Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Di era digital yang semakin canggih ini, terkadang kita menyaksikan banyak sekali hal yang kadang dapat dikategorikan sebagai hal yang aneh. Ya, aneh, karena tidak biasanya demikian pada waktu sebelumnya. Namun, di era digital yang begitu canggih ini, hal-hal yang dahulu tidak biasa, tidak dianggap edan, kini malah berbalik 180 derajat. Sehingga terasa edan, dan memang semakin edan. Tidak salah kalau juga disebut sebagai dunia terbalik.
Bayangkan saja, kalau dahulu kita lebih cenderung percaya pada berita yang orisinal, tidak suka membaca berita bohong, atau berita yang belum tentu benarnya dan kita berusaha mencari berita yang benar, tapi kini malah yang paling laku berita hoaks. Sehingga banyak sekali generasi bangsa ini, baik yang muda, maupun yang tua terpapar berita hoaks, baik pada tataran mempercayai, maupun pada tataran distributif dalam bentuk like and sharing di Medsos.
Bukan hanya itu, di dunia pendidikan kondisinya juga semakin banyak yang berubah. Perubahan yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan kemampuan kognitif. Ada fenomena atau gejala baru yang melanda generasi muda saat ini, terkait kemampuan kognisi mereka. Apa yang terjadi adalah menurunnya kemampuan kognisi para siswa pada hampir seluruh jenjang pendidikan. Penurunan kemampuan kognisi itu ditandai dengan hilangnya kemampuan dasar siswa seperti pengetahuan geografi dan sejarah serta kemampuan berhitung atau dalam istilah linguistik disebut kemampuan numeracy.
Ya,Fenomena yang kita sebutkan—menurunnya kemampuan kognisi siswa dan hilangnya pengetahuan dasar seperti geografi dan sejarah itu, menjadi hal yang juga menjadi biasa dan menjadi tontonan sehari-hari di Tik Tok atau Facebook maupun di media sosial lainnya. Apalagi kalau kita sudah pernah klik video itu, akan banyak video serupa bermunculan karena algoritmanya.
Rendahnya kemampuan kognisi siswa itu menjadi bahan tertawaan kita, sambil beristigfar, dengan heran bertanya, kok bisa begitu? Ya, begitulah. Edan, bukan? Tentu banyak yang berkata edan, namun belum tentu jawabannya edan bagi generasi sekarang. Mereka bahkan akan hanya ikut tertawa karena menikmati kelucuan yang mereka tidak pahami. Bahkan bisa jadi mereka akan berkata, biasa aja. Emangnya kenapa?
Ternyata kemampuan kognisi di era digital juga ikut mengalami proses disrupting. Artinya, kemampuan kognisi akan terus menghilang atau punah, lalu kemampuan itu menjadi kemampuan robot saja.
Setiap kali guru sejarah bertanya, kapan Indonesia Merdeka, mereka tidak tahu kapan dan merasa tidak perlu tahu kapan Indonesia merdeka. Kalau pun memerlukan jawaban, cukup gunakan Google atau AI. Pengetahuan itu tidak perlu disimpan di otak lagi. Apalagi tidak bisa menghasilkan materi, benar kan?
Dalam hal pengetahuan dasar di pelajaran geografi juga demikian, mereka juga tidak tahu ketika ditanya di pulau apakah letak kota Jakarta? Mereka malah tidak hafal 5!pulau besar yang ada di Indonesia. Dan mereka juga merasa tidak perlu tahu dan menyimpan pengetahuan itu di otak, karena kalau perlu tanya saja Google map.
Jangankan dua pelajaran itu, kemampuan dasar berhitung saja juga semakin menurun. Cobalah ajak anak-anak bermain hitung-hitungan tanpa menggunakan alat bantu seperti kalkulator, kita akan menemukan fakta mengenaskan tentang penurunan kemampuan numeracy anak-anak generasi sekarang. Heran? Tidak juga.
Menurunnya kemampuan kognisi pengetahuan dasar pada generasi sekarang adalah sebuah fakta yang akan membahayakan masa depan generasi bangsa. Bila kondisi ini dibiarkan, maka banyak konsekuensi yang akan mereka hadapi ke depan.
📚 Artikel Terkait
Sayangnya kondisi menurunnya kemampuan kognisi, bahkan terjadinya pembusukan otak atau brain rot, belum menjadi keprihatinan dan kegalauan pemerintah dan bangsa ini. Walau risiko ke depan adalah kehancuran nyata
Padahal, semua kita tahu bahwa rendahnya kemampuan kognitif generasi sekarang adalah bukti nyata dari rendahnya kemampuan literasi, numeracy dan sains generasi sekarang. Sudah pasti penyebab menurunnya kemampuan kognisi itu karena minimnya literasi membaca yang ditandai oleh menurunnya minat membaca buku teks atau literatur, termasuk sejarah-geografi, berhitung yang membuat pengetahuan dasar tidak terbangun. Pertanyaannya, bagaimana kemampuan kognisi dan lebih luas lagi kemampuan literasi meningkat, bila anak-anak generasi bangsa tidak membaca dan tidak belajar?
