POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sumatera Tenggelam, Jakarta Menutup Mata: Ketika Kedaulatan Dijadikan Tameng dan Rakyat Dikorbankan

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 10, 2025
BENGKEL OPINI RAKyat
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman


Pendahuluan: Negara yang Rapi pada Kertas, Berantakan pada Kemanusiaan

Banjir bandang di Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah memaksa ribuan keluarga kehilangan rumah, tanah, usaha, dan masa depan. Namun di tengah penderitaan itu, pemerintah pusat memilih untuk menolak, menunda, atau menghambat masuknya bantuan internasional, dengan alasan klasik: kedaulatan. Inilah tragedi paling ironis: negara yang mengaku kuat justru membiarkan rakyatnya tenggelam.

Di atas kertas, Indonesia tampak sebagai negara demokratis yang menjunjung kemanusiaan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan pola berulang: negara memperlakukan Sumatera—terutama Aceh—bukan sebagai bagian setara dari republik, tetapi sebagai wilayah pinggiran yang suaranya tidak penting kecuali ketika butuh hasil bumi dan stabilitas politik.


  1. Kedaulatan sebagai Tameng: Sebuah Penipuan Politik yang Mengorbankan Nyawa

Ketika negara menolak bantuan asing pada saat ribuan orang terjebak tanpa obat, tanpa makanan, tanpa akses jalan, dan tanpa tempat tinggal, maka negara telah menggunakan “kedaulatan” sebagai tameng untuk menutupi ketidakmampuan.

Menurut literatur kebijakan bencana (Coppola, Introduction to International Disaster Management, 2020), negara yang berada dalam kondisi darurat memiliki kewajiban moral dan hukum untuk membuka akses internasional ketika kapasitas nasional tidak mencukupi. Indonesia melanggar prinsip itu.

Pemerintah pusat memainkan drama wayang: panggungnya rapi, pemainnya tersenyum, tetapi di belakang layar rakyat mati perlahan.
Kedaulatan bukan alasan untuk membiarkan tangan-tangan yang ingin menolong dibiarkan menunggu di pintu.


  1. Ketidakadilan Struktural terhadap Sumatera dan Aceh

Tidak bisa dipungkiri adanya persepsi kuat di masyarakat bahwa pemerintah pusat yang didominasi elit Jawa—dalam praktik politik, birokrasi, dan anggaran—secara konsisten menempatkan Sumatera (dan khususnya Aceh) sebagai wilayah kelas dua.

Aceh sering dilabeli sebagai “pemberontak” atau “rebel”, padahal sebagian besar perlawanan di masa lalu lahir dari ketidakadilan ekonomi, eksploitasi SDA, dan marginalisasi politik. Bahkan setelah damai, pola ketidaksetaraan masih terasa: anggaran dipangkas, bantuan lamban, kebijakan sering tidak relevan.

Bencana ini membuka luka lama:
Ketika Jawa aman, stabil, dan mendapat prioritas, Sumatera dibiarkan berjuang sendiri.

Literatur tentang ketimpangan pusat-daerah (Booth, Indonesian Economic History, 2019) jelas menunjukkan bahwa sentralisasi kekuasaan telah menciptakan ketidakadilan geografis selama puluhan tahun. Banjir kali ini adalah bukti bahwa pola itu masih hidup.


  1. Perspektif Hak Asasi Manusia: Negara Gagal Melindungi Warganya

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM, 1948) menyatakan bahwa setiap manusia berhak atas kehidupan yang layak, keamanan, dan perlindungan dari bahaya. Banjir bandang membuat ribuan warga berada dalam kondisi sangat rentan—kehilangan air bersih, makanan, obat, tempat tinggal, dan akses dasar kesehatan.

Ketika negara tidak mampu, tetapi juga menolak bantuan, maka tindakan itu dapat dikategorikan sebagai:
pengabaian negara terhadap kewajiban HAM dasar (state neglect).

Prinsip-prinsip International Humanitarian Law (IHL) menekankan bahwa pemerintah tidak boleh menghalangi upaya penyelamatan jiwa yang datang dari luar negeri jika tidak mampu menanganinya sendiri (ICRC, 2018). Dengan demikian, penolakan ini membuka ruang diskusi hukum:
Apakah Indonesia dapat dituntut secara internasional atas kelalaian kemanusiaan?

