POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Belajar di Saat Dunia Berguncang

Nyakman LamjameOleh Nyakman Lamjame
January 9, 2026
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo
🔊

Dengarkan Artikel

Pendidikan, Budaya, dan Masa Depan Peradaban

Oleh Nyakman Lamjame

Hadirin sekalian,

Bayangkan hutan Leuser yang rimbun, yang selama berabad-abad menahan hujan, menyaring sungai, dan memberi kehidupan. Kini sebagian besar tertutup lumpur, pohon-pohon tumbang, dan satwa-satwa kehilangan rumah mereka. Sungai Peusangan yang dulu tenang kini mengamuk, membawa reruntuhan, memutus jalan, dan menghancurkan sekolah. Danau Lut Tawar yang damai berjuang mempertahankan ikan-ikan yang menjadi nafkah generasi. Di tengah kehancuran ini, muncul pertanyaan yang paling mendasar: bagaimana sebuah generasi dapat tetap belajar ketika dunia di sekelilingnya retak?

Lihatlah anak-anak Aceh yang duduk di tenda darurat, memegang buku basah, menatap guru dengan mata penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak menunggu dunia pulih. Mereka belajar di tengah lumpur, di tengah hujan, di tengah ketakutan. Mereka belajar bukan sekadar membaca atau menulis, tetapi belajar menjadi manusia yang tangguh, yang menyembuhkan dirinya, dan yang menjaga warisan peradaban.

Sejarah dunia memberi kita panduan. Setelah tsunami TĹŤhoku, Jepang membangun sekolah darurat dalam hitungan hari untuk menjaga anak-anak tetap belajar sambil memproses trauma. Di Finlandia, kurikulum pascabencana menempatkan pemulihan emosional setara dengan akademik. Di Jerman pascaperang, sekolah adalah simbol rekonsiliasi dan fondasi masyarakat baru. Di Kanada dan New Zealand, pendidikan darurat menjadi mekanisme penyembuhan komunitas, bukan sekadar pengajaran buku dan angka. Aceh hari ini berdiri sejajar dengan pengalaman global tersebut.

📚 Artikel Terkait

Secuil Soal Malioboro

Kitab Kuno Aceh Abad 18 Bahas Tentang Waktu Gempa NTB dan Tsunami Aceh

Syekh Nuruddin al Raniry; Ulama Besar dan Mufti Kerajaan Aceh

NEGERI ABADI

Hadirin, bayangkan meunasah dan dayah di desa-desa Aceh, yang telah berabad-abad menjadi pusat pembelajaran, stabilitas sosial, dan spiritualitas. Ilmu diwariskan bersama nilai, etika, dan kebersamaan. Pendidikan berjalan berdampingan dengan doa, cerita, dan gotong royong. Tanpa istilah modern, Aceh telah mempraktikkan pendidikan berbasis trauma dan budaya jauh sebelum konsep internasional itu muncul.

Sejarah Aceh juga mengingatkan kita bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat intelektual dunia Islam. Ulama, pedagang, dan pelajar dari Timur Tengah, India, dan Nusantara datang ke sini, menjadikan ilmu sebagai fondasi diplomasi dan kekuatan peradaban. Dalam masa konflik dan tekanan kolonial, jaringan pendidikan tetap bertahan, membuktikan bahwa pendidikan adalah penopang peradaban ketika segalanya runtuh.

Jejak global pun mengingatkan kita pada Fatimah al-Fihri, yang lebih dari seribu tahun lalu mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin. Ia melakukannya bukan demi kemegahan, tetapi sebagai jawaban etis terhadap kebutuhan masyarakatnya. Pendidikan lahir dari kepedulian, bukan kenyamanan. Di Aceh hari ini, prinsip itu kembali menemukan relevansi: pendidikan tidak menunggu dunia pulih; pendidikanlah yang memulihkan dunia.

Bayangkan anak-anak yang hari ini belajar di tenda-tenda darurat, sambil mendengar gemericik hujan di atap daun, mendengar aliran sungai yang deras, dan aroma tanah basah yang masih menempel di buku mereka. Mereka adalah generasi yang akan menentukan bagaimana manusia merespons krisis abad ke-21. Belajar di tengah lumpur bukan tanda kemunduran. Ia adalah deklarasi peradaban.

Dan lihatlah, sungai, hutan, dan danau yang terluka bukan sekadar ekosistem, tetapi guru yang mengajarkan manusia: bagaimana bersabar, bagaimana menjaga kehidupan, dan bagaimana membangun kembali dari kehancuran. Aceh mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah penyembuh luka, penjaga budaya, dan penopang masa depan.

Hadirin sekalian, dunia tidak menunggu. Masa depan peradaban dibangun di atas keberanian generasi yang tetap belajar meski badai melanda. Jika kita mendengar, memahami, dan belajar dari Aceh hari ini, maka kita tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun peradaban global.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Nyakman Lamjame

Nyakman Lamjame

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00