POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Hanami Terakhir di Ueno

RedaksiOleh Redaksi
June 20, 2025
Hanami Terakhir di Ueno
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dikdik Sadikin

Namanya Aoi Takamura. Seperti warna laut saat senja: teduh, tenang, dan samar menyimpan duka.

Kami bertemu di Ueno, ketika sakura sedang jatuh satu-satu, seperti rahasia yang tak sempat terucap. Ueno adalah sebuah kawasan di distrik Tait, Tokyo, Jepang . Di sanalah terletak Ueno Park, taman kota yang sangat indah, terutama saat musim semi. Ribuan pohon sakura mekar, menjadi lokasi klasik untuk hanami atau piknik bunga sakura.

Aoi duduk di bangku kayu, membaca “Norwegian Wood” sambil menyesap teh hangat dari termos kecil yang dibawanya dari rumah. Tak banyak orang di sekelilingnya, hanya pasangan lansia dengan kursi roda dan burung-burung pipit yang mencari remah onigiri.

“Aku suka bunga yang gugur sebelum layu,” katanya saat kami pertama kali bicara. Bahasa Inggrisnya tertata rapi, seperti kalimat-kalimat dalam novel Jepang.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena mereka tahu kapan harus pergi.”

Aku tidak tahu apakah itu puisi, atau luka yang sedang ia sembunyikan. Tapi ada kesedihan yang samar di balik senyumnya. Seperti Jepang sendiri.

“Ayahku pensiun di usia 75, tapi dua hari setelahnya dia meninggal,” desah Aoi. “Katanya ia tak tahu lagi harus hidup untuk siapa.”

Aku menatapnya, tapi ia tak memandang balik. Ada yang tak bisa disentuh dari perempuan seperti Aoi: luka yang tak berdarah, tapi terus mengalir.


Kami jadi sering bertemu setelah itu, menyusuri musim semi seperti menapaki kenangan.

Aoi ternyata editor lepas di sebuah penerbit kecil di Kanda. Ia tinggal sendirian di apartemen mungil dekat Yanaka, dan tiap malam membaca puisi sambil menyeduh teh hojicha. Usianya 29. Terlalu muda untuk lelah, tapi terlalu tua untuk berharap.

Ia pernah bercita-cita menjadi guru, tapi sekolah tempat ia mengajar ditutup karena tak ada murid.

Ia kemudian bekerja di kafe, lalu di toko buku. Lalu akhirnya menyerah pada dunia yang tak memberinya tempat.

Suatu kali kami duduk di rooftop kafe Piccole Lampare & Rooftop Sky Bar, yang terletak di bangunan kaca di depan Tokyo Skytree, persis di tepi Sungai Sumida. Kami meneguk kopi hangat dan menyaksikan senja Tokyo yang tak pernah benar-benar gelap.

Aoi menunjuk ke kejauhan, ke arah Skytree yang cahayanya memantul lembut di permukaan sungai. Di situ aku melihat sebuah kota yang perlahan kehilangan kejayaan masa mudanya. Lampu-lampu gedung berpendar, sungai yang setia mengalir, dan gedung tertinggi Jepang itu menjadi saksi diam senjakala yang tidak pernah usai.

“Aku merasa hidup di negeri yang sedang menua,” katanya. “Orang-orang di sekelilingku berjalan cepat, tapi sebenarnya sedang mundur.”

“Kau tahu,” matanya menatapku, “di Jepang sekarang, popok lansia lebih banyak terjual daripada popok bayi.”

Aku mengangkat alis.

“Dan itu bukan metafora. Itu statistik,” lanjut Aoi sambil tertawa kecil.

“Dulu kita punya Sony, Panasonic, Sanyo,” lanjutnya. “Sekarang mereka tertinggal. Karena yang memutuskan desain adalah para eksekutif usia 70-an yang tak mau mengubah selera.”

Ia menunjuk ponselku.

“Lihat, itu buatan Korea. Dan jam tanganmu? China. Orang-orang tua di sini tidak mengerti kenapa anak muda ingin semuanya serba cepat dan ringan. Mereka pikir dunia tetap seperti tahun 1980.”

📚 Artikel Terkait

Selembar Ijazah Tanpa Koneksi

GURU DARI ANAK KAMI

Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren

UJIAN NASIONAL dan Surat Cinta Kepada IKN – Puisi- Puisi Safri Naldi

Kami berjalan menyusuri jalanan kosong.

