya pembusukan otak atau brain rot, belum menjadi keprihatinan dan kegalauan pemerintah dan bangsa ini. Walau risiko ke depan adalah kehancuran nyata

Padahal, semua kita tahu bahwa rendahnya kemampuan  kognitif generasi sekarang adalah bukti nyata dari rendahnya kemampuan literasi, numeracy dan sains generasi sekarang. Sudah pasti penyebab menurunnya kemampuan kognisi itu karena minimnya literasi membaca yang ditandai oleh menurunnya  minat membaca buku teks atau literatur, termasuk sejarah-geografi, berhitung yang membuat pengetahuan dasar tidak terbangun. Pertanyaannya, bagaimana kemampuan kognisi dan lebih luas lagi kemampuan literasi meningkat, bila anak-anak generasi bangsa tidak membaca dan tidak belajar?

Buruknya kondisi ini juga tidak lepas dari buruknya kemampuan masyarakat bangsa kita dalam mengelola penggunaan teknologi digital. Ya, apa yang sedang terjadi dan berlangsung dalam era ini adalah ketergantungan pada teknologi digital. Adalah fakta yang tak terbantah bahwa siswa lebih sering mengakses informasi instan daripada mempelajari secara mendalam, sehingga daya ingat jangka panjang berkurang.

Selain hal itu, apa yang kita sudah pahami juga di dunia pendidikan yang harusnya mampu membangun kemampuan kognisi siswa juga sudah kalah cepat dibandingkan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi. Kondisi ini juga bisa terjadi pada guru sebagai pihak yang melakukan transfer pengetahuan kepada siswa di sekolah.

Biasanya terkait dengan metodologi pembelajaran. Misalnya,  kurangnya metode pembelajaran kontekstual, sehingga pelajaran Geografi dan sejarah sering diajarkan secara hafalan, bukan melalui pengalaman nyata atau keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya itu, kurangnya penguasaan metodologi pembelajaran guru untuk membangun kemampuan membaca dan literasi siswa dalam mengajar juga menjadi masalah yang tak tertangani oleh pemerintah.

Jadi baik sebab dan akibat rendahnya kemampuan literasi dan pengaruh luar yakni distraksi digital seperti  doom scrolling, brain rot, paparan berlebihan pada media sosial dan konten cepat mengurangi fokus dan kemampuan berpikir kritis. Apalagi kurangnya integrasi lintas disiplin seperti halnya pelajaran Geografi dan sejarah yang jarang dikaitkan dengan isu kontemporer (misalnya perubahan iklim, konflik global), sehingga siswa merasa tidak relevan dan merasa tidak perlu tahu dan merasa tidak dibutuhkan.

Menurunnya kemampuan kognisi para siswa genarasi masa kini terasa semakin kompleks dan sulit diuraikan apabila tidak ada kepedulian dan kemauan untuk mengantisipasi kondisi ini. Dikatakan demikian karena karena fenomena ini akan menyebabkan bencana baru di kalangan genarasi masa kini.

Kita tentu tidak menginginkan hilangnya identitas budaya dan sejarah lokal. Juga tidak ingin semakin lemahnya kemampuan analisis spasial (misalnya memahami peta, lokasi, geopolitik di kalangan generasi bangsa ini. Lebih celaka lagi, apabila yang terjadi adalah semakin rendahnya kesadaran kritis terhadap isu global dan nasional.

Oleh sebab itu, selayaknya pemerintah dan dunia pendidikan mencari strategi untuk mengantisipasi dan memulihkan kondisi ini. Diperlukan niat baik atau political will pemerintah untuk lebih serius membangun kemampuan literasi bangsa. Untuk membangun kemampuan literasi, numerasi dan sain, dibutuhkan sebuah gerakan bersama, baik di lembaga-lembaga pendidikan, maupun di rumah tangga.

Khusus di sekolah, model  pembelajaran berbasis proyek, misalnya membuat peta interaktif daerah sendiri atau menulis cerita sejarah daerah hingga keluarga adalah salah satu langkah positif dan strategis.  Kedua, melakukan Integrasi teknologi positif, yakni dengan menggunakan aplikasi peta digital, simulasi sejarah, atau game edukatif.

Strategi yang tidak kalah menarik adalah dengan cara  storytelling dan visualisasi: Menghidupkan sejarah dan geografi lewat narasi, ilustrasi, atau film pendek. Semua ini akan sangat menarik bila dilakukan pula kegiatan lapangan, seperti studi ke museum, situs sejarah, atau observasi lingkungan sekitar.

Tentu saja, agar lebih menarik apabila disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan sistem  bilingual dan kontekstual. Tentu saja dengan mengaitkan materi dengan bahasa sehari-hari dan isu lokal agar lebih relevan.

Nah, sesungguhnya masalah menurunnya kemampuan kognitif siswa atau generasi sekarang bisa diantisipasi oleh semua stakeholders, di keluarga, masyarakat dan pemerintah. Untuk itu dibutuhkan kemauan atau komitmen bersama untuk menyelamatkan generasi bangsa ini, kini dan di masa depan. Kalau mau, pasti bisa. Bukankah praktisi pendidikan kita sudah banyak belajar pada keberhasilan Finlandia dalam hal ini?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 195x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 183x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 118x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 99x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 85x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com