• Latest
Di Atas Langit Masih Ada Langit - 27beac2c fa02 4847 b550 a058672dcbe7 | #Kontemplasi | Potret Online

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Februari 18, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Di Atas Langit Masih Ada Langit - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Kontemplasi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Di Atas Langit Masih Ada Langit - 27beac2c fa02 4847 b550 a058672dcbe7 | #Kontemplasi | Potret Online

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Redaksi by Redaksi
Februari 18, 2026
in #Kontemplasi, Kontemplasi
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Anto Narasoma

ALLAH membeci mereka yang serakah dan merasa lebih hebat dari orang lain.

Ini bentuk kesombongan dan keangkuhan yang membahayakan nilai dasar akhlak dan kepribadian manusia sejati.

Karena itu manusia harus selalu menyadari nilai kemampuan dirinya yang terbatas. Sebab sehebat apa pun diri seseorang, ia hanya menguasai satu ruang yang hanya itu dikuasainya.

Sedangkan ketika ada ruang lain yang dikuasai oleh manusia lain, maka nilai kita berada di belakang manusia yang menguasai ruang itu.

Dalam keadaan ini, fakta yang dihadapi harus menjadi pertimbangan hati nuarani. Sebab akal terkadang tak mampu untuk menalar kekurangan yang ada di dalam diri sendiri.

Akibatnya, ketika kita menghadapi persoalan.orang lain yang berada di depan kita, emosi kita akan terbakar. Akibatnya kita berusaha keras untuk mendahului orang yang ada di depan kita.

Padahal kalau kita mampu mendahului mereka, apakah kita merasa menang? Baik, katakanlah, kalau kita menang, ternyata di depan kita masih ada pemenang lain yang lebih cepat dan mendahului kita.

Kalau kita turuti emosi yang tak memiliki rasa syukur, kita akan mengejar pemenang itu lagi. Kalau pun kita menang, kita pun akan disalib pemenang lain.

Karena itu kejar-mengejar seperti itu tidak ada gunanya. Karena bentuk kemenangan seperti itu adalah kemenangan semu, yang tidak mampu meredam ambisi dan melupakan rasa syukur ke pada Allah SWT.

Yang jadi pertayaan, apakah kalau kita menerapkan kebijakan jalan santai, pelan dan tidak memancing emosi dan kebencian orang lain, kita dicap kalah dalam persaingan itu?

Jawabnya tentu tidak. Kita mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan tidak memicu kecepatan lebih, kadang-kadang kita ada di depan. Sedangkan di belakang kita masih ada mobil-mobil lain yang mengiringi perjalanan kita.

Apakah kita merasa menang? Lagi-lagi jawabnya tidak. Justru dengan berjalan santai kita akan selamat, tenang dan tiba di garis batas tujuan kita.

Sedangkan kendaraan lain akan menempati ruang di mana kita pernah menempatinya. Apakah mereka kalah? Tidak juga.

Posisi kita menulis puisi bisa seperti itu. Jika kita berada pada posisi awal, mutu karya kita belum sekualitas penyair yang lebih dahulu mengembangkan eksistensinya.

Karena itu biarlah kita berada di posisi belakang sembari belajar agar nanti kita bisa ada di depan. Karena proses kehidupan itu tidak bisa langsung secara instan, tiba-tiba bisa ada di depan. Itulah proses alamiah yang berputar sesuai kodrat dan ketentuan Allah SWT.

Di sini kita dituntut untuk menyadari tentang ukuran kemampuan diri sendiri yang penuh keterbatasan. Sebab apa yang terlihat dan kita alami sesungguhnya hal yang nisbi dan tak mungkin bisa kita capai, karena keterbatasan kemampuan kita sebagai manusia.

Jika kita kaji sejak awal, dahulu dan saling mendahului tak ada artinya. Bahkan batasan siapa menang dan siapa yang kalah, itu suatu fakta yang sulit diterjemahkan akal pikiran. Mengapa?

Baca Juga

Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Ilustrasi artikel

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026

Seperti mengendarai seunit mobil, ketika kita mendahului mobil yang ada di depan, tiba-tiba ada mobil lain yang juga mendahului mobil kita.

Dahulu dan saling mendahulu, tak akan ada habis-habisnya. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak akan memperoleh posisi untuk berada di depan. Sebab ketika kita ada di depan, ternyata masih ada yang lain di depan kita.

Sebaliknya ketika kita berjalan santai, ternyata di belakang kita masih ada mobil lain yang jalannua lebih perlahan. Apakah kita berada di posisi yang kalah? Jawabannya tentu tidak.

Karena itu kalah menang di dalam mengisi nilai kehidupan ini adalah sesuatu yang nisbi. Karena itu Allah SWT memberikan batasan-batasan sosial ke pada setiap manusia.

ADVERTISEMENT

Kita bisa menjadi yang terbaik dalam satu bidang. Tapi ketika kita berbicara pada satu bidang lainnya, terrnyata kita tidak ada apa-apanya.

Karena itu coba kita hentikan sikap ingin menang sendiri. Tak ada istilah memang disaat kita berada di depan. Karena masih ada orang lain yang lebih jauh mendahului kita. Seperti kata pepatah, di i atas langit, masih ada langit. (*)

Oktober 2020

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Next Post
Di Atas Langit Masih Ada Langit - IMG_9011 | #Kontemplasi | Potret Online

Kelas Afirmasi Masih Perlu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com