• Latest
Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | Aceh | Potret Online

Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Juni 23, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia - 1001348646_11zon | Aceh | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari CĂłrdoba

April 21, 2026
Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia - 1001353319_11zon | Aceh | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia - 1001361361_11zon | Aceh | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Juni 23, 2025
in Aceh, Sejarah
Reading Time: 4 mins read
0
Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Kemerdekaan Indonesia di Aceh disambut dengan gempita oleh orang-orang Aceh melalui PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). Dukungan luas terhadap Teungku Muhammad Daud Beureu’eh dan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) menjadi kekuatan utama dalam membentuk dinamika sosial-politik Aceh di era kemerdekaan (1945-1951).

PUSA tidak hanya sekadar organisasi keagamaan, tapi juga sebuah gerakan reformis yang menyatukan ulama-ulama muda dan progresif dengan visi pembaruan Islam dan kemerdekaan. Di bawah kepemimpinan Daud Beureueh, PUSA berhasil menggalang dukungan dari berbagai kalangan.
PUSA mendapat simpati kuat dari kalangan pesantren tradisional (dayah), yang melihat Daud Beureueh sebagai jembatan antara tradisi keilmuan klasik dan semangat perjuangan modern. Mereka menjadi ujung tombak dakwah dan mobilisasi sosial.

Baca Juga
  • Membaca Jejak Gerakan Literasi di Aceh Barat Daya
  • SMK-PP Negeri Saree Aceh Besar Ikut PENAS XVI 2023 di Kota Padang


Banyak komandan laskar rakyat dan tokoh pejuang kemerdekaan Aceh bergabung atau berkoordinasi dengan PUSA, karena mereka melihat organisasi ini sebagai kekuatan politik-religius yang kredibel dan terorganisasi.


PUSA juga menarik simpati kaum muda, khususnya yang terdidik, karena pendekatannya yang reformis. PUSA mendirikan sekolah, menerbitkan majalah, dan aktif dalam pendidikan masyarakat.
Dukungan lintas elemen ini yang menjadikan PUSA sebagai pilar sosial-politik yang kokoh di Aceh saat itu. Bahkan, pengaruhnya tetap terasa hingga sekarang dalam struktur ulama, pendidikan, dan kultur politik Aceh.

Baca Juga
  • Muslailati, SPd Dilantik Sebagai Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pidie Jaya
  • BENGKEL OPINI RAKyat


Meskipun pada masa sebelum kemerdekaan sering terjadi ketegangan antara ulama dan uleebalang (bangsawan atau elite feodal Aceh) —terutama selama masa kolonial Belanda— situasinya berubah secara signifikan ketika Daud Beureueh dan PUSA tampil sebagai kekuatan yang menyatukan semangat keislaman dan kebangsaan.

Dukungan Uleebalang: Dari Antagonis ke Sekutu

Baca Juga
  • BENGKEL OPINI RAKyat
  • Ekosida Aceh 2025


Banyak uleebalang memang sempat tersisih atau kehilangan legitimasi setelah kemerdekaan karena dianggap pro-Belanda. Namun tidak semua demikian. Sejumlah tokoh uleebalang justru bertransformasi dan memberikan dukungan kepada PUSA dan perjuangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Daud Beureu’eh. Mereka menyadari bahwa kekuatan PUSA lah yang dapat merepresentasikan aspirasi rakyat Aceh dan memberikan wadah perjuangan yang sah dalam konteks Republik Indonesia.


Koalisi antara ulama, pejuang rakyat, dan sebagian bekas uleebalang ini membentuk struktur sosial-politik baru di Aceh pasca-kemerdekaan. Daud Beureu’eh dengan kharisma dan ketokohannya berhasil menjembatani ketegangan historis, bahkan dalam banyak kasus, merangkul tokoh-tokoh tradisional sebagai bagian dari perjuangan bersama. Mereka ikut berkontribusi dalam penggalangan dana, logistik perjuangan, hingga peran-peran administratif dalam masa transisi.


Perubahan posisi uleebalang dari simbol aristokrasi kolonial menjadi pendukung perjuangan Islam dan kemerdekaan menunjukkan kemampuan luar biasa dari Daud Beureueh untuk membangun konsensus sosial yang luas. Ini juga menjelaskan mengapa pengaruhnya begitu mengakar dalam sejarah Aceh modern.


Pertempuran Cumbok (1945–1946) memang sering dipahami secara umum sebagai konflik antara “ulama vs uleebalang,” namun kenyataannya jauh lebih kompleks. Yang terjadi di Cumbok adalah penolakan oleh sebagian kecil golongan uleebalang yang memang berpihak pada kolonial Belanda dan menentang perubahan sosial yang ditawarkan oleh gerakan PUSA.


Namun perlu ditekankan bahwa tidak semua uleebalang menentang kemerdekaan. Sebaliknya, banyak yang justru bertransformasi dari peran tradisionalnya dan bergabung dengan arus nasionalisme Islam yang dimotori oleh PUSA. Mereka menyadari pentingnya bersatu demi kemerdekaan dan ikut ambil bagian dalam pemerintahan maupun perjuangan sipil.


Beberapa tokoh bekas uleebalang bahkan menjadi simpatisan atau kolaborator strategis dalam struktur kekuasaan baru di Aceh. Ada juga yang menjadi penasihat, pendukung logistik, atau tokoh penghubung antara struktur tradisional dan gerakan reformis keislaman.Jadi, klaim bahwa konflik itu adalah “perang ulama dan uleebalang” secara mutlak sesungguhnya menyederhanakan realitas sosial yang jauh lebih cair setelah kemerdekaan.


Sayangnya, dokumentasi tentang tokoh-tokoh uleebalang yang secara eksplisit mendukung PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) tidak banyak disebutkan secara rinci dalam sumber-sumber sejarah populer. Namun, ada beberapa nama penting dari kalangan uleebalang yang tercatat berpihak pada kemerdekaan Indonesia dan menjalin hubungan baik dengan PUSA, meskipun mereka berasal dari struktur bangsawan tradisional:

  1. Teuku Nyak Arif
    Ia adalah salah satu uleebalang paling terkenal yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Ia ditunjuk sebagai Residen Aceh oleh pemerintah Republik dan dikenal sebagai tokoh moderat yang menjembatani antara kalangan ulama dan bangsawan. Ia juga menolak kembalinya Belanda ke Aceh dan mendukung Proklamasi 17 Agustus 1945.
  2. Teuku Cut Hasan

  3. Sebagai Bupati Pidie, ia sempat terlibat dalam dinamika antara kelompok uleebalang dan ulama. Meskipun posisinya rumit, ia berperan dalam proses penyerahan senjata dari Jepang kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang menunjukkan keterlibatannya dalam struktur republik.
  4. Teuku Umar Keumangan

  5. Meskipun awalnya memimpin kelompok uleebalang yang membentuk Barisan Penjaga Keamanan (BPK), beberapa catatan menyebut bahwa ia kemudian mengambil sikap lebih moderat dan tidak sekeras Teuku Daud Cumbok dalam menolak Republik.
    Perlu dicatat bahwa setelah Perang Cumbok, banyak uleebalang yang tersingkir atau memilih bergabung dengan struktur baru yang dibentuk oleh PUSA dan Republik Indonesia. Beberapa dari mereka bahkan menjadi pejabat sipil atau penasihat lokal dalam pemerintahan baru.
Share234SendTweet146Share
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Next Post
Dukungan Uleebalang Aceh Terhadap Kemerdekaan Indonesia - 1000687662_11zon scaled | Aceh | Potret Online

Affirmez la Survie - Review Artikel

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com