POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Orangtuaku dan Keluargaku Tidur dan Menginap di Jalan yang Lembab

RedaksiOleh Redaksi
January 29, 2026
Orangtuaku dan Keluargaku Tidur dan Menginap di Jalan yang Lembab
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rahmiayana 

Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur

Banjir bandang dan longsor yang menerjang  sejumlah kabupaten di Aceh, telah ikut memorak-poranda kampung kami,  Gampong Pantee Tambong , yang berada di kecamatan Pantee Bidari , kabupaten Aceh  Timur. Peristiwa yang memilukan itu terjadi di akhir November 2025 lalu.

Kejadian yang menyisakan banyak cerita, kehilangan, sedih bahkan trauma yang mendalam bagi para korban. Aku merasa sangat sedih menyakasikan dan merasakan penderitaan akibat bencana yang memilukan itu. 

Aku memang tidak langsung berenang dalam  arus banjir yang sangat merusak dan menghanyutkan rumah dan bangunan serta kayu gelondongan dan lumpur itu. Karena pada hari itu aku masih sedang bekerja sebagai karyawan di POTRET Gallery Banda Aceh. Aku kala itu tidak menyangka bahwa bencana itu sebesar dan separah itu. Sehingga aku tidak tahu seperti apa nasib orangtuaku yang tinggal di kampungku, gampong Pante Tambong, Pante Bidari Aceh Timur.

Aku berusaha mencari tahu keadaan orangtuaku. Mulai dari tanggal 25 November 2025 aku menelepon orang tua di rumah dengan penuh kegelisahan seorang anak terhadap nasib kedua orang tua yang berada di tengah bencana. 

Hari  itu  akunmemang tergerak hati ingin menelpon ke rumah. Padahal sebelumnya aku tidak pernah menelepon pada waktu siang 13:00, tapi entah mengapa hari itu  tergerak hatiku untuk telpon. aat itu juga telpon jun diangkat oleh ibuku. Seperti biasa, saya menanyakan kabar, dan saat itu juga  ibu berkata, “ Rahmi nyoo ie ka di ek “ ( Rahmi, ini air sudah naik). Mak teungoh peubereh barang, peu ek u ateuh para ” (Rahmi ini air udah naik ini mama lagi beres barang untuk dinaikkan ke atap ).

Tiba tiba, tak lama setelah itu telponnnya mati, aku mencoba untuk menghubungi kembali, tapii tidak bisa.  Hatiku mulai tidak tenang , aku mencoba hubungi kembali di pukul  16:00. Sama juga,  tidak bisa terhubung. Kepanikan mulai ada,  tapi aku mencoba untuk berfikir yang baik baik. 

Besoknya 26 November 2025 akun mencoba telepon kembali,  tapii tetap tidak bisa juga.  Tanggal 27,28,29,30 aku terus menanyakan kabar ke teman teman ,tetangga dan saudara,  tapi hasilnya nihil. Di saat itu hatiku merasa tidak tenang sekali, apalagi kamii juga hilang jaringan.

Mungkin akibat banjir bandang yang menimpa saudara kita, jadi di tempat kami juga mati lampu atau listrik padam dan tidak ada jaringan. Oleh sebab itu komunikasi dengan orang tua dan lainnya juga terputus .

📚 Artikel Terkait

Mengenang Ridwan Saidi

Forum Kreator Era Artificial Intelligence ( KEAI) Terbentuk di Sumbar

Diplomasi Urban dan Peran Menlu RI

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2)

Merantau di kampung orang bukan lah hal yang mudah untukku ,apalagi dengan kondisi orang tua belum ada kabar sama sekalii di kampung,dengan berat hati aku memutuskan pulang di tanggal 1 Desember 2026. Untuk pulang pun butuh perjuangan yang sangat extra hati hati, karena belum ada jaringan untuk komunikasi,  bahkan untuk ingin pulang saja kita susah. 

Singkat cerita, aku dan teman kerjaku Masyitah berangkat dari  pukul 23:30. Kami naik mobil hi Ace. Pejalanan ke Lhok Nibong, biasanya ditepuh lebih kurang 7-8 jam. Namun perjalanan ini lebih lama, karena banyak jalan dan rusak dan jembatan yang terputus serta jalan yang tertimbun lumpur. Di sepanjang perjalanan aku melihat banyak kota yang tedampak banjir.  

Sesampai di Kuta Blang pada pagi hari. Kami melihat banyak sekali orang yang menunggu giliran untuk menyeberangi sungai dengan perahu atau boat kecil dengan satu mesin. Perahu yang sangat kecil,  hanya muat beberapa orang. Itupun tidak memakai baju pelampung. Padahal mengarungi sungai yang sangat deras/ Dengan hati yang sangat ketakutan ,namun semua ketakutan itu aku hilangkan demi ingin bertemu dengan orangg tua yang belum ada kabar sama sekali. 

