POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengapa Demo Besar Rakyat Itali Menuntut Pengakuan Palestina Merdeka

RedaksiOleh Redaksi
September 26, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Denny JA

Di depan Stasiun Termini, Roma, pada sore 22 September 2025, seorang ibu muda bernama Giulia menggenggam erat tangan putrinya yang berusia sembilan tahun.

Di kejauhan, ribuan orang meneriakkan, “Palestina Libera! Palestina Libera!” Spanduk berkibar, bendera Palestina menutupi langit ibukota Italia.

Giulia datang bukan karena ia keturunan Arab, bukan pula karena ia punya hubungan politik tertentu.

Ia hanya seorang perawat rumah sakit yang, setiap malam, menyaksikan tayangan anak-anak Gaza yang meninggal tanpa sempat memeluk ibunya.

“Aku tidak bisa tidur tenang,” ujarnya kepada seorang jurnalis, “jika Italia diam.”

Hari itu, Roma bukan sekadar ibu kota. Ia menjelma ruang hati kolektif, tempat luka Gaza bergema dalam dada orang-orang Italia.

Dari Milan hingga Napoli, dari Genoa hingga Venice, rakyat turun ke jalan. Mogok nasional melumpuhkan pelabuhan, kereta, hingga kantor publik.

Italia bergetar—bukan karena gempa bumi, melainkan oleh suara nurani.

-000-

Apa yang tengah terjadi? Mengapa rakyat Italia berdemo begitu besar, begitu antusias, begitu emosional, menuntut pemerintah agar mengikuti Inggris dan Prancis: mengakui Palestina sebagai negara yang berdaulat?

Saya lama merenung, membaca sejarah, dan berakhir dengan tiga kesimpulan ini.

Sebab Pertama: Luka Kemanusiaan yang Menyatu

Rakyat Italia digerakkan oleh sesuatu yang melampaui politik: empati yang mendalam terhadap penderitaan manusia.

Sejak awal 2024, media Italia menayangkan tanpa henti gambar anak-anak Palestina yang terjebak reruntuhan, rumah sakit yang hancur, sekolah yang berubah jadi kuburan massal.

Italia adalah negeri yang mengenal sejarah panjang penderitaan. Roma kuno menyimpan kisah perbudakan.

Kota Livorno, abad ke-17, pernah menjadi pelabuhan pengungsi Yahudi yang lari dari Inkuisisi. Orang Italia akrab dengan jejak diaspora, luka, dan pengasingan.

Maka ketika mereka melihat Gaza, resonansi emosional itu mudah muncul: seolah penderitaan orang lain adalah pantulan dari sejarah sendiri.

Di Milan, seorang mahasiswa berteriak, “Seperti kakekku dulu melawan fasisme, kini aku berdiri bersama Palestina!”

Narasi perlawanan terhadap tirani hidup kembali dalam konteks modern. Generasi muda Italia menemukan cermin perjuangan moral dalam wajah anak-anak Gaza.

Secara psikologi sosial, ini adalah fenomena identifikasi kolektif: rakyat mengadopsi penderitaan bangsa lain sebagai bagian dari identitas moral mereka.

Seperti teori empati politik Martha Nussbaum, penderitaan jauh sekalipun dapat memicu komitmen etis bila ia digambarkan dengan wajah yang akrab—anak kecil, ibu hamil, keluarga biasa.

Maka seruan “Palestina Libera” bukan hanya slogan politik. Ia doa, seruan nurani, sekaligus terapi moral bagi masyarakat yang menolak menjadi penonton pasif.

Empati inilah bensin pertama yang menggerakkan demonstrasi terbesar Italia dalam dekade terakhir.

-000-

Sebab Kedua: Warisan Historis dan Politik Italia

Italia punya hubungan rumit dengan dunia Arab dan Mediterania. Dari zaman Romawi, jalur perdagangan minyak, rempah, dan budaya menyatukan Napoli hingga Alexandria.

📚 Artikel Terkait

Air Mata Seorang Pendekar

Mengapa Harus Membenci?

Saksi Bisu

Tiga Siswi Aceh Raih Medali Perunggu di Ajang Olimpiade PAI Tingkat Nasional

Venice, kota laguna, sejak abad pertengahan sudah berdagang intensif dengan dunia Islam.

Namun sejarah modern membawa luka lain: intervensi kolonial Italia di Libya, Perang Dunia II, serta keterlibatan dalam NATO yang sering berpihak ke Barat dalam konflik Timur Tengah.

Kini, generasi baru Italia ingin melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu itu. Demonstrasi mendesak pengakuan Palestina adalah usaha mengoreksi sejarah.

