• Latest
Hanami Terakhir di Ueno

Hanami Terakhir di Ueno

Juni 20, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hanami Terakhir di Ueno

Redaksi by Redaksi
Juni 20, 2025
in #Cerpen, Cerpen
Reading Time: 6 mins read
0
Hanami Terakhir di Ueno
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dikdik Sadikin

Namanya Aoi Takamura. Seperti warna laut saat senja: teduh, tenang, dan samar menyimpan duka.

Kami bertemu di Ueno, ketika sakura sedang jatuh satu-satu, seperti rahasia yang tak sempat terucap. Ueno adalah sebuah kawasan di distrik Tait, Tokyo, Jepang . Di sanalah terletak Ueno Park, taman kota yang sangat indah, terutama saat musim semi. Ribuan pohon sakura mekar, menjadi lokasi klasik untuk hanami atau piknik bunga sakura.

Aoi duduk di bangku kayu, membaca “Norwegian Wood” sambil menyesap teh hangat dari termos kecil yang dibawanya dari rumah. Tak banyak orang di sekelilingnya, hanya pasangan lansia dengan kursi roda dan burung-burung pipit yang mencari remah onigiri.

“Aku suka bunga yang gugur sebelum layu,” katanya saat kami pertama kali bicara. Bahasa Inggrisnya tertata rapi, seperti kalimat-kalimat dalam novel Jepang.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena mereka tahu kapan harus pergi.”

Aku tidak tahu apakah itu puisi, atau luka yang sedang ia sembunyikan. Tapi ada kesedihan yang samar di balik senyumnya. Seperti Jepang sendiri.

“Ayahku pensiun di usia 75, tapi dua hari setelahnya dia meninggal,” desah Aoi. “Katanya ia tak tahu lagi harus hidup untuk siapa.”

Aku menatapnya, tapi ia tak memandang balik. Ada yang tak bisa disentuh dari perempuan seperti Aoi: luka yang tak berdarah, tapi terus mengalir.


Kami jadi sering bertemu setelah itu, menyusuri musim semi seperti menapaki kenangan.

Aoi ternyata editor lepas di sebuah penerbit kecil di Kanda. Ia tinggal sendirian di apartemen mungil dekat Yanaka, dan tiap malam membaca puisi sambil menyeduh teh hojicha. Usianya 29. Terlalu muda untuk lelah, tapi terlalu tua untuk berharap.

Ia pernah bercita-cita menjadi guru, tapi sekolah tempat ia mengajar ditutup karena tak ada murid.

Ia kemudian bekerja di kafe, lalu di toko buku. Lalu akhirnya menyerah pada dunia yang tak memberinya tempat.

Suatu kali kami duduk di rooftop kafe Piccole Lampare & Rooftop Sky Bar, yang terletak di bangunan kaca di depan Tokyo Skytree, persis di tepi Sungai Sumida. Kami meneguk kopi hangat dan menyaksikan senja Tokyo yang tak pernah benar-benar gelap.

Aoi menunjuk ke kejauhan, ke arah Skytree yang cahayanya memantul lembut di permukaan sungai. Di situ aku melihat sebuah kota yang perlahan kehilangan kejayaan masa mudanya. Lampu-lampu gedung berpendar, sungai yang setia mengalir, dan gedung tertinggi Jepang itu menjadi saksi diam senjakala yang tidak pernah usai.

“Aku merasa hidup di negeri yang sedang menua,” katanya. “Orang-orang di sekelilingku berjalan cepat, tapi sebenarnya sedang mundur.”

“Kau tahu,” matanya menatapku, “di Jepang sekarang, popok lansia lebih banyak terjual daripada popok bayi.”

Aku mengangkat alis.

“Dan itu bukan metafora. Itu statistik,” lanjut Aoi sambil tertawa kecil.

“Dulu kita punya Sony, Panasonic, Sanyo,” lanjutnya. “Sekarang mereka tertinggal. Karena yang memutuskan desain adalah para eksekutif usia 70-an yang tak mau mengubah selera.”

Ia menunjuk ponselku.

“Lihat, itu buatan Korea. Dan jam tanganmu? China. Orang-orang tua di sini tidak mengerti kenapa anak muda ingin semuanya serba cepat dan ringan. Mereka pikir dunia tetap seperti tahun 1980.”