Setelah menyeberang aku naik mobill lain lagi karena jarak Banda Aceh dengan kampungku itu sekitaran 7_8 Jam ,harusnya sudah sampai. Namun karena banjir melanda, jadi aku ke Lhok Nibong  baru bisa sampai pada  12,30  WIB.  Sebelum itu aku sudah menelpon adekku yang di Langsa (cowok) untuk pulang bareng ke rumah. Takutnya masih ada banjir, jadi kalo berdua tidak begitu takut untuk pulang. 

Di Lhok Nibong  pada 2 Desember 2025 , sambil menunggu Adekku Rajudin Nuri Fahmi namanya, aku mencari makan ke sana ke sini, tapi tidak ada makanan ,karena semua toko dan usaha orang hancur. Aku duduk kembali di masjid Baiturrahim Lhok Nibong dengan perut yang kosong. Tidak lama setalah itu ada lambaian tangan seorang adek yang membawa pulang satu karung beras kecil untuk orang tuanya yang sampai saat itu kamii belum tahu bagaimana kabar ayah dan ibu serta adek di sana apakah mereka baik baik saja  atau kah mereka bagaimana. Dengan perasaan yang bercampur aduk kami akhirnya melanjutkan perjalanan masuk ke dalam kampung yang sangat dalam. Di perjalanan kami jalan  kaki  selama 5 jam, melawati jalan -jalan yang sulit, penuh air dan berlumpur. Tidak ada satu pun angkutan pun yang dapat kami tumpangi, karena semua akses transportasi lumpuh. Tidak juga ada sepeda motor yang lalu lalang. Bahkan orang-orang pun  tak ada yang lalu lalang seperti dulu. Sangat sepi, karena para penduduk sudah ke tempat pengungsian.

Maka, selama di perlajalanan berjalan kaki selama berjam-jam itu, kami menyaksikan langsung kayu – kayu yang berhamburan,dinding yang pecah, bangunan roboh dan lumpur bercampur air menghancurkan seluruh isi rumah warga sekitar, walau begitu tetap kami menembus banjir lumpur tebal demi bisa berjumpa dengan orang tua. Kondisi yang kami lalui sangatlah licin dan sangat berbahaya bagi pengguna jalan .

Meski berisiko,  kami tetap melintasi jalur tersebut. Betapa sulitnya  proses evakuasi karena akses jalan berlumpur total. Kami terjebak di perjalanan itu. Dari siang sampai  magrib, baru sampai atau tiba  ke rumah yang telah luluh lantak diterjang banjir.

Ya Allah, betapa terenyuh hati kami ketika tiba di lokasi rumah yang hancur, melihat orang tua tidur di jalan ,yang beralas tanah di bawah tenda yang lusuh.  Semakin  sedih, ternyata  mereka tidak ada makanan apapun. Seketika air mata kamii jatuh tidak tertahankan .

Sambil menatap bingung melihat rumah sederhana kami yang dulu kami tempati kini tersisa hanyalah tanah dan  puing- puiings Sisa banjir.  Tak hanya hilang rumah, tai juga kebun yang merupakan mata pencaharian  orang tua dan para petani. Lahan sawah dan kebun pun tertutup rata dengan tanah sehingga ekonomi masyarakat sulit.

Sungguh tak pernah terbayangkan  bencana sedasyat itu menghantam desa kami. Saat ini kami hanya bisa bersyukur masih diberikan keselamatan terhadap keluarga kami, meskipun rumah dan  segalanya hilang, tidak tahu ke mana.

Ya, kini kampung kami menjadi sebuah kampung yang tinggal puing puing di balik reruntuhan itu.  Kami sangat sedih melihat kehidupan  dan mengalami bencana seperti ini. Apalagi kedua orang tua yang selama ini bergantung hidup dari hasil pertanian  sudah tidak bisa menghasilkan apa-apa. Bayangkanlah, bagaimana kami bisa bertahan hidup? Bagaimana nasib adikku yah masih kecil, harus tidur di tempat yang sangat tidak layak. Ya, Allah, kepada Mu aku memohon, bantulah kami.

Alhamdulilah kini kami telah berkumpul dengan ayah dan ibu, walau harus hidup di bawah tenda. Dari ini, kami terus menyaksikan langsung kayu kayu yang berhamburan,dinding yang pecah, bangunan roboh dan lumpur bercampur air menghancurkan seluruh isi rumah warga sekitar, walau begitu tetap kami menembus banjir lumpur tebal  hingga kembali berkumpul dengan keluarga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 118x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 103x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 93x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
166
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00