Dengarkan Artikel
Oleh: Rifa Faiza
Pagi yang cerah, aku baru selesai pulang dari sekolahku. Suara keras datang dari ruang tamu rumahku. Suara itu sangat familiar—suara ayah dan ibu yang sedang bertengkar lagi.
“Kenapa kamu selalu begitu! Tidak pernah peduli dengan keluarga kita!” teriak ibu dengan nada penuh emosi.
“Aku yang bekerja keras untuk kalian! Aku yang mencari nafkah setiap hari, tapi kamu malah sibuk dengan urusanmu sendiri!” balas ayah, suaranya semakin keras.
Aku tahu keduanya sangat lelah, tetapi kenapa mereka tidak bisa berhenti? Kenapa semua ini harus terjadi di depan kami, anak-anak mereka?
Aku melihat ke arah adikku, Qaulan, yang tampaknya semakin ketakutan. Matanya yang besar berkaca-kaca, bibirnya bergetar, seperti ia tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar, aku memeluknya erat, berusaha menenangkannya.
“Jangan takut ya, Dek. Abang di sini,” ucapku, menyembunyikan rasa cemas di dalam hatiku.
Namun, suara pertengkaran mereka tidak berhenti.
“Lisa, kamu sudah bosan denganku, kan? Ini semua salahmu!” teriak ayah.
“Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana! Setiap hari, kamu hanya membuat aku merasa terjebak!” balas ibu dengan tangis tertahan.
“Apa yang kamu inginkan? Kamu pikir aku tidak cukup berkorban? Aku yang bekerja setiap hari, berusaha memberi yang terbaik, tapi kamu terus saja mengeluh!”
Aku merasa hatiku hancur mendengarnya. Setiap kata yang mereka ucapkan seperti melukai hatiku lebih dalam. Aku hanya bisa menatap pintu kamarku, merasa begitu kecil, seperti tidak ada yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semua ini.
Suasana semakin tegang. Aku bisa mendengar suara barang-barang yang terjatuh, seperti ada benda yang dibanting. Aku mengeratkan pelukan pada Qaulan, berusaha menenangkannya, meski sebenarnya aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menenangkan diriku.
Saat malam tiba, aku duduk melamun di balkon rumah. Biarpun langit cerah, aku merasa seolah dunia ini begitu gelap. Semua yang terjadi di rumah terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Aku ingin berteriak, ingin marah, ingin mengerti mengapa ini harus terjadi. Tetapi yang bisa kulakukan hanyalah duduk diam, menatap bintang yang tidak memberi jawaban apa pun.
Tiba-tiba, suara keras kembali mengusik lamunanku. Ayah dan ibu kembali bertengkar dengan kata-kata yang lebih tajam.
“Lisa, lebih baik kita cerai!” ucap ayah, suaranya begitu berat dan penuh kebencian.
Itu adalah kata-kata yang sangat mengerikan, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar dari mulutnya.
Ibu terdiam sejenak, lalu terdengar isakan tangisnya. Aku bisa membayangkan betapa sakitnya hati ibu mendengar itu. Aku tahu betul, meskipun mereka bertengkar dan saling menyalahkan, mereka sebenarnya saling mencintai. Tapi mengapa harus ada kata-kata itu? Mengapa mereka tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik?
Aku merasa hatiku semakin hancur. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku merasa seolah dunia ini runtuh di sekitarku. Qaulan yang ada di sampingku semakin menangis, tubuhnya gemetar, dan aku hanya bisa memeluknya erat.
“Dek, jangan takut ya. Abang akan selalu ada untukmu,” ucapku, meskipun aku sendiri juga merasa sangat takut.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan suara keras. Ayah berdiri di depan kami, wajahnya tampak lelah dan penuh amarah.
“Kalian pilih, tinggal bersama siapa? Ayah atau ibu?” tanyanya, suaranya tegas dan penuh kekuasaan.
Aku terdiam sejenak, memikirkan segala hal yang harus aku putuskan. Rasanya seperti aku harus memilih antara dua orang yang sangat aku cintai.
Akhirnya, aku memutuskan untuk tinggal dengan ayah. Aku tidak tahu mengapa memilih ini, mungkin karena ayah lebih dekat denganku saat itu, atau mungkin karena aku merasa ibu sudah terlalu terluka oleh pertengkaran.
“Aku akan tinggal dengan ayah,” jawabku dengan suara pelan.
Qaulan memilih tinggal bersama ibu. Aku bisa melihat kesedihan di matanya, namun dia tidak berkata apa-apa. Kami berdua tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik, meskipun sebenarnya tidak ada yang benar-benar siap.
📚 Artikel Terkait
Sejak saat itu, aku dibawa ayah ke Bandung. Jauh dari ibu, jauh dari Qaulan. Namun, semakin lama aku semakin merasa kosong. Aku rindu rumah yang dulu aku kenal, rindu tawa ibu dan suara ceria Qaulan. Tapi hidup harus terus berjalan, dan aku mencoba beradaptasi dengan kenyataan baru ini.
Meskipun ayah membawaku jauh dari ibu, aku tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah. Aku sering berpikir, “Kenapa orang tuaku harus berpisah? Kenapa harus seperti ini?” Aku merasa hampa, kesepian, dan tak tahu harus berbuat apa. Aku ingin kembali ke masa lalu, waktu semuanya terasa lebih sederhana.
Setelah bertahun-tahun berjuang menerima kenyataan pahit, akhirnya aku mulai menemukan jalan menuju kedamaian. Aku menjalani hari-hari kuliah di Bandung, jauh dari rumah, jauh dari ibu dan Qaulan. Walaupun hidupku tampak bahagia di luar, hatiku masih kosong.