Buruknya kondisi ini juga tidak lepas dari buruknya kemampuan masyarakat bangsa kita dalam mengelola penggunaan teknologi digital. Ya, apa yang sedang terjadi dan berlangsung dalam era ini adalah ketergantungan pada teknologi digital. Adalah fakta yang tak terbantah bahwa siswa lebih sering mengakses informasi instan daripada mempelajari secara mendalam, sehingga daya ingat jangka panjang berkurang.
Selain hal itu, apa yang kita sudah pahami juga di dunia pendidikan yang harusnya mampu membangun kemampuan kognisi siswa juga sudah kalah cepat dibandingkan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi. Kondisi ini juga bisa terjadi pada guru sebagai pihak yang melakukan transfer pengetahuan kepada siswa di sekolah.
Biasanya terkait dengan metodologi pembelajaran. Misalnya, kurangnya metode pembelajaran kontekstual, sehingga pelajaran Geografi dan sejarah sering diajarkan secara hafalan, bukan melalui pengalaman nyata atau keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya itu, kurangnya penguasaan metodologi pembelajaran guru untuk membangun kemampuan membaca dan literasi siswa dalam mengajar juga menjadi masalah yang tak tertangani oleh pemerintah.
Jadi baik sebab dan akibat rendahnya kemampuan literasi dan pengaruh luar yakni distraksi digital seperti doom scrolling, brain rot, paparan berlebihan pada media sosial dan konten cepat mengurangi fokus dan kemampuan berpikir kritis. Apalagi kurangnya integrasi lintas disiplin seperti halnya pelajaran Geografi dan sejarah yang jarang dikaitkan dengan isu kontemporer (misalnya perubahan iklim, konflik global), sehingga siswa merasa tidak relevan dan merasa tidak perlu tahu dan merasa tidak dibutuhkan.
Menurunnya kemampuan kognisi para siswa genarasi masa kini terasa semakin kompleks dan sulit diuraikan apabila tidak ada kepedulian dan kemauan untuk mengantisipasi kondisi ini. Dikatakan demikian karena karena fenomena ini akan menyebabkan bencana baru di kalangan genarasi masa kini.
Kita tentu tidak menginginkan hilangnya identitas budaya dan sejarah lokal. Juga tidak ingin semakin lemahnya kemampuan analisis spasial (misalnya memahami peta, lokasi, geopolitik di kalangan generasi bangsa ini. Lebih celaka lagi, apabila yang terjadi adalah semakin rendahnya kesadaran kritis terhadap isu global dan nasional.
Oleh sebab itu, selayaknya pemerintah dan dunia pendidikan mencari strategi untuk mengantisipasi dan memulihkan kondisi ini. Diperlukan niat baik atau political will pemerintah untuk lebih serius membangun kemampuan literasi bangsa. Untuk membangun kemampuan literasi, numerasi dan sain, dibutuhkan sebuah gerakan bersama, baik di lembaga-lembaga pendidikan, maupun di rumah tangga.
Khusus di sekolah, model pembelajaran berbasis proyek, misalnya membuat peta interaktif daerah sendiri atau menulis cerita sejarah daerah hingga keluarga adalah salah satu langkah positif dan strategis. Kedua, melakukan Integrasi teknologi positif, yakni dengan menggunakan aplikasi peta digital, simulasi sejarah, atau game edukatif.
Strategi yang tidak kalah menarik adalah dengan cara storytelling dan visualisasi: Menghidupkan sejarah dan geografi lewat narasi, ilustrasi, atau film pendek. Semua ini akan sangat menarik bila dilakukan pula kegiatan lapangan, seperti studi ke museum, situs sejarah, atau observasi lingkungan sekitar.
Tentu saja, agar lebih menarik apabila disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan sistem bilingual dan kontekstual. Tentu saja dengan mengaitkan materi dengan bahasa sehari-hari dan isu lokal agar lebih relevan.
Nah, sesungguhnya masalah menurunnya kemampuan kognitif siswa atau generasi sekarang bisa diantisipasi oleh semua stakeholders, di keluarga, masyarakat dan pemerintah. Untuk itu dibutuhkan kemauan atau komitmen bersama untuk menyelamatkan generasi bangsa ini, kini dan di masa depan. Kalau mau, pasti bisa. Bukankah praktisi pendidikan kita sudah banyak belajar pada keberhasilan Finlandia dalam hal ini?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






