POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

STEM dan Warisan Soekyarno

RedaksiOleh Redaksi
October 9, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Novita Sari Yahya

Dari Nilai A ke Jurusan Biologi

Ilmu pengetahuan yang belum saya coba untuk dalami serius adalah matematika dan fisika. Ironisnya, waktu SD di Malaysia saya bisa dapat grade A di semua pelajaran. Waktu SMP, nilai Ebtanas matematika saya 9 lebih. Tapi ketika masuk SMA, barulah saya sadar: ternyata otak saya tidak seindah rapor. Matematika mulai menampakkan taringnya, fisika jadi monster yang lebih menakutkan dari guru killer, sementara biologi dan bahasa seperti pacar yang manis—selalu bikin nyaman. Tidak heran akhirnya saya masuk jurusan biologi, bukan fisika. Pilihan aman.

STEM dan Warisan Soekyarno

Sekarang istilah kerennya adalah STEM—Science, Technology, Engineering, and Mathematics. Katanya itu fondasi dunia modern. Dulu, pada zaman Soekarno, ribuan mahasiswa Indonesia dikirim ke Rusia, Tiongkok, Eropa Timur, bahkan Korea Utara. Tujuannya jelas: pulang, lalu bangun Indonesia.

Soekarno adalah figur revolusioner yang penuh semangat. Dengan pidatonya, ia bisa membuat rakyat bergetar, bahkan lantang menyerukan “Ganyang Malaysia!” yang sampai sekarang masih jadi kutipan legendaris. Namun, di balik semangat membakar itu, ada paradoks: beberapa kawan seperjuangan justru dimasukkan ke penjara karena beda haluan. 

Tokoh seperti Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, hingga Buya Hamka merasakan hal tersebut. Kritik Bung Hatta tentang “persatean” Nasakom pun tenggelam di tengah retorika Bung Karno yang selalu dramatis dan memikat.

Mahasiswa Indonesia di Blok Timur

Namun, kalau tragedi 1965 tidak terjadi, mungkin jalan sejarah lain. Ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri bisa pulang dan membangun negeri. Bayangkan jika mereka membawa ilmu dari Rusia, Eropa Timur, atau Tiongkok—ilmu yang bahkan tak ada di Cambridge atau Oxford.

Korea Utara misalnya, walau miskin, unggul dalam nuklir dan teknologi kesehatan. Mahasiswa Indonesia di era itu ada yang belajar teknik perkeretaapian Soviet, rekayasa nuklir, hingga kedokteran tropis berbasis sistem komunal Tiongkok. Ilmu yang kala itu mustahil ditemukan di universitas Barat karena dianggap “tidak sesuai selera kapitalisme.” Tapi, semua itu berakhir tragis: mereka dibantai, dipenjara, atau tak bisa pulang. Sejarah Indonesia kehilangan generasi emas ilmu pengetahuan.

1965: Ilmu yang Hilang dan Generasi yang Terkorbankan

Tragedi politik 1965 bukan hanya soal perebutan kuasa, tapi juga pemangkasan brutal terhadap potensi akademik bangsa. Ribuan intelektual yang dianggap “kiri” lenyap begitu saja. Banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri menjadi eksil, tak bisa kembali karena khawatir ditangkap. 

Mereka hidup di pengasingan, dari Praha, Moskow, hingga Beijing. Pertanyaannya: seandainya mereka pulang dan berkarya, apakah Indonesia hari ini bisa menyalip Tiongkok? Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.

Orde Baru dan Lahirnya Ilmu “Komisiologi”

Masuk era Orde Baru, Soeharto membangun sistem pembangunan dengan arahan Amerika Serikat dan sekutunya: IMF, Bank Dunia, dan lembaga donor lainnya. Mahasiswa Indonesia mulai dikirim belajar ke AS, Inggris, Australia, dan Belanda. Apa hasilnya? Banyak yang pulang membawa ilmu, tapi pemerintah tidak punya ruang menampungnya. Jurusan macam astrofisika, bioteknologi, atau teknik nuklir? Tidak ada kementerian yang peduli.