Kami berjalan menyusuri jalanan kosong.

Di peron, tak ada suara anak-anak, hanya dengkitan robot penyapu dan pengumuman otomatis. Jepang tak kekurangan uang. Tapi kekurangan suara tangis bayi.

“Dulu,” gumam Aoi, “sekolah di sini penuh anak-anak. Sekarang kelas dibubarkan karena tak ada murid.”

Aku mulai merasa, Aoi bukan hanya seorang perempuan. Ia personifikasi Jepang itu sendiri. Indah, tapi menyembunyikan sunyi. Teratur, tapi kehilangan arah. Punya teknologi canggih, tapi terlalu lelah untuk bermimpi. Masyarakatnya bekerja 80 jam seminggu, meminum bir bersama bos, lalu pulang ke apartemen mungil tanpa ada yang menyapa. Ada banyak uang di bank, tapi tak ada harapan untuk dibeli.

“Kau tahu kenapa aku senang mendengarkan ceritamu tentang Indonesia?” tanyanya di sebuah izakaya tua di Nippori.

Aku menatapnya.

ADVERTISEMENT

“Karena kalian masih ribut. Masih berisik. Masih punya anak-anak yang berlari di gang-gang. Masih percaya bahwa hidup bisa berubah.”

Aku terdiam. Ia tak sedang memuji. Ia sedang merindukan sesuatu yang telah hilang di negerinya sendiri.


Hari-hari berlalu seperti kereta cepat Shinkansen.

Kami berbicara tentang Indonesia, tentang gunung dan hujan, tentang keluarga yang makan malam bersama.

Ia mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang tak pernah diajak bermain.

“Kau beruntung,” katanya suatu sore di Asakusa. “Negaramu masih punya suara anak-anak di pagi hari.”

“Jepang pun bisa,” kataku.

Ia tertawa. Ringan. Tapi getir.

“Tidak semudah itu. Di sini, kita diajarkan untuk tidak merepotkan. Bahkan saat ingin menangis, kita harus diam.”

“Menurutmu,” tanyanya tiba-tiba, “Indonesia akan seperti Jepang juga nanti?”

Aku menghela napas. “Bisa saja. Kalau kami terjebak dalam mengejar angka pertumbuhan, tapi lupa pada manusia.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi kalian masih punya waktu. Masih punya orang muda. Kalau pemerintahmu pandai mengelola, kalian bisa melompat jauh,” Aoi mendesah. “Jangan seperti kami yang berjalan mundur sambil menatap ke depan.”


Kami kembali ke Ueno di hari terakhirku.

Sakura hampir habis. Tanah tertutup kelopak, seperti karpet kenangan. Aoi membawa bekal—onigiri, telur dadar, dan teh.

Kami duduk tanpa banyak bicara. Hanya melihat orang-orang lewat: kebanyakan lansia, beberapa turis, nyaris tak ada anak-anak.

Angin berembus. Kelopak terakhir jatuh ke telapak tangannya. Ia mengepalkan tangan itu pelan, seolah menyimpan musim semi dalam genggaman.

“Aku ingin tinggal di negeri yang masih punya harapan,” bisik Aoi.

Aku menatapnya lama. Dan tahu, ini bukan sekadar perpisahan. Ini adalah penanda antara yang masih bisa berubah, dan yang telah terlalu jauh melangkah dalam kelelahan.

Tiga bulan setelah aku kembali ke Jakarta, aku menerima email darinya.

Aku pindah ke desa kecil di Hokkaido. Mengajar anak-anak petani. Muridku hanya lima. Tapi mereka tertawa. Aku mulai percaya: negeri ini belum sepenuhnya sunyi.

Aku membalas:

Indonesia menunggumu, bila kau ingin mendengar suara anak-anak di pagi hari lagi.

Karena cinta, seperti negara, membutuhkan regenerasi. Bukan hanya tubuh muda, tapi semangat untuk percaya pada hari esok.

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Dan mungkin, kelak di musim yang lain, kami bisa kembali bertemu.

Bukan di bawah pohon sakura yang gugur. Tapi di antara teriakan anak-anak yang berlari, menanam harapan di tanah yang belum lelah.

Bogor, 17 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

HABA Si PATok

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com