POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Luka yang Menjadi Cahaya

RedaksiOleh Redaksi
August 14, 2025
Cahaya Kecil Bernama Apis
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Muhammad Hafiz
Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Bireun, Aceh

Ada masa,
di mana setiap langkah terasa seperti menembus duri,
dan setiap napas adalah beban yang tak terlihat,
namun terasa menusuk jauh ke dalam dada.
Aku berjalan di antara bayang-bayang,
membawa sebuah luka yang tak mau sembuh,
luka yang bukan hanya ada di kulit,
tetapi di dalam hati,
di ruang paling sunyi yang jarang tersentuh doa.

Luka itu,
berawal dari kehilangan,
dari janji yang tak pernah ditepati,
dari tangan yang melepas di tengah badai,
dari kata-kata yang menusuk seperti belati
dan meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus waktu.
Aku ingat malam itu,
langit seperti menutup matanya,
bintang-bintang seakan enggan bersinar,
dan hujan turun seakan ikut menangis
untuk segala yang tak sempat aku selamatkan.

Hari-hari setelahnya
adalah labirin tanpa peta,
aku tersesat dalam pikiranku sendiri,
mempertanyakan segalanya:
Apakah aku cukup kuat?
Apakah aku salah sejak awal?
Apakah aku masih layak melangkah?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti angin
yang tak pernah lelah menghantam daun-daun kering.

Namun waktu,
dengan segala kesabarannya,
mulai membisikkan sesuatu.
Tidak keras,
tidak terburu-buru,
tetapi perlahan.
Seperti sinar tipis yang merayap masuk
melalui celah-celah jendela di pagi hari.
Sinar itu menepuk bahuku,
dan berkata,
“Lihatlah, bahkan luka pun bisa menjadi guru.”

Awalnya aku tak mengerti.
Bagaimana mungkin rasa sakit ini
mengajarkan sesuatu selain kepahitan?
Bagaimana mungkin kegelapan ini
menyimpan secercah cahaya?
Tetapi hari demi hari,
aku mulai menyadari,
bahwa luka membuatku melihat dunia
dengan mata yang berbeda.

Dulu aku berjalan terburu-buru,
mengejar hal-hal yang bahkan tak aku pahami,
meninggalkan diriku sendiri di belakang,
dan mengira aku akan baik-baik saja.
Namun luka ini memaksaku berhenti,
memaksaku duduk,
memaksaku menatap ke dalam.
Dan di sanalah aku menemukan,
bahwa di balik semua rasa sakit,
ada kekuatan yang diam-diam tumbuh.

Aku mulai mengenal diriku
bukan dari cermin,
tetapi dari air mata yang jatuh,
dari malam-malam panjang yang kuhabiskan
untuk bertahan meski aku lelah.
Aku belajar bahwa kebahagiaan
bukanlah tentang menghapus semua luka,
tetapi tentang merangkulnya
dan membiarkan luka itu menjadi bagian dari cerita.

📚 Artikel Terkait

Jarak Rindu

Semangat Bangsa Milenial Muda di Hari Sumpah Pemuda

ISLAM DAN TUHAN MENURUT SIAPA?

Kisah Cinta Di Bumi Aceh

Seperti tanah yang retak
yang justru memberi jalan bagi benih untuk tumbuh,
begitu pula hatiku,
yang retaknya memberi ruang
bagi cahaya untuk masuk.
Aku tak lagi memandang luka
sebagai tanda kelemahan,
tetapi sebagai bukti bahwa aku pernah berjuang,
bahwa aku pernah mencintai dengan seluruh jiwa,
bahwa aku pernah berdiri di tepi jurang
dan memilih untuk tidak jatuh.

Kini, ketika aku melihat ke belakang,
aku tak lagi melihat hanya air mata.
Aku melihat perjalanan—
betapa aku pernah rapuh,
betapa aku pernah hancur,
namun tetap memilih untuk menyulam kembali serpihan-serpihan diriku
menjadi sesuatu yang lebih indah.

Luka itu kini adalah cahaya,
karena ia mengajariku arti empati.
Aku kini bisa memahami
tangisan orang lain,
aku bisa mendengar diam mereka
dan mengerti bahwa mereka sedang menahan badai di dadanya.
Aku bisa memeluk dengan lebih erat,
menatap dengan lebih dalam,
dan mencintai dengan lebih tulus.

Ada sesuatu yang hanya bisa dipelajari
melalui kehilangan,
dan sesuatu itu adalah keindahan
dari menghargai setiap detik
yang masih kita punya.
Luka membuatku tahu
betapa berharganya sebuah “ada”
sebelum ia berubah menjadi “pernah.”

Sekarang,
setiap kali rasa sakit itu datang lagi,
aku tak lagi melawannya,
aku membiarkannya duduk di sebelahku,
karena aku tahu ia datang
bukan untuk menghancurkan,
tetapi untuk mengingatkan.
Ia mengingatkanku bahwa aku masih manusia,
masih punya hati yang mampu mencinta,
dan masih punya kekuatan untuk memaafkan.

Dan di tengah segala kekacauan dunia,
aku berjalan dengan luka yang bersinar di dadaku,
seperti lentera kecil yang menuntunku
melewati malam-malam gelap.
Luka itu adalah bintangku,
yang tak pernah padam meski hujan turun,
yang tak pernah hilang meski fajar tiba.

Jika dulu aku ingin menghapus luka itu,
kini aku menjaganya,
seperti seseorang menjaga bunga langka
yang hanya mekar di musim dingin.
Karena aku tahu,
tanpa luka itu,
aku mungkin tak akan pernah menemukan
cahaya yang kini menuntunku.

Di setiap langkahku,
aku membawa pesan untuk dunia:
bahwa tak apa jika kau terluka,
tak apa jika kau menangis,
tak apa jika kau tersesat sementara.
Yang penting,
tetaplah mencari cahaya,
meski jalannya panjang,
meski kakimu lelah.

Karena suatu hari nanti,
kau akan berdiri di puncak waktu
dan menyadari
bahwa semua yang pernah kau lalui
bukanlah untuk menghancurkanmu,
tetapi untuk membentukmu.

Dan saat itu tiba,
kau akan memandang lukamu
dengan senyum lembut,
dan berkata,
“Terima kasih,
karena telah menjadi cahaya.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Beranikah Mualem-Marthunis Gelontorkan BOS Pendidikan Aceh?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00