POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Derita Guru Agama Dianiaya Kepala Sekolah

RedaksiOleh Redaksi
February 8, 2026
Derita Guru Agama Dianiaya Kepala Sekolah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ini cerpen pertama saya di Februari 2026. Cerpen berdasarkan kisah nyata (based on true story). Kisah seorang ibu, guru agama mengalami nasib malang, dianiaya oleh kepala sekolahnya sendiri. Simak kisahnya, siapkan tisu dan Koptagulnya, wak!

Pulau Sebatik tidak pernah ribut. Ia pulau perbatasan, tempat angin lebih sering bicara daripada manusia. Pagi di sana lahir dari laut, disusui kabut, lalu diserahkan pada sekolah negeri yang dindingnya penuh slogan moral. Di salah satu ruang kelas itulah Sitti Halimah mengajarkan Tuhan, bukan dengan suara keras, tapi dengan kesabaran. Ia guru agama di SD Negeri 001 Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Profesi yang katanya suci, tapi nasibnya sering lebih hina dari bangku reyot di sudut kelas.

Sitti Halimah bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat. Ia bukan pemilik kuasa. Ia hanya guru yang datang tepat waktu, pulang paling akhir, dan membawa pulang senyum palsu agar anak-anaknya tak ikut menanggung beban. Di rumah, ia ibu. Di sekolah, ia seharusnya pendidik. Namun takdir menuliskannya sebagai korban.

Segalanya bermula dari pengucilan. Ia dilarang masuk ruang guru. Ruang yang seharusnya jadi tempat berbagi lelah. Ia diasingkan ke perpustakaan, tanpa fasilitas, tanpa kursi layak, tanpa hak berbincang. Ia tak boleh ikut kegiatan sekolah. Namanya dicoret dari grup komunikasi. Dalam sunyi itu, martabatnya dilucuti pelan-pelan. Bullying tidak selalu berteriak, kadang ia berbisik, tapi mematikan.

Lalu kekerasan itu datang, telanjang dan brutal. Kursi melayang. Sekop sampah menyusul. Benda-benda mati dijadikan alat kuasa. Di sekolah. Di hadapan nilai-nilai yang setiap hari ia ajarkan. Ironi itu menusuk. Guru agama diajari kekerasan oleh pemimpin pendidikan. Jika ini bukan satire paling kejam, entah apa namanya.

Tubuh Sitti Halimah menanggung luka. Psikologinya runtuh. Kondisinya merosot tajam hingga harus dirawat dan dirujuk ke Kota Tarakan. Foto dirinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit menyebar. Kerudung cokelat, wajah pucat, selang infus terpasang. Seorang perempuan yang selama ini menampung beban orang lain, akhirnya tak sanggup lagi menampung dirinya sendiri.

📚 Artikel Terkait

Memaknai Kemerdekaan

I am Dreaming to Make A Book

Ironi Literasi Numerasi Anak Negeri

Siswi SMKN 1 Calang Raih Medali Emas di Ajang Banda Aceh Taekwondo Championship

Namun penderitaan tidak berhenti pada tubuh. Ia menjalar ke perut. Ke dapur. Ke rekening yang kosong. Kepala sekolah diduga menahan tanda tangan administratif, sebuah goresan pena yang menentukan hidup. Akibatnya, tunjangan sertifikasi selama satu tahun tak cair. Angkanya jelas, sekitar Rp45 juta. Setahun penuh bekerja, setahun penuh menunggu, setahun penuh dihukum tanpa pengadilan. Tanda tangan itu berubah menjadi algojo yang rapi, membunuh perlahan tanpa darah.

Kisah ini meledak bukan karena pejabat bicara, melainkan karena seorang anak menulis. Muhammad Nurhidayat, anak kandung Sitti Halimah, menumpahkan luka yang selama ini disimpan ibunya. Ia menulis tentang senyum yang dipaksakan, tentang kesabaran yang diperas habis, tentang seorang ibu yang tetap tegar meski dilempar kursi dan sekop sampah. “Mama dizolimi,” tulisnya. Kalimat sederhana yang menghantam nurani ribuan orang.

Warganet marah. Empati menjelma amarah kolektif. Nama kepala sekolah disebut dengan kecaman. Namun dari pihak terduga pelaku, sunyi. Sang Kepsek seperti ditelan bumi. Ia menghilang.

Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan akan melakukan investigasi. Sementara dari luar sekolah, suara datang lebih keras. Ikatan Alumni STIT Ibnu Khaldun Nunukan mengecam keras. Mereka menyebut tindakan itu melampaui batas kewenangan, mencederai martabat guru, melanggar kode etik pendidik.

Ini bukan sekadar konflik internal sekolah. Ini tragedi tentang kuasa yang lupa diri. Tentang pendidikan yang berubah jadi ruang intimidasi. Tentang guru agama yang mengajarkan sabar, tapi tak diberi keadilan. Jika pembaca menangis, jangan malu. Air mata adalah satu-satunya hal yang masih jujur di negeri kursi terbang dan tanda tangan yang membunuh perlahan.

Foto Ai hanya ilustrasi, sumber berita: msn.com

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 66x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 54x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
145
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Ketika Demokrasi Bercermin: Antara Efisiensi, Ingatan dan Hak untuk Memilih

Independen atau Terkendali: Catatan tentang Kekuasaan yang Diawasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00