• Latest
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo

Belajar di Saat Dunia Berguncang

Januari 9, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar di Saat Dunia Berguncang

Nyakman Lamjame by Nyakman Lamjame
Januari 9, 2026
in #Korban Bencana, Aceh, Banjir bandang, Bencana, Esai, Hutan, Hutan Nanggroe, Kebencanaan, kerusakan hutan, Mitigasi bencana, pendidikan Aceh, Penebangan hutan
Reading Time: 3 mins read
0
Robohnya Sekolah Kami di Tanah Gayo
596
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Pendidikan, Budaya, dan Masa Depan Peradaban

Oleh Nyakman Lamjame

Hadirin sekalian,

Bayangkan hutan Leuser yang rimbun, yang selama berabad-abad menahan hujan, menyaring sungai, dan memberi kehidupan. Kini sebagian besar tertutup lumpur, pohon-pohon tumbang, dan satwa-satwa kehilangan rumah mereka. Sungai Peusangan yang dulu tenang kini mengamuk, membawa reruntuhan, memutus jalan, dan menghancurkan sekolah. Danau Lut Tawar yang damai berjuang mempertahankan ikan-ikan yang menjadi nafkah generasi. Di tengah kehancuran ini, muncul pertanyaan yang paling mendasar: bagaimana sebuah generasi dapat tetap belajar ketika dunia di sekelilingnya retak?

Lihatlah anak-anak Aceh yang duduk di tenda darurat, memegang buku basah, menatap guru dengan mata penuh rasa ingin tahu. Mereka tidak menunggu dunia pulih. Mereka belajar di tengah lumpur, di tengah hujan, di tengah ketakutan. Mereka belajar bukan sekadar membaca atau menulis, tetapi belajar menjadi manusia yang tangguh, yang menyembuhkan dirinya, dan yang menjaga warisan peradaban.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Sejarah dunia memberi kita panduan. Setelah tsunami Tōhoku, Jepang membangun sekolah darurat dalam hitungan hari untuk menjaga anak-anak tetap belajar sambil memproses trauma. Di Finlandia, kurikulum pascabencana menempatkan pemulihan emosional setara dengan akademik. Di Jerman pascaperang, sekolah adalah simbol rekonsiliasi dan fondasi masyarakat baru. Di Kanada dan New Zealand, pendidikan darurat menjadi mekanisme penyembuhan komunitas, bukan sekadar pengajaran buku dan angka. Aceh hari ini berdiri sejajar dengan pengalaman global tersebut.

Hadirin, bayangkan meunasah dan dayah di desa-desa Aceh, yang telah berabad-abad menjadi pusat pembelajaran, stabilitas sosial, dan spiritualitas. Ilmu diwariskan bersama nilai, etika, dan kebersamaan. Pendidikan berjalan berdampingan dengan doa, cerita, dan gotong royong. Tanpa istilah modern, Aceh telah mempraktikkan pendidikan berbasis trauma dan budaya jauh sebelum konsep internasional itu muncul.

Sejarah Aceh juga mengingatkan kita bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat intelektual dunia Islam. Ulama, pedagang, dan pelajar dari Timur Tengah, India, dan Nusantara datang ke sini, menjadikan ilmu sebagai fondasi diplomasi dan kekuatan peradaban. Dalam masa konflik dan tekanan kolonial, jaringan pendidikan tetap bertahan, membuktikan bahwa pendidikan adalah penopang peradaban ketika segalanya runtuh.

Jejak global pun mengingatkan kita pada Fatimah al-Fihri, yang lebih dari seribu tahun lalu mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin. Ia melakukannya bukan demi kemegahan, tetapi sebagai jawaban etis terhadap kebutuhan masyarakatnya. Pendidikan lahir dari kepedulian, bukan kenyamanan. Di Aceh hari ini, prinsip itu kembali menemukan relevansi: pendidikan tidak menunggu dunia pulih; pendidikanlah yang memulihkan dunia.

Bayangkan anak-anak yang hari ini belajar di tenda-tenda darurat, sambil mendengar gemericik hujan di atap daun, mendengar aliran sungai yang deras, dan aroma tanah basah yang masih menempel di buku mereka. Mereka adalah generasi yang akan menentukan bagaimana manusia merespons krisis abad ke-21. Belajar di tengah lumpur bukan tanda kemunduran. Ia adalah deklarasi peradaban.

Dan lihatlah, sungai, hutan, dan danau yang terluka bukan sekadar ekosistem, tetapi guru yang mengajarkan manusia: bagaimana bersabar, bagaimana menjaga kehidupan, dan bagaimana membangun kembali dari kehancuran. Aceh mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah penyembuh luka, penjaga budaya, dan penopang masa depan.

Hadirin sekalian, dunia tidak menunggu. Masa depan peradaban dibangun di atas keberanian generasi yang tetap belajar meski badai melanda. Jika kita mendengar, memahami, dan belajar dari Aceh hari ini, maka kita tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun peradaban global.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238Tweet149
Nyakman Lamjame

Nyakman Lamjame

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

Kemampuan Mendengar yang “Lebih Mahal” Daripada Keberanian Bicara

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com