Jawabannya: secara prinsip, ya, jika terbukti ada unsur state responsibility for preventable humanitarian harm.


  1. Dari Perspektif Budaya dan Psikologi Politik: Jakarta Tidak Bisa Merasakan Derita Sumatera

Pusat kekuasaan di Jakarta hidup dalam kenyamanan—akses kesehatan premium, makanan berlimpah, infrastruktur modern. Mereka yang duduk di balik meja rapat tidak pernah merasakan tubuh menggigil di tengah malam tanpa selimut, atau mencari mayat dengan tangan kosong, atau kehilangan anak karena air bah.

Mungkin karena itu empati mereka dingin.
Mungkin karena itu mereka berani menunda bantuan. Mungkin karena itu mereka tidak merasa berdosa ketika rakyat yang bukan “ras politik mereka” mati perlahan. Ini bukan tentang kebencian etnis.
Ini tentang buta hati akibat jarak kekuasaan.

📚 Artikel Terkait

Munculnya Kelas Baru Prekariat

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

12 Tips Penting untuk Tingkatkan Kualitas Diri

Suara Perempuan itu Terbayar di Udara


  1. Tata Negara dan Kegagalan Sistemik: Ketika Pemerintah Pusat Menjadi Beban

Secara hukum tata negara, Presiden dan pemerintah pusat memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi setiap warga negara (UUD 1945 Pasal 28A & 34).
Namun realita:

Tidak ada koordinasi cepat.

Tidak ada pendataan akurat korban.

Tidak ada komando nasional yang tepat.

Bantuan internasional ditolak atau ditahan.

Informasi di media dikendalikan agar tampak “stabil”.

Ini bukan kegagalan teknis.
Ini kegagalan sistemik yang menunjukkan bahwa negara hanya kuat ketika berhadapan dengan rakyat, tetapi lemah ketika menghadapi bencana.


  1. Mengutuk Pemerintah dan Membela Korban: Suara dari Sumatera

Korban bencana Sumatera tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya meminta air bersih, makanan, obat, selimut, dan kepastian hidup.

Namun negara justru sibuk menjaga muka dan gengsi.
Sementara anak-anak tidur di puing-puing rumah, pejabat berdebat soal citra.
Sementara jenazah belum ditemukan, pemerintah khawatir dianggap “tidak mampu”.

Saat negara lebih memikirkan citra daripada nyawa, maka kritik bukan sekadar boleh—tapi wajib.


  1. Bisakah Internasional Menekan Indonesia? Ya—Dengan Tiga Jalur

a. Tekanan Diplomatik Multilateral

Melalui PBB, ASEAN, atau mitra kemanusiaan global seperti UN OCHA dan IFRC.

b. Jalur HAM Internasional

Kasus dapat dibawa ke:

UN Human Rights Council

Special Rapporteur on the Right to Life

Special Rapporteur on Extreme Poverty

c. Tekanan Media dan Opini Publik Global

Ketika media besar seperti BBC, Al Jazeera, atau Reuters menyorotkan lampu sorotan, pemerintah biasanya tunduk.


  1. Solusi: Membuka Pintu Dunia dan Menempatkan Manusia di Atas Politik
  2. Segera membuka akses bagi NGO internasional tanpa birokrasi berbelit.
  3. Mengaktifkan mekanisme bantuan ASEAN Disaster Management (AADMER).
  4. Membentuk tim transisi lokal untuk memastikan distribusi adil.
  5. Memastikan perlindungan HAM bagi warga terdampak.
  6. Mengundang audit independen terhadap respons pemerintah pusat.

Jika negara tidak mampu, dunia siap membantu.
Jika negara tidak mau, maka dunia harus menekan.


  1. Penutup: Jangan Jadikan Rakyat Korban dari Negara yang Berpura-Pura Kuat

Pada akhirnya, tulisan ini adalah suara kemarahan, suara kepedihan, dan suara keadilan.
Ketika negara berubah menjadi wayang yang dimainkan oleh elit yang jauh dari penderitaan rakyat, maka masyarakat berhak mengangkat suara.

Sumatera tidak meminta belas kasihan.

Sumatera meminta keadilan.

Dan keadilan tidak boleh tunduk pada gengsi politik siapa pun.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Antara Tsunami dan Banjir Aceh 2025: Refleksi Akhir Tahun

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00