• Latest
Merajut Aksara Mimpi - 1000871383_11zon | #Cerpen | Potret Online

Merajut Aksara Mimpi

Agustus 30, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Merajut Aksara Mimpi

Redaksi by Redaksi
Agustus 30, 2025
in #Cerpen, Cerpen Remaja
Reading Time: 5 mins read
0
Merajut Aksara Mimpi - 1000871383_11zon | #Cerpen | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Syaqhira Camyla

Siswa SMAN Unggul Pidie Jaya

Di ujung teras yang terbentang luas, menghadap ke arah jalan, keringat bercucuran mengalir membasahi baju yang gadis itu kenakan. Matanya menerawang ke masa depan,  seolah-olah itu semua ada dalam rangkulannya. Namun, satu hal yang semua orang tidak tahu tentang apa yang ia lamunkan. 

Namanya Nirmala, terselubung dalam benaknya tekad yang keras untuk menjadi seorang pesepak bola.

“Ayolah, kamu hanya duduk seharian.  Apakah kamu tidak punya kegiatan lain?” Ucap seseorang dari kejauhan. “Apakah kamu masih memikirkan soal keinginanmu yang tidak masuk akal itu? Ingat kamu itu perempuan,  bukan laki-laki, tidak sewajar kamu menjadi seorang pesepak bola. 

Sudah kodrat seorang wanita seperti itu, jangan kamu berbuat sesuka hatimu! Timpa seseorang itu lagi.

Bosan dengan ocehan ibunya yang selalu menentang keras keinginannya itu, Nirmala pun masuk ke kamar. Ia menangis sesenggukan meratapi nasib yang ia terima. 

Namun, dalam hati kecilnya, ia bersorak “ Akan ku usahakan karena itu mauku.”

***

Burung-burung berkicau dengan merdu, seolah-olah membawa siapa yang mendengarnya seakan terbang di antara mereka. Ratusan siswa keluar berbandong-bondong saat bel sekolah dibunyikan. Nirmala pulang sendiri mengunakan sepeda motor. “Awww.” Ia terjatuh dari motor yang ia kendarai dengan muka yang masam ia bangun dan mencari siapa yang berani membuatnya jatuh. “Maaf ya kakak cantik, Rio nggaksengaja  nendang bola ke arah kakak.” Tutur seorang anak kecil dengan raut wajah yang memelas. 

Mata Nirmala berbinar, seolah terhipnotis dengan kata bola yang baru saja anak itu ucapkan, “Boleh, kakak maafkan. Tapi dengan satu syarat, kamu harus ngajarin kakak main bola, gimana setuju nggak?” tawar Nirmala yang langsung diangguki oleh bocah itu.

***

Di hamparan padang rumput yang luas, Nirmala sekarang sedang berusaha belajar menggiring bola yang sedikit lagi akan kuasai. “Gol….” Sorak anak-anak itu membuat hati Nirmala begitu senang. 

Saat ini sedang membayangkan ia saat di stadion dan mencetak gol pertamanya sepertinya akan sanagat menyenangkan. Hal ini membuat ia makin bertekad untuk menjadi pemain bola professional.

Dengan napas terengah-engah ia memasuki rumah, ia berjalan dengat terinjit-injit agar ibunya tidak tahu kalau dia baru saja pulang dari latihan sepak bola. Kalau ibunya tahu bisa habis ia diomelin sepanjang malam. Namun, semuanya tidak sesuai yang ia rencanakan. Ekor mata Nirmala tidak sengaja menangkap dari seseorang kejauhan sedang bersandar pada kursi yang menjadi penopang tubuhnya. 

Ibunya menatapnya tajam seolah ingin mengintimidasi Nirmala seakan ia seorang  buronan. Seluruh badan Nirmala bergetaran, ia takut ditudingpuluhan pertanyaan yang tak mampu ia jawab sedikit pun, bahkan menurutnya jika hal ini ketahuan akan lebih mengerikan dari pada pergi jalan-jalan dengan pacar.

Tujuh tahun yang lalu adalah hari dimana sejarah kelam di keluarga Nirmala dimulai.  Ayahnya Nirmala, meninggal karena mengalami cedera parah pada bagian saraf otak akibat terbentur dengan kepala pemain dari lawan, saat itu, adalah pertandingan Indoneisa melawan China  yang menjadi pertandingan terakhir ayahnya Nirmala. Semenjak kejadian itu, ibunya melarang anak semata wayangnya itu Nirmala untuk menyentuh bola.

***

Sebuah mading dikerumuni oleh banyak siswa, membuat Nirmala ingin sekali melihatnya. “ Dibuka pendaftaran Akademi sepak bola SMAN 1 unggulan!” Baca Anastasia yang spontan membuat Nirmala langsung antusias ingin masuk ke akademi itu. 

