POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengapa Bersepeda Begitu Digemari di Kota Banda Aceh?

Siti HajarOleh Siti Hajar
July 28, 2025
Mengapa Bersepeda Begitu Digemari di Kota Banda Aceh?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Pagi hari di Banda Aceh bukan lagi hanya tentang kota yang tenang, kicuan burung di pinggiran kota. Bukan juga tentang aroma kopi dari warung-warung yang mulai menyambut tamunya. Bukan juga tentang  wangi telur dadar dan sambal lado yang dipanaskan yang tentu menggugah selera. Atau manisnya roti dan pulut panggang dari dapur yang menyiapkan kue untuk sarapan pagi di kedai-kedai dalam kota.

Ada suasana baru yang terasa menggairahkan. Coba saja amati jalan-jalan utama seperti kawasan Darussalam, Lampineung, Blang Padang hingga ke arah Ulee Lheue. Deru ringan roda sepeda semakin ramai terdengar. Entah itu individu yang melaju sendiri dengan keheningan pagi, pasangan yang mengayuh sambil berbincang, atau kelompok kecil dan komunitas yang melintasi jalan dengan kostum seragam penuh semangat.

Fenomena ini semakin mencolok, terutama saat akhir pekan. Sabtu dan Minggu pagi menjadi momen istimewa, ketika warga kota tumpah ruah ke jalan membawa sepeda masing-masing. Ini bukan sekadar tren atau kebetulan, melainkan tanda meningkatnya kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat.

Lalu, mengapa bersepeda begitu digemari dibandingkan olahraga lainnya?

Bersepeda menawarkan lebih dari sekadar pembakaran kalori. Ia adalah perpaduan antara olahraga, rekreasi, eksplorasi, dan bahkan meditasi. Tak seperti lari yang bisa terasa berat, atau olahraga gym yang terikat ruang, sepeda membebaskan kita menjelajah. Rute yang dipilih bisa berubah setiap saat—hari ini menyusuri pantai Ulee Lheue, besok menjajal tanjakan ke arah Lambaro, lusa mungkin berbelok ke desa-desa yang tenang di pinggiran kota Alue Naga, atau pinggiran Ulee Kareng. Setiap jalur membawa pengalaman baru dan lanskap yang menyejukkan mata.

Dari sisi kesehatan, bersepeda adalah olahraga yang ramah bagi segala usia. Ia memperkuat jantung, memperbaiki postur, mengurangi risiko penyakit kronis, dan tak terlalu membebani sendi—terutama bagi yang mulai berusia di atas 40 tahun. Lebih dari itu, ia juga memberi efek positif pada kesehatan mental. Mengayuh di bawah sinar matahari pagi, dengan hembusan angin segar dan ritme yang stabil, memberi ketenangan dan rasa syukur yang sulit didapatkan dari aktivitas lain.

📚 Artikel Terkait

Wonderful Indonesia, Beauty of Paradise

Untaian Puisi  Sariman Haji Husin

Menanyakan Peran dan Posisi TNI Dalam Penegakan Demokrasi dan Konstitusi (1)

Di Depan Pintu yang Tak Pernah Terbuka

Dan menariknya, bersepeda tak hanya diminati oleh anak muda atau pekerja yang mencari kebugaran fisik. Kini muncul satu fenomena yang menghangatkan hati: komunitas para gaek—bapak-bapak berusia akhir 50-an hingga 60-an—yang kian ramai dan semangat bersepeda. Mereka datang dengan sepeda yang terawat rapi, mengenakan helm dan jersey, mengayuh dengan tenang tapi penuh percaya diri. Bagi mereka, ini bukan sekadar olahraga. Ini adalah momen reuni, ajang bertukar kabar, mengenang masa lalu, dan tak jarang menjadi sarana untuk mengatakan kepada dunia: “Kami masih sehat, Alhamdulillah.”

Ada sesuatu yang mengharukan dari pemandangan ini. Di usia yang tak lagi muda, mereka tetap mengayuh, tetap tertawa, tetap hadir di tengah masyarakat dengan tubuh yang bugar dan semangat yang tidak kalah dari generasi di bawahnya. Dan bersepeda menjadi wadah terbaik untuk itu—olahraga yang merangkul semua usia, semua latar belakang, dan semua cerita hidup.

Pemerintah kota pun turut memberi ruang bagi geliat ini, antara lain dengan menghadirkan jalur sepeda dan mendukung kegiatan car free day. Meskipun fasilitasnya masih belum ideal, semangat masyarakat tak surut. Mereka tetap turun ke jalan, dengan helm di kepala dan air minum di botol samping, menikmati momen pagi yang hidup.

Bersepeda di Banda Aceh kini telah menjadi bagian dari identitas kota—sebuah gerakan senyap tapi masif menuju gaya hidup sehat dan berdaya. Dan mungkin, pada suatu pagi, saat kau berdiri di pinggir jalan dan melihat para pesepeda lewat satu demi satu, kau akan menyadari satu hal: mereka sedang menikmati hidup, bukan dengan tergesa, tapi dengan kayuhan yang mantap dan senyum yang sederhana.

Bersepeda di Banda Aceh kini telah menjadi bagian dari identitas kota—sebuah gerakan senyap tapi masif menuju gaya hidup sehat dan berdaya. Dan mungkin, pada suatu pagi, saat kamu berdiri di pinggir jalan dan melihat para pesepeda lewat satu demi satu, kamu akan menyadari satu hal bahwa mereka sedang menikmati hidup, bukan dengan tergesa, tapi dengan kayuhan yang mantap dan senyum yang memberi semangat.

Maka mari kita ikut mengayuh. Jangan berhenti bergerak. Berolahraga, apapun bentuknya—termasuk bersepeda—adalah cara terbaik untuk merawat diri, menghargai hidup, dan mensyukuri nikmat kesehatan yang Allah anugerahkan. Sebab dengan tubuh yang sehat, kita dapat beraktivitas dengan lebih ringan, beribadah dengan lebih khusyuk, dan menjalani hari-hari dengan hati yang lebih lapang.

Pagi Banda Aceh masih luas. Jalan-jalan masih terbuka. Sepedamu bisa jadi kunci untuk membuka banyak hal—mulai dari pertemanan baru, kesehatan yang lebih baik, hingga semangat hidup yang kembali menyala. Ayuh, jangan ragu untuk mulai mengayuh. Banda Aceh sedang bergerak. Semoga kita pun ikut bergerak bersamanya. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Nenengisme di Antara Budaya Omon-Omon

Nenengisme di Antara Budaya Omon-Omon

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00