📚 Artikel Terkait

Senerai Puisi Religi Mohd Adid Ab Rahman

Profesor Agung Pranoto Mengapresiasikan Buku Sajak Secangkir Air Mata, Karya Hamdani Mulya

SMKN 1 Lokop Ciptakan Pupuk Cair Organik

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

Akhirnya lulusan-lulusan cemerlang itu justru terserap di perusahaan asing atau sekadar jadi konsultan proyek. Sementara yang meroket di dalam negeri adalah ilmu “komisiologi”—seni mendapatkan komisi dari setiap proyek SDA. Inilah masa ketika jargon paling populer bukan STEM, melainkan “asal bapak senang” dan “bapak/ibu komisi.”

Sarjana Luar Negeri: Dari Beasiswa ke Buzzer

Apa yang dilakukan para sarjana jebolan kampus top dunia? Banyak yang akhirnya bekerja di perusahaan dengan saham mayoritas asing, atau sibuk rebutan jabatan komisaris BUMN. Bukan karena prestasi, tapi karena koneksi.

Lebih parah lagi, banyak dari mereka berubah jadi gelandangan politik. Kerjaannya ribut di media sosial, bikin meme, jadi buzzer. Kalau bos yang didukung menang pilpres, langsung naik pangkat jadi staf ahli atau komisaris. 

Ironisnya, mereka lebih sering memproduksi hoaks dan gosip ala emak-emak komplek daripada jurnal riset. Inilah tragedi pendidikan tinggi Indonesia: dari beasiswa rakyat, hasilnya malah jadi konten kreator politik.

Matematika dan Fisika: Dari Saya ke Generasi Berikutnya

Jadi mari kita kembali ngopi pagi, membicarakan kelemahan saya di bidang matematika dan fisika. Untungnya, ada harapan: putra saya yang paling tua justru cemerlang di bidang fisika dan matematika. Ia berhasil lulus teknik sipil, meski dari perguruan tinggi swasta. Hasil tes IQ-nya juga menunjukkan kemampuan kuat di bidang STEM. Ketika saya dorong melanjutkan kuliah S2, jawabannya sederhana: “uang lebih penting daripada ijazah.”

Itulah salah satu penyebab generasi muda Indonesia tidak berlomba-lomba di bidang pengetahuan. Mereka lebih suka mencari jalan pintas pragmatis. Meski begitu, saya tetap optimis: suatu saat akan kembali era di masa awal kemerdekaan, ketika manusia Indonesia lebih haus ilmu daripada haus jabatan.

Harapan Baru dari Generasi Z

Beberapa waktu lalu, ada berita menggembirakan: Generasi Z mulai bangkit dengan literasi, membeli buku, dan berkumpul dalam komunitas membaca. Sebuah tanda bahwa gairah ilmu pengetahuan belum padam sepenuhnya.

Harapan saya lainnya: suatu hari lahir yayasan filantropi desa yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi sederhana. Dari desa bisa lahir pemikir besar, ahli matematika, bahkan fisikawan yang menciptakan mesin cerdas lebih pintar dari Grok atau ChatGPT. Desa yang modern tapi tetap tradisional, dengan masyarakat yang gemar membaca, menulis, dan berdiskusi.

Itulah imajinasi saya tentang Indonesia: negara yang bukan hanya pandai bikin meme politik, tapi juga menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Referensi

1. Benedict Anderson, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia (Cornell University, 1971).

2. John Roosa, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia (University of Wisconsin Press, 2006).

3. Hilmar Farid, “Indonesia’s Original Sin: Mass Killings and Capitalist Expansion, 1965–66,” Inter-Asia Cultural Studies, 2005.

4. Tempo Magazine, “Mereka yang Tak Bisa Pulang: Kisah Eksil 1965” (Edisi Khusus, 2015).

5. Kompas, “Generasi Z dan Tren Membaca: Toko Buku Kembali Ramai” (2024).

6. David Bourchier, Illiberal Democracy in Indonesia: The Ideology of the Family State (Routledge, 2014).

Novita sari yahya.

Penulis dan peneliti.

Hobi : mengamati tingkah laku manusia Indonesia sambil scroll media sosial.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00