• Latest
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Asia dalam Bayang-Bayang Barat: Sebuah Peringatan dari Palestina

Juni 22, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Asia dalam Bayang-Bayang Barat: Sebuah Peringatan dari Palestina

Dayan Abdurrahmanby Dayan Abdurrahman
Juni 22, 2025
Reading Time: 4 mins read
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Dayan Abdurrahman,


“Dalam setiap perang, selalu ada yang kalah bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan: mereka yang tidak berdaulat atas nasibnya sendiri.”

Setelah lebih dari tujuh dekade berlalu sejak Holocaust, kita menyaksikan bahwa proyek politik untuk memulangkan orang-orang Yahudi ke Palestina—yang konon disebut sebagai “penebusan historis”—telah menjelma menjadi sumber konflik global paling berkepanjangan. Dari pengusiran paksa warga Palestina, pendudukan wilayah Tepi Barat, hingga eskalasi brutal di Gaza, semua ini bukan sekadar krisis kemanusiaan. Ini adalah buah dari skenario besar dunia pasca-Perang Dunia II, yang dikendalikan bukan oleh idealisme moral, melainkan oleh kepentingan geoekonomi dan kekuasaan.

Dalam panggung global yang kompleks itu, Asia memiliki alasan mendalam untuk waspada.


Dari Mandat ke Kapital: Skenario Barat Tidak Pernah Netral

Kolonialisme klasik telah lama berganti rupa menjadi hegemoni ekonomi, superioritas militer, dan narasi moral palsu yang dikemas dalam paket demokrasi liberal. Proyek negara Israel bukan sekadar hasil keprihatinan terhadap korban perang. Itu adalah strategi jangka panjang untuk menanamkan pos militer-politik Barat di jantung Timur Tengah—wilayah yang sejak dulu dikenal sebagai “jalur urat nadi energi dunia”.

Wilayah itu sebelumnya memang pernah dijajah secara fisik. Namun kini ia dikendalikan lewat sistem keuangan global, bantuan militer, dan intervensi diplomatik yang timpang. Setiap kali bangsa Timur Tengah mencoba mengartikulasikan kedaulatannya sendiri, mereka akan dicap sebagai radikal, teroris, atau pengganggu stabilitas.

Dan dunia Barat akan segera merespons dengan doktrin intervensi: “responsibility to protect,” yang justru melanggengkan subordinasi politik.


Pelajaran dari Asia: Demokrasi Bukan Produk Impor

Berbeda dengan wilayah-wilayah yang porak-poranda karena eksperimen geopolitik, negara-negara Asia seperti Indonesia, Jepang, dan India telah menempuh jalur transformasi internal dari kerajaan atau otokrasi menuju demokrasi (meski belum sempurna). Demokrasi yang dibangun bukan karena tekanan Barat, melainkan hasil dari kesadaran historis: bahwa tanpa partisipasi rakyat dan legitimasi moral, tidak ada bangsa yang akan bertahan lama dalam dunia modern.

Indonesia, misalnya, telah melewati babak panjang dari otoritarianisme Orde Baru ke era reformasi. Meski masih banyak cacat prosedural, demokrasi Indonesia berdiri sebagai bukti bahwa bangsa ini mampu menata dirinya sendiri, tanpa harus menjadi satelit ideologis siapa pun.

Di titik ini, kita patut bertanya: mengapa bangsa-bangsa Asia, yang selama berabad-abad mengalami kolonialisme, justru lebih cermat membaca arah angin politik global?


Bangkitnya Asia dan Etika Non-Blok

Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 bukan sekadar event sejarah. Itu adalah pernyataan sikap kolektif bangsa-bangsa Selatan: bahwa kami menolak menjadi pion dalam Perang Dingin. Prinsip-prinsip Non-Blok—tidak berpihak, tidak tunduk, dan tidak mengeksploitasi—harusnya kembali dihidupkan sebagai etika politik Asia hari ini.

Saat ini, lebih dari separuh masyarakat ASEAN menyatakan bahwa mereka menolak memilih antara Amerika Serikat dan Tiongkok, menurut survei terbaru ISEAS-Yusof Ishak Institute (2024). Netralitas aktif adalah bentuk kedewasaan politik kawasan ini. Negara seperti Vietnam menunjukkan “bamboo diplomacy”: lentur terhadap tekanan global, tetapi tetap teguh di akar nasionalisme.


Palestina sebagai Cermin Bangsa

Apa yang terjadi di Palestina bukan hanya soal hak asasi manusia, tetapi soal kontrol. Kontrol terhadap narasi, terhadap sejarah, dan terhadap masa depan. Inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa-bangsa Asia. Di tengah tekanan geopolitik, embargo teknologi, dan ketergantungan ekonomi global, bangsa kita bisa saja kembali terseret menjadi bagian dari skenario adidaya.

Namun ada yang membedakan kita hari ini: kesadaran.

Kesadaran bahwa dominasi Barat bukanlah keniscayaan. Bahwa kekuatan moral dan kemandirian politik bangsa Asia bisa menjadi alternatif. Kita bisa, dan harus, membentuk ulang tatanan global, bukan menjadi ekornya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
ADVERTISEMENT

Ke Depan: Strategi Kultural dan Ekonomi Baru

Kekuatan Asia terletak bukan pada kekuatan militernya, melainkan pada kombinasi unik: populasi besar, stabilitas internal, warisan kultural, dan potensi ekonomi. Indonesia, India, Jepang, dan Tiongkok hari ini bukan sekadar pasar. Mereka adalah arsitek masa depan peradaban multipolar.

Namun untuk mewujudkannya, bangsa Asia perlu:

  1. Menolak narasi tunggal dari Barat. Jangan menerima begitu saja propaganda “demokrasi vs otoritarianisme” yang menyederhanakan realitas geopolitik.
  2. Menjaga otonomi informasi. Bangun media independen dan pusat riset regional agar tidak tergantung pada narasi media Barat yang bias dan berkepentingan.
  3. Memperkuat kerjasama intra-Asia. Dari ASEAN hingga RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), Asia harus menjadikan dirinya sebagai blok produksi dan pengetahuan, bukan hanya konsumen dan penonton.

Penutup: Jangan Jadi Penonton Sejarah

Sejarah tidak menunggu bangsa yang ragu. Kita sedang berada di ambang realitas baru, di mana dominasi Barat tidak lagi sepenuhnya tak tergoyahkan. Namun jika kita lengah—terpecah, terpancing, atau tergoda oleh intervensi asing—maka sejarah hanya akan mengulang luka lama dengan wajah baru.

Palestina bukan hanya cerita tentang bangsa lain. Itu adalah cermin. Dan dari cermin itu, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih sanggup menjaga kedaulatan, atau akan kembali menjadi catatan kaki dalam sejarah kekuasaan global?


Catatan Penutup:
Artikel ini ditulis dengan merujuk pada laporan-laporan independen dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Al Jazeera, Anadolu Agency, serta kajian sejarah diplomatik Non-Aligned Movement. Tidak ada satu pihak yang mewakili kebenaran mutlak, namun sejarah menunjukkan siapa yang selalu diuntungkan dari setiap konflik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 367x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 333x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Risalah Amman - Review Artikel

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com