POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Amuk Lanting Paring

RedaksiOleh Redaksi
July 1, 2025
Amuk Lanting Paring
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Heri Haliling

Desau angin berpadu bersama raungan hutan. Menyeruak lalu berkumpul menjadi satu dengan rinai hujan. Sungai Amandit berarus jeram, alirannya bening suci keagungan alam.

Brass!!!

Bunyi sebuah lanting paring (bambu) terantuk batu kali dan dipermainkan ombak. Namun demikian, kepiawaian Atai Bawi dalam menjoki lanting itu tak boleh disepelekan. Dia pria setengah baya bertubuh tak terlalu tinggi dengan roman ramah. Meliuk dan sesekali seakan terbang dengan tojok bambu untuk kemudi.

Di belakang Atai, rombongan tour Bamboo Rafting bersorak gemilang. Nyatanya rinai hujan tak menyurutkan antusias mereka dalam teroka alam. Di Pegunungan Meratus, tepatnya daerah Loksado semua yang berkunjung kemari ialah saksi tentang tradisi dan napas bumi. Kerumunan hutan dengan siletan aliran Sungai Amandit bukan hanya sebagai wisata. Di bentangan cipta alam itu untuk Atai lebih berlaku sebagai sejarah.

Sekitar tahun 92 kiranya semua bermula. Lanting paring yang kini dikenal sebagai Bamboo Rafting itu mulanya adalah titipan leluhurnya. Berlaku sebagai sarana transportasi mengangkut bambu dan kayu untuk dijual di wilayah Kandangan. Moyang Atai pernah berkata, “Orang yang mewarisi dan melestarikan tradisi itu mulia. Apapun statusnya!”

Atai kembali meloncat penuh atraksi. Ingatan itu ia pegang dan tanamkan hingga kini. Dari kiri tempatnya menjoki, sebuah lanting lain yang dikemudikan Ancak Lamang mendahuluinya. Sorak sorai kembali menyeruak bersatu dengan deras ombak melabrak karang. Sekarang tiba permainan lain. Atai meloncat ke lanting Lamang, meninggalkan lanting yang ia kemudikan. Senyumnya usil mengurai dan menyapih matanya yang sipit. Hal itu tentu saja membuat penumpang Atai jengkel canda. Entah, serasa rombongan yang berisi 4 orang dewasa itu enyahkan kecemasan dan fokus pada kemegahan. Perasaan megah yang tak terukirkan dalam pelukan rimba Meratus, ibu bumi Borneo yang masih mengandung napas untuk Kalimantan.

Selusur lanting itu berhenti pada pertengahan. Di pinggir, tampak dua warung sederhana merayu dan melambai. Semuanya turun untuk menghangatkan diri dengan minuman dan sajian sederhana dari ramahnya hutan. Tak terkecuali Atai, dia langkahkan kaki untuk memesan kopi.

Dari lereng di atasnya, kisaran tiga orang pria bukan pendaki turun untuk ikut berkumpul. Atai kenal mereka dan entahlah, kopi itu kini seolah bukan memanaskan badannya.

“Bila kau teruskan niat itu, sungguh kami bakal lawan!” kata Atai kepada ketiganya. Salah satu pria yang mengenakan baju hem biru hitam khas perusahaan menaruh alat ukur. Semacam pemetaan wilayah. Helem ia taruh di meja, duduk sebentar sambil hembuskan napasnya.

“Atai,” sapa pria itu, Marwan namanya, “Industri ini juga akan kalian nikmati. Kesampingkan dulu emosimu. Lihat desain ini,” Mengarahkan layar yang berisi sketsa gambar digital. “Loksado modern.”

Atai mengepalkan tangan. Lamang berdiri di sampingnya, wajah keduanya yang semula ramah berubah garang.

“Kami tak butuh bangunan modern itu. Tak perlu juga lampu-lampu kota di pucuk Meratus. Kami butuh udara yang sama seperti saat nenek moyang kami hidup. Sungai jernih untuk anak cucu kami.”

Marwan menarik napas panjang, menatap langit yang mulai cerah. Hujan mulai reda, namun percakapan itu justru memanas.