Namun, segalanya mulai berubah ketika aku bertemu Ghazi, teman kuliah yang ternyata memiliki pengalaman sama denganku. Kehidupan Ghazi, meskipun berasal dari keluarga broken home, terasa lebih tenang dan penuh kedamaian. Suatu hari, aku memberanikan diri bertanya padanya:
“Zi, kok kamu bisa bahagia sih? Padahal kita sama, anak broken home,” tanyaku penuh kebingungan.
Ghazi tersenyum. “Kamu tahu, hidup kita memang tidak sempurna. Tapi kamu harus sadar, kita jauh lebih beruntung daripada banyak orang di luar sana. Kita masih punya kedua orang tua, mereka masih peduli pada kita. Banyak orang di luar sana yang kehilangan orang tuanya. Kita harus bersyukur.”
“Dan yang terpenting,” lanjut Ghazi, “kamu punya agama, kamu punya cara untuk mencari kedamaian. Berdoalah pada Allah, dan segala bebanmu akan terasa lebih ringan.”
Kata-kata Ghazi menghentakku. Selama ini, aku terlalu lama terjebak dalam kesedihan dan kebencian, tanpa melihat semua berkat yang masih ada. Aku mulai berusaha mengubah kebiasaanku. Aku mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, dan mulai merasakan kedamaian yang selama ini kucari.
Aku mulai menemukan kebahagiaan sejati. Tidak ada lagi yang perlu kusembunyikan. Tidak ada lagi senyum palsu. Aku mulai merasakan hidupku penuh warna, meski perjalanan ini penuh air mata dan luka. Aku menyadari bahwa kebahagiaan tidak datang dengan mudah. Kadang, kita harus melewati banyak ujian untuk benar-benar memahami arti kebahagiaan itu.
Suatu hari, aku memberanikan diri untuk bertemu ayah dan ibu. Aku ingin meminta maaf, mengungkapkan penyesalan yang sudah lama menggerogotiku. Aku ingin memperbaiki hubungan, terutama dengan Qaulan, adikku yang dulu sangat kusayangi.
Di sebuah pagi cerah, aku memutuskan mengunjungi rumah ibu. Setelah perjalanan panjang, aku tiba di sana. Qaulan yang dulunya kecil, kini tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Begitu melihatku, dia berlari ke arahku dengan mata penuh haru.
“Abang, aku rindu banget sama abang! Udah lama kita nggak ketemu,” ucapnya sambil memelukku erat.
Tangisku pecah karena haru.
“Aku juga, Dek. Maafkan abang, dulu abang nggak bisa selalu ada buat kamu,” jawabku sedih.
Ibu pun keluar dari rumah, melihatku dengan tatapan penuh haru.
“MasyaAllah, anak ibu sudah besar sekarang,” ucap ibu dengan suara gemetar.
“Iya, Buk. Aku sudah besar sekarang.”
Aku bercerita kepada ibu tentang perjuanganku, tentang bagaimana aku berhasil menjadi CEO di perusahaan besar di Bali.
“MasyaAllah, anak ibu luar biasa. Selamat ya, Nak,” kata ibu bangga.
Saat itu, aku merasa beban berat di hatiku terangkat. Aku bisa merasakan kasih sayang ibu yang dulu terasa jauh, kini kembali hadir. Aku tahu, meskipun kami berpisah, cinta dan ikatan keluarga tidak akan pernah hilang.
Aku pun mengusulkan agar ibu dan Qaulan tinggal bersamaku di Bandung.
“Buk, bagaimana kalau ibu dan Qaulan tinggal bersama aku di Bandung?” tanyaku penuh harap.
Ibu tersenyum, “Boleh juga, Nak. Kalau tidak merepotkanmu.”
Akhirnya, mereka tinggal bersamaku. Kami kembali menjadi keluarga yang utuh, meskipun sudah melalui banyak cobaan. Hidup terasa lebih lengkap dan penuh cinta.
Namun, tak lama setelah itu, ibu jatuh sakit. Aku merawatnya dengan penuh kasih sayang, berusaha membalas semua cinta dan pengorbanannya. Sampai akhirnya, ibu pergi untuk selamanya. Pesan terakhirnya masih terngiang jelas:
“Jaga Qaulan, Nak. Dia masih butuh kamu.”
Aku berjanji kepada ibu untuk selalu menjaga Qaulan. Setelah ibu meninggal, aku mengambil alih semua tanggung jawab merawatnya. Aku mendukung pendidikannya dan menanggung semua biayanya.
Tiga tahun setelah ibu meninggal, Qaulan lulus dari SMK Bandung. Ia melanjutkan kuliah dan akhirnya berhasil menjadi pengusaha sukses. Melihat perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, aku merasa sangat bangga.
Kini, aku dan Qaulan berdiri bersama, saling mendukung satu sama lain. Kami telah melewati banyak hal: perpisahan yang menyakitkan, pertengkaran yang meruntuhkan hati, hingga kehilangan orang yang paling kami cintai. Tapi, kami tetap bersama. Kami belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Aku sangat bersyukur kepada Allah, yang telah memberi petunjuk dan jalan untukku menemukan kembali arti kebahagiaan. Aku bersyukur diberi kesempatan memperbaiki semuanya dan kembali bersama orang-orang yang kucintai. Kini, aku tahu bahwa hidup ini penuh cobaan, tetapi dengan iman, kasih sayang, dan usaha, kita bisa bangkit dan menemukan kebahagiaan sejati.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






