Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Tulisan yang berjudul “ Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun” yang dimuat di Potretonline.com, edisi Sabtu, 21 Februari 2026, mendapat tanggapan dari seorang pembaca. Ia mengatakan dalam sebuah komentar yang singkat. Katanya begini.
“ Yang lebih menurun dan mengerikan dibanding kemampuan koginitif siswa adalah kemampuan afektif ( etika, moral, nilai) /karakter siswa. mohon diulas. Demikian ungkapan singkat bung Muhasir yang disampaikan lewat pesan di WhatsApp.
Sebuah ungkapan dan permintaan yang juga penting diberikan respons positif. Tentu respon itu tidak semata ditujukan kepada Muhasir, tetapi menjadi bahan renungan kita bersama. Ya, sebagai bahan renungan bersama yang harus kita tanyakan ulang. Kita konfirmasi lagi, apakah fenomena yang demikian terjadi di dalam kehidupan kaum muda saat ini?
Nah, afektif adalah satu dari tiga domain dalam sebuah proses pembelajaran atau proses pendidikan yang berlangsung di sekolah, maupun di luar sekolah, hingga ke unit lembaga pendidikan yang terkecil, yakni keluarga. Sebagaimana kita ketahui dalam teori Bloom, bahwa dalam proses pembelajaran atau pendidikan, perubahan yang diharapkan biasanya mencakup tiga domain utama menurut kerangka Taksonomi Bloom. Ketiga domain tersebut mencakup domain kognitif ( Cognitive domain), domain Afektif (affective domain) dan domain psikomotorik ( psychomotor domain).
Artinya, sebuah proses pembelajaran atau pendidikan bertujuan mengubah siswa yang tidak tahu, menjadi tahu, mengubah sikap siswa dari tidak mau menjadi mau, memiliki nilai dan emosi yang baik, serta memiliki karakter, empati dan internalisasi nilai. Serta ke tiga, mengubah siswa yang tidak bisa menjadi bisa dengan ketrampilan yang diberikan.
Idealnya, setelah proses pembelajaran dan pendidikan dipraktikkan atau diberikan kepada siswa, ketiga domain itu berubah atau meningkat dari buruk menjadi baik, dari rendah meningkat tinggi. Karena dalam realitas pembelajaran, tujuan yang dirumuskan untuk dicapai, sering terkendala pada tahapan-tahapan tertentu.
Bisa jadi, guru mungkin telah berhasil meningkatkan domain kognitif, walau sekarang domain ini juga dihadapkan pada fenomena menurunnya kemampuan kognitif siswa. Di sisi lain, banyak guru yang berhasil mengubah kemampuan siswa dengan ketrampilan, sehingga berubah dari tidak mampu menjadi mampu. Namun, masih berhadapan dengan kesulitan mengubah domain afektif. Sehingga dalam banyak kasus, banyak siswa yang memiliki kemampuan kognitif tinggi, dan juga bisa atau mampu karena domain psikomotorik berubah, tetapi gagal membuat siswa gagal pada domain afektif.
Hal ini ditandai dengan rendahnya kemampuan domain afektif, di mana banyak siswa yang tidak memiliki kemauan tinggi, memiliki sikap dan karakter yang rendah serta minus dengan nilai dan norma. Akibatnya guru berhadapan dengan persoalan karakter siswa yang bertentangan dengan prinsip nilai, moral dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Ada banyak pendapat mengatakan bahwa saat ini sekolah atau lembaga pendidikan gagal dalam meningkatkan kemampuan afektif siswa di sekolah atau lembaga pendidikan. Sehingga, isu kegagalan sekolah dalam meningkatkan kemampuan afektif siswa di era digital menjadi sorotan hangat dan penting. Kemampuan afektif yang mencakup aspek sikap, nilai, empati, dan keterampilan sosial-emosional dinilai semakin memburuk.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa sekolah sering lebih fokus pada aspek kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (keterampilan teknis), itu pun kini dinilai gagal, sejalan semakin rendahnya kemampuan kognitif di kalangan siswa di sekolah saat ini. Semakin buruk ketika ranah afektif yang sangat penting, kurang mendapat perhatian.
📚 Artikel Terkait
Bila kita mau mencari faktor penyebab, mungkin faktor pertama yang teridentifikasi adalah faktor dominasi teknologi. Bisa jadi kita akan berkata bahwa pembelajaran online yang menekankan akses informasi dan kecepatan, sering mengabaikan interaksi emosional dan nilai. Padahal teknologi bukalah faktor internal yang menjadi akar masalah. Namun, kecenderungan kita melihat kealahan atau kelemahan bukan pada diri yang menjadi akar masalahnya.
Tak dapat dipungkiri pula bahwa kurikulum juga sering menjadi kambing hitamnya. Alasannya karena kurikulum yang kognitif-sentris. Ditambah lagi karena Inovasi kurikulum di era digital lebih menekankan literasi digital. Sementara berpikir kritis, dan kolaborasi, serta aspek afektif seperti empati dan etika kurang terintegrasi.
