POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Memulihkan Ibu Pertiwi

Asmaul HusnaOleh Asmaul Husna
January 3, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asmaul Husna
(Inong Literasi)

Syifa, gadis berkerudung biru itu tampak gelisah. Jemarinya sibuk memainkan sedotan plastik di dalam gelas yang sudah hampir kosong, sementara menu utama yang ia pesan telah lama habis, menyisakan piring putih tanpa jejak. Sesekali ia melirik arlojinya, lalu menoleh ke sekeliling. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Meski di sisinya telah duduk beberapa rekan, kegelisahan itu tak juga mereda.

“Ada apa, ya? Dia tidak pernah mangkir selama ini,” gumamnya dalam hati, diliputi rasa risau yang sulit dijelaskan.

“Assalamualaikum. Maaf ya, saya terlambat. Ada sedikit insiden.”
Suara itu membuat Syifa spontan menoleh. Malik, sosok yang sedari tadi ditunggu, akhirnya datang. Ia adalah ketua mereka, seorang pemuda sederhana berambut ikal, tak pandai berbasa-basi, namun setiap gagasan yang ia sampaikan selalu sampai ke hati. Kehadirannya seakan menjadi penanda bahwa pertemuan benar-benar dimulai.

Mereka adalah sekelompok generasi Z yang hidup di tengah arus perkembangan teknologi yang melaju tanpa jeda. Serbuan informasi datang bertubi-tubi, menyerang dari berbagai arah, nyaris tanpa saringan. Namun mereka bukan gen Z yang larut begitu saja. Mereka terhimpun dalam sebuah komunitas kecil, membahas persoalan besar, sesuatu yang menyangkut keberlangsungan nurani anak bangsa.

“Sepertinya kita harus menggandeng para presiden Badan Eksekutif Mahasiswa dari beberapa kampus di kota ini,” ujar Malik membuka pembicaraan.

“Agar suara kita lebih didengar dan gerakan ini berdampak lebih luas.”
Usul itu langsung diaminkan oleh sebagian besar peserta.

“Iya, saya sepakat,” sahut Syifa. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.”

📚 Artikel Terkait

Bakti Sosial di Desa Puloe

Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Inbound Universitas Samudra Langsa

Peta Realitas Akurat tentang Informasi yang Disebarkan Media Setiap Hari

İbuku  yang Tangguh

Keprihatinan mereka berakar pada musibah yang meluluhlantakkan Sumatera pada akhir November lalu, sebuah penutup tahun yang kelabu. Air bah datang tanpa ampun, memporak-porandakan jembatan dan fasilitas umum, menelan rumah-rumah yang dibangun dengan perjuangan bertahun-tahun. Desa-desa tenggelam, lumpur menutup jalan, dan harapan seakan ikut hanyut bersama arus deras. Harta benda yang dikumpulkan dengan kerja keras dan keringat lenyap seketika, menyisakan nyawa sebagai satu-satunya harta paling berharga.

Seluruh mata tertuju ke Sumatera. Uluran tangan datang dari berbagai penjuru. Donasi mengalir tanpa terhalang jarak dan tapal batas. Ribuan relawan berjibaku dengan lumpur dan tanah basah yang entah kapan akan mengering. Mereka melakukan apa yang bisa dilakukan, sekecil apa pun, demi menghapus duka sesama. Dalam situasi seperti itu, misi kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.

Namun di sudut lain ibu kota, masih banyak anak bangsa yang terbuai kenyamanan. Rasa simpati perlahan tergerus, kepedulian memudar, dan rasa senasib sepenanggungan menguap begitu saja. Waktu dihabiskan untuk “membunuh waktu”: bermain game di layar genggaman, berpindah dari satu tempat tongkrongan ke tempat lainnya, berburu jaringan Wi-Fi tercepat. Padahal, di pundak merekalah kelanjutan negeri ini bergantung.

Malik dan teman-temannya menyadari hal itu. Mereka bertekad mengajak generasi muda tersebut untuk terjun langsung ke lokasi bencana. Membersihkan fasilitas umum dari kubangan lumpur yang kian enggan beranjak. Bukan sekadar hadir sebagai simbol, tetapi terlibat secara nyata. Karena itu, mereka berencana meminta bantuan kepada para presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang memiliki koneksi dengan pembantu rektor III bidang kemahasiswaan, untuk menyerukan gerakan bersama lintas kampus.

“Niat baik saja tidak cukup,” ucap Syifa pelan, mengingat sebuah kalimat yang pernah ia baca berulang-ulang.

“Kita juga perlu mengandalkan mereka yang punya kuasa.” Kini, kalimat itu terasa semakin bermakna.

Bagi mereka, ini bukan soal seberapa banyak lumpur yang mampu disingkirkan. Bukan pula tentang berapa banyak sekolah yang kembali berfungsi, atau berapa masjid yang kembali siap menampung jamaah. Mungkin hasil fisiknya tak seberapa. Namun mereka yakin, akan ada banyak ego yang terkikis, bongkahan gengsi yang runtuh, dan tembok ketidakpedulian yang perlahan retak.
Dari sana, rasa kemanusiaan anak negeri diharapkan tumbuh kembali. Mengalir dalam empati yang sempat menghilang. Bahu-membahu, tanpa sekat latar belakang, memulihkan ibu pertiwi, bukan hanya tanahnya, tetapi juga jiwanya.

“Tidak perlu menunggu sempurna untuk bertindak,” kata Malik menutup pertemuan, seperti yang selalu ia lakukan di setiap rapat.
“Bertindaklah untuk menutupi kekurangan.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00