• Latest
Luka yang Menjadi Cahaya - 2025 08 07 10 58 08 | Puisi | Potret Online

Luka yang Menjadi Cahaya

Agustus 14, 2025
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Luka yang Menjadi Cahaya - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Puisi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Luka yang Menjadi Cahaya - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Puisi | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Luka yang Menjadi Cahaya - 2025 08 07 10 58 08 | Puisi | Potret Online

Luka yang Menjadi Cahaya

Redaksi by Redaksi
Agustus 14, 2025
in Puisi, Puisi Essay
Reading Time: 4 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Muhammad Hafiz
Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh

Ada masa,
di mana setiap langkah terasa seperti menembus duri,
dan setiap napas adalah beban yang tak terlihat,
namun terasa menusuk jauh ke dalam dada.
Aku berjalan di antara bayang-bayang,
membawa sebuah luka yang tak mau sembuh,
luka yang bukan hanya ada di kulit,
tetapi di dalam hati,
di ruang paling sunyi yang jarang tersentuh doa.

Luka itu,
berawal dari kehilangan,
dari janji yang tak pernah ditepati,
dari tangan yang melepas di tengah badai,
dari kata-kata yang menusuk seperti belati
dan meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus waktu.
Aku ingat malam itu,
langit seperti menutup matanya,
bintang-bintang seakan enggan bersinar,
dan hujan turun seakan ikut menangis
untuk segala yang tak sempat aku selamatkan.

Hari-hari setelahnya
adalah labirin tanpa peta,
aku tersesat dalam pikiranku sendiri,
mempertanyakan segalanya:
Apakah aku cukup kuat?
Apakah aku salah sejak awal?
Apakah aku masih layak melangkah?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti angin
yang tak pernah lelah menghantam daun-daun kering.

Namun waktu,
dengan segala kesabarannya,
mulai membisikkan sesuatu.
Tidak keras,
tidak terburu-buru,
tetapi perlahan.
Seperti sinar tipis yang merayap masuk
melalui celah-celah jendela di pagi hari.
Sinar itu menepuk bahuku,
dan berkata,
“Lihatlah, bahkan luka pun bisa menjadi guru.”

Awalnya aku tak mengerti.
Bagaimana mungkin rasa sakit ini
mengajarkan sesuatu selain kepahitan?
Bagaimana mungkin kegelapan ini
menyimpan secercah cahaya?
Tetapi hari demi hari,
aku mulai menyadari,
bahwa luka membuatku melihat dunia
dengan mata yang berbeda.

Dulu aku berjalan terburu-buru,
mengejar hal-hal yang bahkan tak aku pahami,
meninggalkan diriku sendiri di belakang,
dan mengira aku akan baik-baik saja.
Namun luka ini memaksaku berhenti,
memaksaku duduk,
memaksaku menatap ke dalam.
Dan di sanalah aku menemukan,
bahwa di balik semua rasa sakit,
ada kekuatan yang diam-diam tumbuh.

Aku mulai mengenal diriku
bukan dari cermin,
tetapi dari air mata yang jatuh,
dari malam-malam panjang yang kuhabiskan
untuk bertahan meski aku lelah.
Aku belajar bahwa kebahagiaan
bukanlah tentang menghapus semua luka,
tetapi tentang merangkulnya
dan membiarkan luka itu menjadi bagian dari cerita.

Seperti tanah yang retak
yang justru memberi jalan bagi benih untuk tumbuh,
begitu pula hatiku,
yang retaknya memberi ruang
bagi cahaya untuk masuk.
Aku tak lagi memandang luka
sebagai tanda kelemahan,
tetapi sebagai bukti bahwa aku pernah berjuang,
bahwa aku pernah mencintai dengan seluruh jiwa,
bahwa aku pernah berdiri di tepi jurang
dan memilih untuk tidak jatuh.

Kini, ketika aku melihat ke belakang,
aku tak lagi melihat hanya air mata.
Aku melihat perjalanan—
betapa aku pernah rapuh,
betapa aku pernah hancur,
namun tetap memilih untuk menyulam kembali serpihan-serpihan diriku
menjadi sesuatu yang lebih indah.

Luka itu kini adalah cahaya,
karena ia mengajariku arti empati.
Aku kini bisa memahami
tangisan orang lain,
aku bisa mendengar diam mereka
dan mengerti bahwa mereka sedang menahan badai di dadanya.
Aku bisa memeluk dengan lebih erat,
menatap dengan lebih dalam,
dan mencintai dengan lebih tulus.

Ada sesuatu yang hanya bisa dipelajari
melalui kehilangan,
dan sesuatu itu adalah keindahan
dari menghargai setiap detik
yang masih kita punya.
Luka membuatku tahu
betapa berharganya sebuah “ada”
sebelum ia berubah menjadi “pernah.”

Sekarang,
setiap kali rasa sakit itu datang lagi,
aku tak lagi melawannya,
aku membiarkannya duduk di sebelahku,
karena aku tahu ia datang
bukan untuk menghancurkan,
tetapi untuk mengingatkan.
Ia mengingatkanku bahwa aku masih manusia,
masih punya hati yang mampu mencinta,
dan masih punya kekuatan untuk memaafkan.

Dan di tengah segala kekacauan dunia,
aku berjalan dengan luka yang bersinar di dadaku,
seperti lentera kecil yang menuntunku
melewati malam-malam gelap.
Luka itu adalah bintangku,
yang tak pernah padam meski hujan turun,
yang tak pernah hilang meski fajar tiba.

Jika dulu aku ingin menghapus luka itu,
kini aku menjaganya,
seperti seseorang menjaga bunga langka
yang hanya mekar di musim dingin.
Karena aku tahu,
tanpa luka itu,
aku mungkin tak akan pernah menemukan
cahaya yang kini menuntunku.

Di setiap langkahku,
aku membawa pesan untuk dunia:
bahwa tak apa jika kau terluka,
tak apa jika kau menangis,
tak apa jika kau tersesat sementara.
Yang penting,
tetaplah mencari cahaya,
meski jalannya panjang,
meski kakimu lelah.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Luka yang Menjadi Cahaya - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi | Potret Online

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Luka yang Menjadi Cahaya - c55c503b 60a2 40a1 b01e d3c1585dfd3d | Puisi | Potret Online

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026

Karena suatu hari nanti,
kau akan berdiri di puncak waktu
dan menyadari
bahwa semua yang pernah kau lalui
bukanlah untuk menghancurkanmu,
tetapi untuk membentukmu.

ADVERTISEMENT

Dan saat itu tiba,
kau akan memandang lukamu
dengan senyum lembut,
dan berkata,
“Terima kasih,
karena telah menjadi cahaya.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 332x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 328x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 197x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Luka yang Menjadi Cahaya - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Puisi | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post
Luka yang Menjadi Cahaya - 2025 08 14 16 37 49 | Puisi | Potret Online

Beranikah Mualem-Marthunis Gelontorkan BOS Pendidikan Aceh?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com