Kesalahan lain yang sering muncul adalah karena minimnya interaksi tatap muka. Padahal selama ini dalam sistem sekolah atau pendidikan, pembelajaran masih berlangsung dalam konsep tatap muka. Kalaupun ada sistem pembelajaran daring yang mengurangi kesempatan siswa untuk berlatih keterampilan sosial, saat ini tidak terlalu sering lagi setelah Covid 19. Namun, masih saja bisa menimbulkan masalah emosional seperti stres, depresi, atau kecemasan.
Hal lain yang juga sering menjadi sorotan dan dianggap sebagai penyebab adalah karena kurangnya pelatihan guru. Benarkah? Tentu pendapat ini tidak bisa kita terima, karena selama ini kita menyaksikan sangat banyak kegiatan peningkatan kualitas guru dilakukan. Namun, karena rendahnya kesadaran pengembangan diri ( self development) di kalangan guru, banyak guru belum terlatih dengan strategi pedagogis untuk menumbuhkan kecerdasan emosional siswa di ruang digital. Semua faktor penyebab yang mencuat di atas adalah faktor eksternal, yakni faktor dari luar diri siswa.
Andai kita mau kaji lebih dalam, semua faktor penyebab atau sebut saja akar masalah dari degradasi kemampuan afektif disebabkan oleh faktor rendahnya kemampuan literasi anak negeri. Pertanyaannya bagaimana siswa bisa meningkatkan kemampuan kognitif dan afektif ketika minat membaca siswa sangat rendah. Rendahnya minat membaca menjadi akar masalah rendahnya kemampuan memahami bacaan, rendahnya kemampuan untuk tahu dan faham makna setiap isi bacaan yang dibaca. Bagaiamana siswa bisa memiliki sikap kritis, kalau isi bacaan tidak dimengerti dan tidak mampu mengidentifikasi masalah, apalagi pada tataran menganalisis dan mencari solusi?
Maka rendahnya kemampuan literasi siswa adalah akar masalah pendidikan kita yang menyebabkan kemampuan kognitif, afektif bahkan psikomotorik rendah.
Semua ini akan bermuara pada rendahnya kesadaran untuk bersikap baik, bermoralitas tinggi, dan berperilaku sejalan dengan norma dan moralitas yang ideal. Karena yang terjadi di dalam masyarakat kita sekarang yang tampak adalah dampak dari semua itu berupa menurunnya empati dan solidaritas sosial karena interaksi lebih banyak terjadi lewat layar, sebagai buah dari kemajuan teknologi. Kedua, suburnya sikap individualisme dan isolasi akibat minimnya pengalaman kebersamaan di sekolah.
Parahnya lagi, para siswa atau generasi muda kini rentan terhadap gangguan sosial-emosional seperti psikosomatis, stres, dan kecemasan serta berbagai macam fenomena lain yang membuat kita merasa sangat galau menyaksikan segala bentuk perubahan perilaku dan gaya hidup siswa atau generasi muda saat ini. Bisa jadi kegalauan ini dikatakan sebagai kegalauan kaum baby boomers. Namun demikian, degradasi kemampuan kolektif, afektif dan juga psikomotorik harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, bukan saja sekolah, tetapi masyarakat dan pemerintah. Lebih menukik lagi adalah keluarga. Sebab budi pekerti atau adab dan akhlak mulia itu bersumber dan berawal dari rumah.
Namun demikian, karena masalah ini menjadi masalah bersama yang mendesak untuk dicari solusi, di sekolah atau lembaga pendidikan, maka sekolah atau lembaga pendidikan harus mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulum digital, bukan hanya sebagai tambahan, tetapi pokok. Bukan hanya itu, pembelajaran berbasis proyek sosial yang melibatkan kerja sama nyata di komunitas, perlu diperbanyak oleh lembaga pendidikan.
Agar semua itu bisa teraplikasi dan terlaksana dengan baik di sekolah, sangat diperlukan upaya peningkatan kapasitas guru lewat kegiatan pelatihan guru untuk mengembangkan keterampilan sosial-emosional siswa. Guru juga harus dibekali dengan berbagai strategi atau pendekatan dalam mengajar karakter yang beretika dan norma serta nilai kepada siswa, Salah satu pendekatan yang juga perlu dipahami oleh guru adalah pendekatan blended learning agar keseimbangan antara interaksi tatap muka dan digital tetap terjaga.
Singkat cerita, kegagalan sekolah di era digital bukan semata karena teknologi, melainkan karena kurangnya keseimbangan antara penguasaan pengetahuan dan pembentukan sikap. Sekolah perlu menata ulang strategi agar siswa tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara afektif.
Oleh sebab itu, ketiga domain yang disebut di awal tulisan ini juga saling melengkapi: pendidikan tidak hanya mengubah cara berpikir, tetapi juga membentuk sikap dan melatih keterampilan nyata.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





