POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Asia dalam Bayang-Bayang Barat: Sebuah Peringatan dari Palestina

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
June 22, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman,


“Dalam setiap perang, selalu ada yang kalah bahkan sebelum tembakan pertama dilepaskan: mereka yang tidak berdaulat atas nasibnya sendiri.”

Setelah lebih dari tujuh dekade berlalu sejak Holocaust, kita menyaksikan bahwa proyek politik untuk memulangkan orang-orang Yahudi ke Palestina—yang konon disebut sebagai “penebusan historis”—telah menjelma menjadi sumber konflik global paling berkepanjangan. Dari pengusiran paksa warga Palestina, pendudukan wilayah Tepi Barat, hingga eskalasi brutal di Gaza, semua ini bukan sekadar krisis kemanusiaan. Ini adalah buah dari skenario besar dunia pasca-Perang Dunia II, yang dikendalikan bukan oleh idealisme moral, melainkan oleh kepentingan geoekonomi dan kekuasaan.

Dalam panggung global yang kompleks itu, Asia memiliki alasan mendalam untuk waspada.


Dari Mandat ke Kapital: Skenario Barat Tidak Pernah Netral

Kolonialisme klasik telah lama berganti rupa menjadi hegemoni ekonomi, superioritas militer, dan narasi moral palsu yang dikemas dalam paket demokrasi liberal. Proyek negara Israel bukan sekadar hasil keprihatinan terhadap korban perang. Itu adalah strategi jangka panjang untuk menanamkan pos militer-politik Barat di jantung Timur Tengah—wilayah yang sejak dulu dikenal sebagai “jalur urat nadi energi dunia”.

Wilayah itu sebelumnya memang pernah dijajah secara fisik. Namun kini ia dikendalikan lewat sistem keuangan global, bantuan militer, dan intervensi diplomatik yang timpang. Setiap kali bangsa Timur Tengah mencoba mengartikulasikan kedaulatannya sendiri, mereka akan dicap sebagai radikal, teroris, atau pengganggu stabilitas.

Dan dunia Barat akan segera merespons dengan doktrin intervensi: “responsibility to protect,” yang justru melanggengkan subordinasi politik.


Pelajaran dari Asia: Demokrasi Bukan Produk Impor

Berbeda dengan wilayah-wilayah yang porak-poranda karena eksperimen geopolitik, negara-negara Asia seperti Indonesia, Jepang, dan India telah menempuh jalur transformasi internal dari kerajaan atau otokrasi menuju demokrasi (meski belum sempurna). Demokrasi yang dibangun bukan karena tekanan Barat, melainkan hasil dari kesadaran historis: bahwa tanpa partisipasi rakyat dan legitimasi moral, tidak ada bangsa yang akan bertahan lama dalam dunia modern.

Indonesia, misalnya, telah melewati babak panjang dari otoritarianisme Orde Baru ke era reformasi. Meski masih banyak cacat prosedural, demokrasi Indonesia berdiri sebagai bukti bahwa bangsa ini mampu menata dirinya sendiri, tanpa harus menjadi satelit ideologis siapa pun.

📚 Artikel Terkait

Potret Kejahatan Seksual Online di Indonesia

SANG PAHLAWAN

Rempah yang Bertuah

Rubrik Kisah dan Karya

Di titik ini, kita patut bertanya: mengapa bangsa-bangsa Asia, yang selama berabad-abad mengalami kolonialisme, justru lebih cermat membaca arah angin politik global?


Bangkitnya Asia dan Etika Non-Blok

Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 bukan sekadar event sejarah. Itu adalah pernyataan sikap kolektif bangsa-bangsa Selatan: bahwa kami menolak menjadi pion dalam Perang Dingin. Prinsip-prinsip Non-Blok—tidak berpihak, tidak tunduk, dan tidak mengeksploitasi—harusnya kembali dihidupkan sebagai etika politik Asia hari ini.

Saat ini, lebih dari separuh masyarakat ASEAN menyatakan bahwa mereka menolak memilih antara Amerika Serikat dan Tiongkok, menurut survei terbaru ISEAS-Yusof Ishak Institute (2024). Netralitas aktif adalah bentuk kedewasaan politik kawasan ini. Negara seperti Vietnam menunjukkan “bamboo diplomacy”: lentur terhadap tekanan global, tetapi tetap teguh di akar nasionalisme.


Palestina sebagai Cermin Bangsa

Apa yang terjadi di Palestina bukan hanya soal hak asasi manusia, tetapi soal kontrol. Kontrol terhadap narasi, terhadap sejarah, dan terhadap masa depan. Inilah yang harus diwaspadai oleh bangsa-bangsa Asia. Di tengah tekanan geopolitik, embargo teknologi, dan ketergantungan ekonomi global, bangsa kita bisa saja kembali terseret menjadi bagian dari skenario adidaya.

Namun ada yang membedakan kita hari ini: kesadaran.

Kesadaran bahwa dominasi Barat bukanlah keniscayaan. Bahwa kekuatan moral dan kemandirian politik bangsa Asia bisa menjadi alternatif. Kita bisa, dan harus, membentuk ulang tatanan global, bukan menjadi ekornya.


Ke Depan: Strategi Kultural dan Ekonomi Baru

Kekuatan Asia terletak bukan pada kekuatan militernya, melainkan pada kombinasi unik: populasi besar, stabilitas internal, warisan kultural, dan potensi ekonomi. Indonesia, India, Jepang, dan Tiongkok hari ini bukan sekadar pasar. Mereka adalah arsitek masa depan peradaban multipolar.

Namun untuk mewujudkannya, bangsa Asia perlu:

  1. Menolak narasi tunggal dari Barat. Jangan menerima begitu saja propaganda “demokrasi vs otoritarianisme” yang menyederhanakan realitas geopolitik.
  2. Menjaga otonomi informasi. Bangun media independen dan pusat riset regional agar tidak tergantung pada narasi media Barat yang bias dan berkepentingan.
  3. Memperkuat kerjasama intra-Asia. Dari ASEAN hingga RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership), Asia harus menjadikan dirinya sebagai blok produksi dan pengetahuan, bukan hanya konsumen dan penonton.

Penutup: Jangan Jadi Penonton Sejarah

Sejarah tidak menunggu bangsa yang ragu. Kita sedang berada di ambang realitas baru, di mana dominasi Barat tidak lagi sepenuhnya tak tergoyahkan. Namun jika kita lengah—terpecah, terpancing, atau tergoda oleh intervensi asing—maka sejarah hanya akan mengulang luka lama dengan wajah baru.

Palestina bukan hanya cerita tentang bangsa lain. Itu adalah cermin. Dan dari cermin itu, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita masih sanggup menjaga kedaulatan, atau akan kembali menjadi catatan kaki dalam sejarah kekuasaan global?


Catatan Penutup:
Artikel ini ditulis dengan merujuk pada laporan-laporan independen dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Al Jazeera, Anadolu Agency, serta kajian sejarah diplomatik Non-Aligned Movement. Tidak ada satu pihak yang mewakili kebenaran mutlak, namun sejarah menunjukkan siapa yang selalu diuntungkan dari setiap konflik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Risalah Amman - Review Artikel

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00