• Latest
Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

Juli 17, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juli 17, 2025
in Artificial Intelligence, Artikel, Pendidikan POTRET Sekolah
Reading Time: 3 mins read
0
Orang Tua, Guru, dan Anak di Era Kecerdasan Artifisial
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah dan Ketua Satupena Kabupaten Blora

Di tengah derasnya gelombang revolusi teknologi, kita tak hanya berhadapan dengan kemajuan perangkat keras dan lunak, tetapi juga lahirnya Kecerdasan Artifisial (KA) yang mengubah lanskap kehidupan manusia. Di ruang keluarga, ruang kelas, bahkan ruang batin, KA memaksa kita untuk merenungkan kembali peran dan relasi antara orang tua, guru, dan anak.

Orang tua yang dulu menjadi sumber utama informasi kini harus berdamai dengan kenyataan bahwa anak-anak dapat mengakses jutaan pengetahuan hanya dengan beberapa klik. Namun, bukan berarti peran orang tua menjadi usang. Justru, kehadiran KA memperkuat urgensi peran mereka sebagai penuntun nilai, etika, dan kebijaksanaan yang tidak bisa digantikan algoritma.

Guru, sebagai penjaga peradaban di ruang kelas, kini juga menghadapi tantangan dan peluang yang tak terbayangkan sebelumnya. Materi pelajaran dapat disampaikan oleh video interaktif, chatbot edukasi, atau platform daring cerdas. Namun, sentuhan manusiawi, empati, dan keteladanan guru tetap menjadi jembatan penting bagi lahirnya karakter yang utuh.

Bagi anak-anak, era KA adalah dunia yang penuh kemungkinan. Mereka dapat belajar bahasa asing dengan tutor virtual, menulis esai dibantu asisten AI, atau mengeksplorasi sains lewat simulasi digital. Namun, di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru, yakni menjaga rasa ingin tahu tetap murni, tidak semata demi “likes” dan “views”.

Relasi segitiga orang tua, guru, dan anak harus diwarnai kerja sama dan keterbukaan. Orang tua dan guru perlu saling mendukung, berbagi praktik baik dalam mendampingi generasi muda, serta menguasai literasi digital agar tak tertinggal. Anak pun perlu diajak berdialog tentang etika penggunaan teknologi, bukan hanya dibatasi.

Refleksi mendalam penting agar kita tak terjebak menjadi budak teknologi. KA harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras harus tetap diajarkan melalui teladan, bukan hanya ceramah.

Dalam konteks pendidikan, kolaborasi menjadi kunci. Guru yang kolaboratif dapat memanfaatkan AI untuk mempersonalisasi pembelajaran, sementara orang tua mendukung proses ini di rumah. Anak pun belajar bahwa belajar adalah perjalanan yang tak berhenti di kelas.

Era KA juga menuntut guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tak cukup hanya menguasai materi, guru perlu mengasah keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi lintas budaya, agar dapat membimbing anak menavigasi dunia yang kian kompleks.

Orang tua, di sisi lain, dituntut lebih peka pada perubahan psikologis dan sosial anak akibat paparan teknologi. Bukan sekadar mengontrol layar, tetapi juga membangun relasi emosional yang hangat dan penuh kepercayaan, sehingga anak merasa aman berbagi.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Anak-anak kita adalah “digital native” yang hidup di dunia serba cepat. Namun, mereka tetap membutuhkan fondasi karakter dan kasih sayang. Orang tua dan guru berperan sebagai “kompas moral” yang membantu anak menemukan arah di tengah hiruk-pikuk data dan informasi.

Inspirasi juga lahir ketika orang tua dan guru tidak hanya mengajarkan “apa” dan “bagaimana”, tetapi juga “mengapa”. Pertanyaan filosofis tentang makna, tujuan, dan dampak teknologi menjadi bekal penting agar anak tak hanya cerdas, tetapi juga bijak.

Pada akhirnya, era KA adalah peluang bagi transformasi pendidikan menjadi lebih inklusif, adaptif, dan relevan. Bukan untuk memisahkan peran manusia dan mesin, melainkan menyatukan keduanya demi kebaikan bersama.

Kita perlu menanamkan kepada anak bahwa teknologi adalah mitra, bukan musuh. Dan bahwa kemanusiaan – rasa empati, cinta, dan kebersamaan – tetap menjadi inti identitas kita sebagai manusia.

Di era KA, tugas kita bukan hanya mendidik anak untuk menguasai teknologi, tetapi juga untuk menjaga hati dan budi tetap menyala. Karena pada akhirnya, masa depan bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal nilai-nilai yang kita wariskan.

Dengan refleksi, kolaborasi, dan kebijaksanaan, orang tua, guru, dan anak dapat bersama-sama menapaki jalan perubahan ini, bukan sebagai korban, tetapi sebagai agen transformasi peradaban. (*)

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post
Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta

Arah Pendidikan Tinggi: Antara Kemewahan Luar Negeri dan Kedaulatan Akademik Dalam Negeri

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com