POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sebuah Refleksi Potret Retak Pendidikan Indonesia

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
June 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Hanif  Arsyad

Dosen Universitas Malikusaaleh, Lhok Seumawe

Pada tahun 1970-an, sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi ruang peradaban. Sekolah-sekolah dibangun lewat gotong royong masyarakat, bukan proyek APBN. Para guru, meski bukan pegawai negeri, menjalankan peran mereka dengan dedikasi luar biasa. Mereka tidak digaji layak, tapi dihormati setinggi-tingginya. Ilmu diwariskan bukan lewat slide PowerPoint, melainkan lewat teladan: ucapan, gerak tubuh, bahkan pilihan hidup.

Kini, setengah abad kemudian, gedung gedung sekolah megah menjangkau pelosok negeri disertai fasilitas- fasilitas pendukung proses mengajar yang canggih, meskipun tidak semuanya merata ke pelosok daerah, seperti Proyektor, Wi-Fi, dan anggaran pendidikan 20% dari APBN bukan lagi mimpi. Tapi ada yang diam-diam runtuh, hilang yaitu roh pendidikan itu sendiri—adab dan keteladanan.

Guru: Dari Pencerah Jiwa Menjadi Pengejar Transformasi Administratif 

Potret seorang guru dalam sistem pendidikan nasional telah bergeser dari sosok teladan menjadi birokrat akademik. Sejak diberlakukannya UU Sisdiknas 2003 yang mengubah fungsi guru menjadi “seorang fasilitator”, guru-guru telah termotivasi oleh perubahan target kurikulum bersama dengan metrik keberhasilan yang dapat diukur. 

Pelaporan RPP, data akreditasi, dan sistem evaluasi bertingkat telah menghilangkan waktu bagi guru untuk merenung dengan benar bersama siswa mereka. Ditambah dengan sistem rekrutmen terbuka yang menghilangkan syarat bahwa guru harus berasal dari LPTK. Terlalu banyak pengajar yang kurang pengetahuan tentang pedagogi atau psikologi perkembangan anak. Lalu siapa di antara kita yang masih bisa menjadi teladan moral bagi kaum muda?

Siswa Digital dan Dekradasi Moral

📚 Artikel Terkait

Cara Orang Korea Menghargai Mega

Sehimpun Puisi Delia Rawanita

Sudah 5 Abad Peranan Kesultanan Mataram Islam Di Nusantara-Indonesia Sampai Sekarang

Bagus Haryanto: Kurir Difabel J&T Express Mojokerto yang Tak Pernah Menyerah Mengantar Harapan

Phenomena siswa siswa di kelas hari ini, guru tidak lagi jadi satu-satunya sumber ilmu. Ponsel pintar sudah mulai mengantikan peran mereka, dan sekarang YouTube malah lebih dipercaya daripada penjelasan langsung dari guru. Akibatnya, banyak siswa kehilangan pegangan utama soal nilai dan moral. Mereka tumbuh di tengah lautan informasi tanpa panduan etika, dan sulit membedakan mana data yang penting dan mana contoh benar yang harus diambil. 

Situasi ini makin parah setelah pengalaman belajar dari jauh selama pandemi. Interaksi sosial jadi berkurang, empati mulai memudar. Dan adab—yang dulunya tumbuh dari tatapan mata hangat atau salaman pagi—sekarang kayak hilang tanpa jejak. 

Sistem yang Fragmentaris

Sistem pendidikan kita juga makin terpecah-pecah. Pendidikan karakter, misalnya, cuma jadi bagian kecil di mata pelajaran tertentu (seperti PPKn), padahal nilai-nilai ini seharusnya hidup dalam semua proses belajar mengajar. Siswa harus diajari  pentingnya hormat pada guru, tapi di saat yang sama, sistem lewat standar penilaian nasional yang seragam melemahkan peran guru dan nilai sosial budaya lokal seperti terlupakan. Di sisi lain, teknologi diadopsi tanpa disertai literasi etik yang cukup. 

Penggunaan gadget di kelas sering malah menganggu fokus dan bukannya memperluas wawasan. Tapi ini bukan cuma soal teknologi—lebih ke persoalan gagalnya mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam penggunaannya.

Belajar dari Masa Lalu

Kalau lihat ke belakang, tahun 1970-an, Malaysia pernah mengajak guru-guru dari Indonesia untuk membuat dan merancang sistem pendidikan mereka. Sekarang, mereka jadi salah satu negara ASEAN dengan performa pendidikan yang lebih baik. Sementara Finlandia—yang sering dijadikan contoh pendidikan terbaik, hanya terima sekitar 10% pelamar guru, dan mereka seleksi berdasarkan karakter dan kapasitas mengajar. Kalau kondisi di tempat kita bagaimana? 

Guru kita masih dipandang sebatas profesi teknis, padahal mereka seharusnya menjadi pilar budaya dan moral bangsa. Kita harus bangkit dan bangun semangat baru untuk pendidikan. Bukan cuma revisi kurikulum, tapi revolusi dalam nilai dan visi pendidikan itu sendiri. 

Pertama, LPTK harus dirombak total. Seleksi masuk harus seketat fakultas kedokteran, dan materi perkuliahan harus mengintegrasikan pendidikan karakter yang nyata, bukan cuma teori. Kedua, beban administratif guru harus dikurangi banget. Biar mereka punya waktu dan ruang buat membangun hubungan emosional dan menanamkan nilai-nilai ke siswa. Ketiga, literasi digital harus diseiringkan dengan literasi etik. Kalau cuma akses informasi tanpa nilai, kita bakal punya generasi yang cemas dan terasing. Keempat, perlu dilakukan audit menyeluruh buat kompetensi guru, baik dari segi akademik maupun moral. Guru yang tidakmemenuhi standar harus dikasih pelatihan ulang, bukan cuma dibiarkan mengajar tanpa bekal. 

Sebagai penutup, mari kita buka mata dan hati bersama. Pendidikan kita saat ini sedang di persimpangan jalan. Ibarat pisau bermata dua, ada jalur yang menawarkan kemajuan teknologi dan infrastruktur yang keren, tapi roh dan semangatnya tertinggal. Kita kehilangan sesuatu yang berharga : guru sebagai panutan, ilmu sebagai cahaya, dan adab sebagai pondasi utama. Mari bangkit bersama, supaya pendidikan tidak cuma maju secara teknologi, tapi juga penuh makna dan karakter yang menghidupkan Kembali Jiwa Pendidikan itu sendiri, ’pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi siapa yang mengajarkan, dan bagaimana ia hidup dalam nilai-nilai itu’.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
What is Scholasticide?

Analisis Perang Iran-Israel Melalui Lensa Teori Identitas Fukuyama

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00