POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan

Nyakman LamjameOleh Nyakman Lamjame
January 21, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nyakman Lamjame

​Di bawah temaram lampu jalan yang membiaskan kabut tipis, seorang pemuda gondrong berdiri mematung di jembatan penyeberangan. Rambutnya yang panjang berkibar tertiup angin malam yang dingin, membingkai wajahnya yang menyimpan gurat kegelisahan yang dalam. Di tangannya, sebuah gawai menampilkan data Islamicity Index 2024. Ia tidak sedang melihat deretan angka biasa; ia sedang menatap sebuah peta kehancuran moral yang terbungkus dalam statistik ilmiah.

​Pandangannya tertancap pada nama Irlandia, Islandia, dan Selandia Baru yang bertengger angkuh di puncak daftar Paling Islami. Ada getaran getir yang merambat di dadanya. Ia menoleh ke bawah, menatap denyut nadi negerinya, Indonesia. Sebuah negeri di mana suara azan menggetarkan angkasa setiap waktu, di mana jutaan dahi bersentuhan dengan bumi dalam sujud yang khusyuk. Namun, ia menyadari sebuah paradoks historis yang telah diperingatkan oleh para ulama besar berabad-abad silam.

​Ia teringat pada Ibnu Taimiyah, seorang ulama dari abad ke tiga belas yang pemikirannya melintasi zaman. Dalam kitabnya, ulama itu menuliskan kalimat yang sangat mengguncang nurani: Sesungguhnya Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun ia kafir, dan tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun ia Muslim. Dunia ini akan tegak dengan keadilan dan kekufuran, tetapi tidak akan tegak dengan kezaliman dan Islam.


​Pemuda gondrong itu tertegun. Kalimat yang ditulis berabad-abad lalu itu seolah menjadi penjelasan logis mengapa negara-negara di puncak daftar itu bisa unggul. Mereka mungkin tidak beriman secara teologis, namun mereka menegakkan keadilan yang merupakan tulang punggung peradaban. Sementara itu, di negerinya, ia melihat kezaliman sosial, korupsi yang merajalela, dan ketimpangan ekonomi masih menjadi kawan akrab sehari-hari, meski penduduknya bersyahadat.

📚 Artikel Terkait

🌿 HEALTHY LIFE

Literasi Digital, Solusi Pembelajaran Online Lebih Optimal

Sampai Kapan Menormalisasi Bencana Ini sebagai Takdir?

ASAL-USUL NAMA GOSONG TELAGA DAN PRESTASINYA

​Ia juga teringat refleksi Syekh Muhammad Abduh saat mengunjungi Eropa berabad kemudian, yang menggemakan rasa pedih yang sama: Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, tapi tidak melihat Muslim. Aku kembali ke Timur dan melihat Muslim, tapi tidak melihat Islam.

​Kenyataan ini terasa seperti tragedi yang berulang. Kita, pemilik sah dari kitab suci yang agung, ternyata hanya menjadi penjaga sampul yang setia, sementara esensi di dalamnya seperti kejujuran dan kemanusiaan justru telah dipraktikkan dengan presisi oleh mereka yang bahkan tidak mengenal konsep halal haram secara formal.

​Pemuda gondrong itu memejamkan mata, membiarkan kebisingan kota menjadi latar belakang perenungannya. Ia membayangkan betapa mengejutkannya fakta ini bagi mereka yang mabuk akan angka kuantitas. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di planet ini, justru terlempar jauh dari orbit nilai nilai Ilahiyah dalam urusan integritas sosial. Kita terjebak dalam obesitas ritual, namun menderita busung lapar moral.

​Dalam keheningan itu, ia menyadari peringatan dari Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin bahwa kerusakan rakyat adalah akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa adalah akibat kerusakan ulama yang telah dikuasai oleh cinta harta dan kedudukan. Rantai kerusakan inilah yang membuat nilai nilai luhur Islam seolah bermigrasi ke Barat, meninggalkan kita di sini hanya dengan simbol simbol yang kian hari kian kehilangan maknanya.

​Ada yang sadar, bahwa keberagamaan kita sedang diuji bukan oleh siapa yang paling keras meneriakkan nama Tuhan, melainkan oleh siapa yang paling setia menghidupkan sifat sifat Nya dalam setiap sendi kehidupan. Malam itu, di atas jembatan yang menghubungkan dua sisi kota yang kontras, ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit. Islam tidak akan pernah tegak hanya dengan suara yang keras atau jumlah yang banyak. Islam hanya akan benar benar hadir saat kejujuran di pasar sama sucinya dengan doa di atas sajadah. Tanpa itu, kita hanya sedang merayakan sebuah cangkang kosong, sementara isinya telah lama tertinggal di seberang lautan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 62x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Nyakman Lamjame

Nyakman Lamjame

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kesetiaan Lelaki dan Martabat Bangsa

Kesetiaan Lelaki dan Martabat Bangsa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00