• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Menggugat Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia: Antara Kuantitas dan Kualitas

Agustus 4, 2025
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menggugat Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia: Antara Kuantitas dan Kualitas

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Agustus 4, 2025
in #Pendidikan, Artikel, Kualitas pendidikan, Perguruan tinggi, Universitas
Reading Time: 3 mins read
0
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dayan Abdurrahman


Akses Meluas, Kualitas Masih Tertinggal

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026

Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini berada di persimpangan: akses yang semakin luas belum diimbangi dengan peningkatan kualitas. Dari sekitar 3.900 hingga 4.500 perguruan tinggi, hanya 4 sampai 7 persen yang memiliki akreditasi A atau unggul, artinya lebih dari 90 persen kampus masih berada di level B atau C, bahkan ada yang tidak terakreditasi sama sekali. Hingga Agustus 2024, terdapat 84 perguruan tinggi swasta yang berisiko kehilangan izin karena gagal memenuhi standar akreditasi. Statistik ini bukan sekadar angka, melainkan potret nyata bahwa sistem pendidikan tinggi masih lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas.


Lemahnya Fondasi Riset dan Inovasi

Data terbaru menunjukkan bahwa pengeluaran untuk riset nasional hanya sekitar 0,10 persen dari PDB, dan dari jumlah tersebut, perguruan tinggi hanya mengelola sekitar 46 persen. Kontribusi sektor industri terhadap riset lebih rendah lagi, sekitar 21 hingga 22 persen. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia, Korea Selatan, atau Singapura yang mengalokasikan antara 1 hingga 4 persen dari PDB untuk penelitian dan pengembangan, posisi Indonesia sangat tertinggal. Rendahnya pendanaan riset ini berdampak langsung pada produktivitas publikasi ilmiah, paten, dan inovasi yang dihasilkan oleh universitas.


Sumber Daya Manusia: Masalah yang Berulang

Selain pendanaan, kualitas dosen juga menjadi persoalan mendasar. Dari sekitar 303.000 dosen di Indonesia, hanya 25 persen yang bergelar doktor. Minimnya dosen berkualifikasi doktor berakibat pada rendahnya daya saing global pendidikan tinggi Indonesia, khususnya dalam hal riset dan publikasi internasional. Tanpa perbaikan signifikan dalam pengembangan sumber daya manusia, sulit bagi Indonesia untuk mencapai peringkat universitas kelas dunia.


Praktik Baik: Telkom University dan UNPAR

Tidak semua gambaran ini gelap. Ada sejumlah perguruan tinggi swasta yang berupaya menunjukkan komitmen terhadap kualitas. Telkom University misalnya, menjadi kampus swasta pertama yang meraih akreditasi unggul dengan 62 persen program studi terakreditasi A serta sejumlah pengakuan internasional dari ASIC dan IABEE. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) juga berhasil mempertahankan status akreditasi unggul dengan 14 program studi yang mendapatkan pengakuan hingga 2027. Pencapaian ini membuktikan bahwa meskipun tantangan berat, peluang untuk berbenah tetap terbuka.


Isu Regulasi dan Transformasi Digital

Penerapan Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) sejak 2022 memunculkan perdebatan. Sebagian pihak menilai LAM membebani perguruan tinggi dengan biaya, sementara pihak lain melihatnya sebagai langkah penting menuju akreditasi profesional yang kredibel dan diakui secara internasional. Di sisi lain, pandemi COVID-19 sempat mempercepat adopsi pembelajaran daring dan blended learning. Sayangnya, banyak perguruan tinggi yang kembali ke pola konvensional setelah pandemi berakhir, padahal tren global menunjukkan bahwa pembelajaran personalisasi berbasis teknologi, analitik data, dan kecerdasan buatan adalah masa depan pendidikan tinggi.


Langkah Strategis Menuju Perubahanu

Melihat kondisi ini, penting bagi kaum intelektual dan pembuat kebijakan untuk berpikir lebih jernih dan strategis. Apakah kita akan terus menambah jumlah kampus dengan akreditasi rendah, atau memprioritaskan penguatan kualitas institusi yang sudah berkontribusi nyata? Apakah kita siap mengarahkan investasi besar pada beasiswa doktoral, peningkatan kualitas dosen, serta pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan industri? Pendidikan tinggi yang bermakna tidak bisa hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterima atau gedung yang dibangun. Universitas harus menjadi pusat inovasi, bukan sekadar penerbit ijazah.


Penutup: Menuju Indonesia Emas 2045

Indonesia memiliki potensi besar untuk memperbaiki kualitas pendidikan tinggi. Jumlah mahasiswa yang terus meningkat, keberadaan program beasiswa LPDP, dan kesadaran publik terhadap pentingnya kualitas adalah modal awal. Namun, bila perbaikan sistemik tidak dilakukan—mulai dari penguatan kualitas dosen, peningkatan dana riset, penguatan akreditasi, hingga sinergi dengan industri—maka kita akan terus berada pada posisi sebagai negara dengan jumlah perguruan tinggi yang banyak, tetapi kualitasnya tertinggal jauh. Jika kita benar-benar ingin mencapai visi Indonesia Emas 2045, pendidikan tinggi harus menjadi prioritas, bukan hanya formalitas. Inilah saatnya kita bersikap kritis, berpikir strategis, dan bertindak kolektif agar pendidikan tinggi menjadi fondasi bangsa maju, bukan sekadar simbol status.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: #analisis
SummarizeShare236Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

Artikel

Borderless World: Ketika Sejarah Berulang dalam Perfektif Budaya

Maret 4, 2026
Kampus

Dialetika Kampus

Februari 27, 2026
Sekolah Rakyat
#Krisis Ekonomi

Dari Meja Dapur ke Meja Pemerintah: Memahami Krisis Ekonomi di Aceh

Mei 6, 2025
Tantangan dan Peluang Akademisi Indonesia di Era Digital
#Akademisi

Tantangan dan Peluang Akademisi Indonesia di Era Digital

April 17, 2025
Next Post

Indonesia Bukan Negara

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com