Di Genoa, pelabuhan yang dulu mengirim kapal perang, kini justru dipenuhi buruh yang memblokade kapal senjata menuju Israel.

Ini bukan kebetulan, melainkan simbol pembalikan sejarah: pelabuhan perang menjadi pelabuhan solidaritas.

Secara politik, Italia juga mengalami krisis representasi. Pemerintahan Giorgia Meloni dinilai terlalu keras, terlalu tunduk pada garis Washington, dan abai pada aspirasi rakyat sendiri.

Maka isu Palestina menjadi kanal baru untuk melawan elit. Demonstrasi ini bukan hanya tentang Palestina, tapi juga tentang Italia mencari wajah moralnya kembali.

Sejarah Italia mengajarkan bahwa negeri ini selalu menjadi panggung pertemuan Timur dan Barat.

Maka tuntutan mengakui Palestina adalah bagian dari identitas geopolitik Italia yang ingin lebih mandiri, tidak lagi sekadar pengikut.

-000-

Sebab Ketiga: Gelombang Besar Global dan Legitimasi Hukum

Tak bisa dipisahkan, demonstrasi Italia terjadi di tengah gelombang global. Inggris, Kanada, Australia, dan Prancis sudah mengakui Palestina di Sidang Umum PBB.

Eropa bergerak. Italia, sebagai negara besar Uni Eropa, merasa terpojok bila tetap diam.

Lebih dari 200 hakim, jaksa, dan pakar hukum Italia ikut menandatangani seruan dukungan untuk Palestina.

Dari perspektif hukum internasional, rakyat tahu pendudukan Israel bertentangan dengan resolusi PBB. Blokade Gaza bisa dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.

Maka protes di jalan memperoleh legitimasi moral sekaligus yuridis.

Dalam filsafat politik, ini sejalan dengan gagasan Michael Sandel: keadilan tak hanya soal prosedur hukum, tapi juga keberanian moral komunitas untuk berkata, “ini salah, dan harus dihentikan.”

Italia, yang sering memproklamasikan diri sebagai negeri hukum (stato di diritto), kini diuji oleh rakyatnya sendiri.

Demo besar ini menuntut negara bertindak sesuai prinsip hukum internasional, bukan hanya sesuai kalkulasi diplomatik.

Selain itu, globalisasi informasi mempercepat perubahan opini publik. TikTok, Instagram, dan media daring memperlihatkan langsung wajah remaja Gaza.

Realitas tak lagi dimediasi pemerintah. Rakyat merasa lebih dekat dengan Palestina ketimbang dengan elit politik di Roma.

Gelombang global, legitimasi hukum, dan revolusi digital menjelma badai sempurna. Rakyat pun memenuhi jalanan.

-000-

Di tengah kompleksitas geopolitik, rakyat Italia memahami bahwa pengakuan Palestina bukan sekadar simbolis.  Ini adalah langkah konkret untuk memutus siklus kekerasan struktural. 

Sebagaimana diingatkan Antonio Gramsci, hegemoni kekuasaan harus diimbangi dengan ‘perang posisi’ budaya. Solidaritas  global menjadi senjata melawan ketidakadilan. 

Pengakuan kedaulatan Palestina menjadi kunci perdamaian abadi, bukan sekadar gencatan senjata sementara.”

Demo besar di Italia adalah lebih dari sekadar politik luar negeri. Ia adalah refleksi filosofis tentang siapa kita sebagai bangsa.

Rakyat Italia bertanya: apakah kita hanya mesin ekonomi, ataukah manusia yang masih bisa menangis melihat anak bangsa lain dibantai?

Filosofi utamanya: kemanusiaan adalah batas terakhir identitas sebuah bangsa. Bila empati hilang, jiwa bangsa ikut lenyap.

Giulia, ibu muda di Termini, menutup hari dengan suara serak: “Aku tak tahu apakah pemerintah akan mendengar. Tapi aku ingin anakku tahu, ibunya pernah berdiri di jalan, menuntut agar Palestina merdeka.”

Itulah warisan sejati: bukan hanya hukum, bukan hanya sejarah, tetapi jejak moral dalam hati generasi yang akan datang.

Italia bergetar, dunia pun tercatat: pada September 2025, rakyat Italia mengajarkan kita semua bahwa solidaritas lintas benua adalah bentuk paling indah dari kemerdekaan jiwa.***

Jakarta, 25 September 2025

Referensi 

1. Rashid Khalidi, The Hundred Years’ War on Palestine (Metropolitan Books, 2020).

2. Edward Said, The Question of Palestine (Vintage, 1992).

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/1Ck75mdwGY/?mibextid=wwXIfr

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

MGR: Makanan Gizi Racun

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00