• Latest
Tiga Bulan Setelah Banjir: Ekologi, Ingatan, dan Kedalaman Struktural Perdamaian Aceh - 226f57a9 ca98 480d ae77 6f2558072e64 | #Korban Bencana | Potret Online

Tiga Bulan Setelah Banjir: Ekologi, Ingatan, dan Kedalaman Struktural Perdamaian Aceh

Februari 12, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Tiga Bulan Setelah Banjir: Ekologi, Ingatan, dan Kedalaman Struktural Perdamaian Aceh - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | #Korban Bencana | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tiga Bulan Setelah Banjir: Ekologi, Ingatan, dan Kedalaman Struktural Perdamaian Aceh

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Februari 12, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 5 mins read
0
Tiga Bulan Setelah Banjir: Ekologi, Ingatan, dan Kedalaman Struktural Perdamaian Aceh - 226f57a9 ca98 480d ae77 6f2558072e64 | #Korban Bencana | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Dayan Abdurrahman

Sudah hampir tiga bulan sejak banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh. Air memang telah surut. Lumpur mulai mengering. Media nasional pun perlahan berpindah ke isu lain—politik, pemilu, dinamika ekonomi, atau sensasi yang datang dan pergi. Namun bagi masyarakat yang rumahnya terendam, sawahnya rusak, jalannya putus, dan sumber penghidupannya terganggu, bencana itu belum selesai. Dampaknya masih terasa. Bahkan mungkin baru benar-benar dimulai.

Di titik inilah tulisan ini menjadi penting. Bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk memastikan bahwa krisis ekologis ini tidak menghilang dari percakapan publik begitu saja. Karena jika ia hilang dari ingatan kolektif nasional, maka yang tertinggal hanyalah beban lokal yang harus dipikul sendiri oleh Aceh.

Baca Juga
  • Siswa SMA Negeri 1 Ingin Jaya, Aceh Besar, Lulus 100 Persen.
  • Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga

Bencana yang Tidak Sederhana

Banjir sering disebut sebagai bencana alam. Hujan tinggi, sungai meluap, dataran rendah tergenang. Selesai. Namun, apakah sesederhana itu?

Baca Juga
  • SEPEDA DAN SEJARAHNYA
  • Barsela Dalam Catatan Sejarah, Kawasan Kaya Rempah Abad 18 dan Abad 19

Kita tahu bahwa Sumatera dalam dua dekade terakhir mengalami degradasi hutan yang signifikan. Alih fungsi lahan, konsesi industri ekstraktif, pembukaan perkebunan skala besar, serta lemahnya pengawasan tata ruang telah mengubah lanskap ekologis secara drastis. Hutan yang dahulu menjadi penyerap alami air kini berkurang. Sungai kehilangan penyangga. Tanah kehilangan daya resap.

Ketika hujan ekstrem datang—yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global—dampaknya tidak lagi biasa. Air tidak lagi terserap, tetapi langsung menjadi banjir.

Baca Juga
  • Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
  • Marwah Republik atau Keselamatan Rakyat?Ketika Pemda Aceh Membuka Pintu Dunia di Saat Negara Menutupnya

Maka pertanyaannya menjadi lebih dalam: apakah ini murni bencana alam, ataukah bencana ekologis yang diperparah oleh keputusan-keputusan kebijakan jangka panjang?

Jika penyebabnya bersifat struktural dan lintas-dekade, maka responsnya pun semestinya tidak sekadar administratif.

Tiga Bulan: Waktu yang Menguji Ingatan

Hampir tiga bulan berlalu. Dalam ritme politik nasional, tiga bulan adalah waktu yang panjang. Isu datang dan pergi. Narasi berganti. Agenda pusat sibuk dengan dinamika kekuasaan, ekonomi makro, dan kepentingan strategis lainnya.

Namun di lapangan, pemulihan berjalan lambat. Sebagian warga masih memperbaiki rumah secara mandiri. Petani masih menghitung kerugian panen. Infrastruktur masih belum sepenuhnya pulih.

Di sinilah terasa jarak antara pusat dan daerah. Bukan semata jarak geografis, tetapi jarak perhatian.

Aceh bukan wilayah biasa dalam sejarah Indonesia. Ia pernah mengalami konflik panjang. Ia pernah mengalami tsunami dahsyat 2004 yang mengguncang dunia. Solidaritas internasional pernah mengalir deras ke tanah ini. Ingatan kolektif tentang pengakuan global itu masih hidup.

Ketika hari ini krisis ekologis terjadi dan respons terasa biasa-biasa saja, sebagian masyarakat merasakan sesuatu yang hilang: pengakuan.

Politik Klasifikasi dan Rasa Keadilan

Dalam tata kelola kebencanaan, status sangat penting. Penetapan status bencana nasional atau provinsi bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal simbol dan mobilisasi sumber daya.

Sebagian kalangan di Aceh mempertanyakan: jika kerusakan ekologis ini dipengaruhi oleh kebijakan nasional yang berdampak luas terhadap hutan dan tata ruang, mengapa penanganannya seolah terbatas pada level daerah?

Di sini muncul ketegangan antara skala sebab dan skala tanggung jawab.