📚 Artikel Terkait

Ekonomi dari Rakyat, Tapi untuk Bank? Kritik terhadap Skema Bantuan Berkedok Kredit

Kanjeng dan Pohon Keramat

Tentang Indah dan Tari

Tubuh Perempuan Dalam Perang

“Saya hanya pemetaan. Tapi kalau kalian menghalangi proyek ini. Kalian akan berhadapan dengan yang lebih dari sekadar peta.”

“Tanah leluhur, kalian jamah dengan kerakusan maka pantang bagi kami berhenti tumpahkan darah!” tegas Atai kuat sambil tepuk dada.

Pertemuan itu tak berujung damai. Ketika lanting dicerai lalu kembali diangkat ke atas mobil pick-up untuk dibawa ke titik awal, Atai dan Lamang menyimpan amarah. Dalam diam mereka sepakat: harus segera ke balai adat.

Balai adat di tengah Loksado terbuat dari kayu ulin tua dan berdinding sulaman bambu. Berdiri kokoh dengan tiang-tiang besar. Di dalamnya, duduk Narang Atak, sang balian, tokoh adat di wilayah Loksado.

Setelah mendengar cerita Atai, Narang Atak termenung.

“Hari itu telah tiba,” katanya lirih. “Ketika alat-alat besi datang bukan untuk membantu, tapi untuk menggali perut bumi. Jika benar mereka datang dengan excavator, Atai, Lamang, kalian tahu apa yang harus dilakukan. Jagalah Meratus. Dengan segala nyawa.”

Seminggu berselang dengan hujan seperti biasa menyapa Pegunungan Meratus. Tapi siang itu ada yang ganjil. Air Sungai Amandit tiba-tiba berubah keruh. Dari jernih menjadi kecokelatan. Arusnya mengamuk. Atai yang tengah menjoki lanting panik.

“Lamang! Bah! Air bah!”

Teriakan itu membuat rombongan wisatawan menjerit. Air meluap, menghantam batu-batu besar dan membuat lanting nyaris terbalik. Namun dengan cekatan Atai dan Lamang mengarahkan ke tepian. Napas terengah. Jantung mereka nyaris copot.

“Ini bukan hujan biasa,” kata Lamang.

“Sudah dimulai. Mereka sudah mulai menggali.”

Keesokan harinya, Atai dan warga Loksado berkumpul. Dengan kendaraan seadanya, mereka menuju kantor PT Mas Jaya Karsa.

Di depan gerbang, mereka menuntut penjelasan. Marwan keluar, dikawal dua petugas keamanan. Namun massa sudah tak bisa ditahan. Teriakan, dorongan, dan kemarahan meledak. Kaca jendela pecah dihantam batu dan mandau mulai menari-nari di udara.

“Kami tak akan diam!” seru Atai. “Hutan kami bukan untuk dijual!”

Dalam suasana kacau, akhirnya pihak perusahaan menyetujui pertemuan damai. Mereka sepakat menghentikan sementara kegiatan tambang.

*

Satu malam Atai berdiri di depan rumah panggungnya. Menatap gelap hutan. berdiri di depan rumah panggungnya. Menatap gelap hutan.

Nyatanya dari kejauhan, suara ekskavator masih mendengkur. Seperti binatang buas yang lapar. Atai mulai berkemas. Ia menggeleng dengan geram. Malam ini ia hendak ke Balai Adat. Baginya setiap gerung jemari mesin jadah itu mencabik tanah, dengus luka Meratus memintanya tabuhkan genderang perang.

___Selesai__

Bionarasi

Heri Surahman memiliki nama pena Heri Haliling. Priakelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru diSMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, HeriHaliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antaralain Novel Perempuan Penjemput Subuh (Aksara PustakaMedia, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro,2024), dan buku kumpulan cerpen Perempuan PenggenggamPasir (Guepedia, 2025). Adapun untuk cerita pendek, karya-karyanya telah dimuat di beberapa majalah sastra dan korandigital atau cetak. Untuk berdiskusi dengan Heri Halilingpembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling, emailheri.surahman17@gmail.com atau nomor WA/ E Wallet:083104239389.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Nurturing Future Leaders: Reflections from the ASEAN Youth Camp 2025

Nurturing Future Leaders: Reflections from the ASEAN Youth Camp 2025

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00