Namun, hal yang pertama ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia minta izin pada  ibunya, kalau untuk ikut akademi sepak bola pasti ibunya akan menolak mentah-mentah tawaran itu. “bagaimana kalau aku bilang ikut KIR aja, kan nilai Bahasa Indonesiaku pun bagus. Jadi nggak akan diragukan lagi kalau alasannya itu.” Monolognya senang saat mendapat ide.

***

Di ruang tamu yang minimalis, ada Nirmala yang sedang kebingungan mencari sepatu bolanya. Seluruh sepatu yang semula tersusun rapi kini berserakan di lantai, Nirmala bingung akan memakai sepatu apa saat ia latihan nanti. “Akhirnya ada juga ini sepatu bola.” Ucapnya sambil mengelap sepatu bola yang sempat ia beli satu tahun yang lalu. Semoga ke depannya sepatu ini dapat mengharumkan nama Indonesia.

***

Kaki jenjangnya semakin mantap saat mengiring bola, semakin hari ia semakin percaya  bahwa ia pasti bisa, meskipun ia harus melawan kodrat seorang wanita yang seharusnya bersifat anggun. 

Satu hal lagi yang ia ragukan sekarang yaitu tentang izin dari ibunya. Menurutnya ibunya akan sangat tidak setuju jika ia tau apa yang anaknya lakukan sekarang.

   â€śHalo semuanya, apa kabar? Bagaimana kondisi fisik kalian, apakah sudah kalian persiapkan dengan matang? Minggu depan adalah pertandingan pertama kalian, apakah kalian siap?”Ucap coach ke semua  peserta didiknya.

“Apa yang kamu lakukan, tega sekali kamu membohongiku. Apa yang kamu katakan tentang KIR itu?”Ucap wanita paruh baya yang dipanggil ibu oleh Nirmala. Mata Nirmala tertegun sejenak. Pikirannya menangkap apa yang baru saja ibunya katakan kepadanya, rasa waspada masih melekat pada benaknya. Mungkinkah ibunya sudah tau tentang akademi sepak bola itu. Pikirannya berkeliaran ke mana-mana seolah ia ingin kabur segera agar tidak dapat memikirkan apa jawaban atas pertanyaan mendadak tersebut.

“Jawab, apa itu KIR?” lanjut ibunya saat mendapati anaknya masih berdiri di posisi semula tanpa bergerak sedikit pun. “KIR itu Karya Ilmiah Remaja.” Jawab Nirmala yang langsung di angguki oleh ibunya.

***

Terdengar suara komentator menggelegar di seluruh penjuru stadion, mungumumkan hasil pertandingan yang juarai oleh SMAN 1 Unggulan. Pertandingan antara SMAN 1 unggulan dan SMK Terpadu adalah ajang yang menjadi perbincangan hangat  semua sekolah, hal ini dikarenakan di dalam tim SMANSA terdapat seorang striker perempuan yang bermain dengan taktik cepat, konsisten, dan gol. Bukan hanya soal taktik permainan, tapi ini soal keyakinan bahwa perbedaan bukan hal yang menjadi terhalangnya suatu bakat. 

***

 Setelah pertandingan itu selesai Nirmala langsung pulang ke rumah “Assalamu’alaikum, bu. misalnya besok dipanggil ke sekolah ibu datang ya!” tutur Nirmala pelan-pelan. “ Hm, buat masalah apalagi kamu?” ucap ibunya dingin. “Pokoknya ibu datang aja, Insya Allah nggak akan terjadi apa-apa kok bu.” Sahut nirmala lagi untuk meyakinkan ibunya jika besok tidak akan terjadi apa-apa.

***

Namanya dipanggil dengan bangga, ia maju ke depan untuk menerima penghargaan. Hari ini ia akan dipindahkan ke akademi sepak bola impiannya. Ibunya mengizinkan cita-cita anaknya itu, bagi Nirmala bakat yang kita miliki harus kita asah. Jangan kita pendam, kita harus yakin bahwa perbedaan bukanlah hal yang membuat kita terhalang untuk mewujudkan bakat yang kita miliki.  

Terhipnotis: hilang ingatan, dikendalikan 

Striker: seorang penyerang dalam pemainan sepak bola atau pencetak gol

Coach: pelatih

KIR: karya ilmiah remaja

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Merajut Aksara Mimpi - 707b5947 7038 45db 9f8c 4ec72cbcff4d | #Cerpen | Potret Online

Rumah Sahroni pun Jadi Amukan Rakyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com