Jika penyebabnya lintas-regional dan sistemik, maka wajar jika masyarakat berharap pengakuan dan mobilisasi nasional yang lebih kuat. Ketika hal itu tidak sepenuhnya dirasakan, lahirlah persepsi bahwa Aceh kembali memikul beban sendiri.

Ini bukan sekadar kritik emosional. Ini soal legitimasi dan rasa keadilan.

Dalam wilayah pascakonflik, rasa diakui sama pentingnya dengan bantuan material. Perdamaian bukan hanya hasil perjanjian politik, tetapi hasil perasaan bahwa hubungan pusat-daerah berjalan adil dan setara.

Ekologi dan Kedalaman Perdamaian

Perdamaian Aceh selama hampir dua dekade patut diapresiasi. Tidak ada konflik bersenjata. Demokrasi lokal berjalan. Ulama, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi memainkan peran penyangga sosial.

Namun krisis ekologis menguji kedalaman struktural perdamaian itu.

Ketika masyarakat merasa bahwa kerusakan lingkungan adalah konsekuensi dari model pembangunan ekstraktif, sementara manfaat ekonomi tidak sepenuhnya kembali ke daerah, maka muncul pertanyaan mendasar: untuk siapa sebenarnya sumber daya ini dikelola?

Jika hutan rusak dan banjir meluas, sementara keputusan ekstraksi diambil jauh dari komunitas terdampak, maka hubungan antara pembangunan dan keadilan menjadi tidak seimbang.

Inilah yang berpotensi mengganggu kedalaman perdamaian—bukan dalam bentuk kekerasan, tetapi dalam bentuk erosi kepercayaan.

Suara Generasi Muda

Yang menarik, generasi muda Aceh hari ini tidak berbicara dengan bahasa senjata. Mereka berbicara melalui media sosial, diskusi kampus, dan ruang-ruang publik.

Mereka mempertanyakan kebijakan. Mereka membahas keadilan ekologis. Mereka mengaitkan banjir dengan tata kelola sumber daya.

Ini adalah bentuk politik memori yang baru. Ingatan tentang konflik masa lalu tidak hilang, tetapi berubah bentuk. Ia menjadi refleksi kritis terhadap kebijakan hari ini.

Selama ruang dialog tetap terbuka, energi ini bisa menjadi kekuatan konstruktif. Namun jika diabaikan, ia bisa berubah menjadi jarak psikologis antara daerah dan pusat.

Perspektif Nasional dan Global

Tulisan ini bukan anti-pemerintah. Ini ajakan berpikir bersama.

Di era perubahan iklim, banyak negara menghadapi tantangan serupa. Bencana ekologis semakin sering terjadi. Negara dituntut bukan hanya cepat tanggap, tetapi juga jujur mengakui akar struktural masalah.

Indonesia sebagai negara besar tidak bisa melihat krisis ekologis sebagai peristiwa lokal semata. Ia bagian dari arsitektur nasional.

Aceh, dengan sejarahnya, adalah barometer penting. Jika keadilan ekologis ditegakkan di sini, maka pesan kuat akan terkirim ke seluruh negeri: bahwa pembangunan dan lingkungan berjalan seimbang.

Mengangkat Harkat Aceh

Tulisan ini lahir dari kepedulian, bukan perlawanan. Ia ingin mengangkat harkat mereka yang masih terdampak. Mereka yang rumahnya rusak. Mereka yang lahannya hilang. Mereka yang mungkin merasa ditinggalkan ketika kamera media sudah berpindah.

Mengangkat harkat bukan berarti mengobarkan amarah. Mengangkat harkat berarti memastikan bahwa penderitaan tidak dikecilkan, bahwa penyebab tidak disederhanakan, dan bahwa tanggung jawab dibagi secara adil.

Aceh pernah menjadi pusat solidaritas dunia. Hari ini, ia tidak meminta simpati berlebihan. Ia meminta keadilan ekologis dan pengakuan proporsional.

Penutup: Jangan Biarkan Ia Hilang

Tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk melupakan, tetapi juga cukup untuk belajar.

Jika banjir ini hanya dicatat sebagai statistik curah hujan, maka kita kehilangan kesempatan memperbaiki struktur yang lebih dalam. Jika ia dipahami sebagai sinyal bahwa model pembangunan perlu ditinjau ulang, maka tragedi ini bisa menjadi titik balik.

Perdamaian tidak hanya dijaga dengan senjata yang dibungkam. Ia dijaga dengan hutan yang dipulihkan, sungai yang dirawat, dan kebijakan yang adil.

Aceh tidak boleh ditinggalkan—bukan secara fisik, bukan secara simbolik, dan bukan secara ekologis.

Karena ketika ekologi diabaikan, yang tergerus bukan hanya tanah dan hutan, tetapi juga kepercayaan dan martabat.

Dan martabat adalah fondasi terdalam dari sebuah perdamaian.

Dayan Abdurrahman

Share234SendTweet146Share
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Next Post
Tiga Bulan Setelah Banjir: Ekologi, Ingatan, dan Kedalaman Struktural Perdamaian Aceh - IMG_9011 | #Korban Bencana | Potret Online

Gamang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com