• Latest

Membaca Tragedi Sumatera Lewat Lensa Analisis AI

Desember 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Membaca Tragedi Sumatera Lewat Lensa Analisis AI

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Desember 11, 2025
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Sejak bangku sekolah dasar, kita sudah diajarkan tentang reboisasi dan pentingnya menanam kembali hutan yang gundul. Tetapi pelajaran itu seakan hanya menjadi hafalan wajib untuk ujian sekolah yang tak mampu mengubah kebijakan yang justru membiarkan deforestasi dinormalisasi.

Bencana besar di Sumatera yang menelan ratusan jiwa dan memusnahkan permukiman membuat saya tertarik untuk meminjam sudut pandang AI—sebuah sistem tanpa empati, tanpa kepentingan politik, dan tanpa hubungan dengan konsesi atau keuntungan siapa pun. Karena itulah, apa yang ia tampilkan terasa telanjang. Namun justru melalui ketelanjangan data itulah, kita yang awam terhadap dinamika alam dapat melihat lebih jelas bahwa apa yang terjadi saat ini tidak bisa dianggap sebagai bencana alam murni.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Pertanyaan pertama yang saya ajukan pada AI: mengapa banjir dahsyat di Sumatera bisa terjadi? Dalam hitungan menit, AI menampilkan data historis dan citra satelit yang menunjukkan jejak deforestasi yang terus merambat. Dari tahun 2001–2024, lebih dari 4,4 juta hektare hutan hilang di Sumatra.

Di banyak provinsi seperti Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat, tutupan hutan yang dulu menjadi penyangga alam kini tinggal sebagian kecil. Tanah kehilangan daya serap, sungai kehilangan vegetasi penahan, dan wilayah hulu kehilangan fungsi utamanya. Ketika curah hujan ekstrem datang, ramuan bahaya itu meledak: air meluap, pemukiman tenggelam, korban berjatuhan. Tidak ada variabel mistis, hanya sebab-akibat yang terlalu jelas.

Dari sana AI menyimpulkan bahwa bencana ini bukan sekadar masalah cuaca, tetapi akumulasi keputusan manusia selama puluhan tahun: pembukaan lahan, izin konsesi, dan pengabaian fungsi ekologis.

Lalu saya mengajukan pertanyaan kedua pada AI: mengapa pemerintah memberi izin padahal dampaknya jelas? AI tidak memahami politik, tetapi ia melihat adanya pola kepentingan yang berulang, dorongan ekonomi, kepentingan korporasi, tumpang-tindih perizinan, lemahnya pengawasan, hingga adanya faktor korupsi. Setiap hektare hutan yang hilang selalu memiliki dokumen legal. Bagi mesin, hal ini tampak kontradiktif: bagaimana sesuatu yang merusak daya dukung lingkungan bisa terus diberi jalan legal?

Ketika pemerintah menghitung pemasukan, alam membayar kerusakan yang lebih mahal: tanah rusak, keanekaragaman hayati hilang, risiko banjir dan longsor meningkat. Akibatnya, masyarakatlah yang paling menderita, kehilangan rumah, penghidupan, bahkan nyawa.

Dan pertanyaan terakhir yang saya ajukan: mengapa bencana sebesar ini tidak ditetapkan sebagai bencana nasional? Dengan korban lebih dari 750 jiwa, bukankah itu sudah memenuhi kriteria? Penetapan bencana nasional bukanlah keputusan teknis; itu keputusan politis. AI tidak memahami lobi kekuasaan atau perhitungan elektoral, tetapi ia bisa membaca ketidakkonsistenan. Ketika bencana lain yang skalanya setara pernah ditetapkan sebagai bencana nasional, sementara yang ini tidak, mesin hanya menandai adanya faktor non-teknis. AI hanya menyodorkan data dan kesenjangan logika.

Ironinya, bahkan mesin yang tidak punya empati bisa melihat ketidakseimbangan antara skala tragedi dan respons negara. AI tahu lebih dari 750 jiwa bukan sekadar angka statistik. Tetapi di dunia manusia, hal sederhana bisa berubah menjadi perdebatan panjang, mengaburkan fakta bahwa ada keteledoran dalam keputusan. AI sebuah mesin kecerdasan yang hanya menunjukkan satu hal: data memang tidak berbohong, tapi yang sering berbelok justru keputusan manusianya.

Pada akhirnya refleksi ini menunjukkan kenyataan getir: ketika AI bisa membaca bahwa bencana ini lahir dari ulah manusia dan secara logis layak menjadi bencana nasional, manusia yang punya nurani, justru terjebak dalam kesulitan mengakui kesalahan dan mengambil keputusan dengan bijak. Mesin tidak punya empati, tetapi ironinya, manusia yang memilikinya justru membuat keputusan yang tak mencerminkan nurani.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 332x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 291x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 246x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami

Banjir Aceh Luka Kolektif setelah Bangkit dari Tsunami

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com