Di peron, tak ada suara anak-anak, hanya dengkitan robot penyapu dan pengumuman otomatis. Jepang tak kekurangan uang. Tapi kekurangan suara tangis bayi.

“Dulu,” gumam Aoi, “sekolah di sini penuh anak-anak. Sekarang kelas dibubarkan karena tak ada murid.”

Aku mulai merasa, Aoi bukan hanya seorang perempuan. Ia personifikasi Jepang itu sendiri. Indah, tapi menyembunyikan sunyi. Teratur, tapi kehilangan arah. Punya teknologi canggih, tapi terlalu lelah untuk bermimpi. Masyarakatnya bekerja 80 jam seminggu, meminum bir bersama bos, lalu pulang ke apartemen mungil tanpa ada yang menyapa. Ada banyak uang di bank, tapi tak ada harapan untuk dibeli.

“Kau tahu kenapa aku senang mendengarkan ceritamu tentang Indonesia?” tanyanya di sebuah izakaya tua di Nippori.

Aku menatapnya.

“Karena kalian masih ribut. Masih berisik. Masih punya anak-anak yang berlari di gang-gang. Masih percaya bahwa hidup bisa berubah.”

Aku terdiam. Ia tak sedang memuji. Ia sedang merindukan sesuatu yang telah hilang di negerinya sendiri.


Hari-hari berlalu seperti kereta cepat Shinkansen.

Kami berbicara tentang Indonesia, tentang gunung dan hujan, tentang keluarga yang makan malam bersama.

Ia mendengarkan dengan mata berbinar, seperti anak kecil yang tak pernah diajak bermain.

“Kau beruntung,” katanya suatu sore di Asakusa. “Negaramu masih punya suara anak-anak di pagi hari.”

“Jepang pun bisa,” kataku.

Ia tertawa. Ringan. Tapi getir.

“Tidak semudah itu. Di sini, kita diajarkan untuk tidak merepotkan. Bahkan saat ingin menangis, kita harus diam.”

“Menurutmu,” tanyanya tiba-tiba, “Indonesia akan seperti Jepang juga nanti?”

Aku menghela napas. “Bisa saja. Kalau kami terjebak dalam mengejar angka pertumbuhan, tapi lupa pada manusia.”

Ia tersenyum tipis.

“Tapi kalian masih punya waktu. Masih punya orang muda. Kalau pemerintahmu pandai mengelola, kalian bisa melompat jauh,” Aoi mendesah. “Jangan seperti kami yang berjalan mundur sambil menatap ke depan.”


Kami kembali ke Ueno di hari terakhirku.

Sakura hampir habis. Tanah tertutup kelopak, seperti karpet kenangan. Aoi membawa bekal—onigiri, telur dadar, dan teh.

Kami duduk tanpa banyak bicara. Hanya melihat orang-orang lewat: kebanyakan lansia, beberapa turis, nyaris tak ada anak-anak.

Angin berembus. Kelopak terakhir jatuh ke telapak tangannya. Ia mengepalkan tangan itu pelan, seolah menyimpan musim semi dalam genggaman.

“Aku ingin tinggal di negeri yang masih punya harapan,” bisik Aoi.

Aku menatapnya lama. Dan tahu, ini bukan sekadar perpisahan. Ini adalah penanda antara yang masih bisa berubah, dan yang telah terlalu jauh melangkah dalam kelelahan.

Tiga bulan setelah aku kembali ke Jakarta, aku menerima email darinya.

Aku pindah ke desa kecil di Hokkaido. Mengajar anak-anak petani. Muridku hanya lima. Tapi mereka tertawa. Aku mulai percaya: negeri ini belum sepenuhnya sunyi.

Aku membalas:

Indonesia menunggumu, bila kau ingin mendengar suara anak-anak di pagi hari lagi.

Karena cinta, seperti negara, membutuhkan regenerasi. Bukan hanya tubuh muda, tapi semangat untuk percaya pada hari esok.

Dan mungkin, kelak di musim yang lain, kami bisa kembali bertemu.

Bukan di bawah pohon sakura yang gugur. Tapi di antara teriakan anak-anak yang berlari, menanam harapan di tanah yang belum lelah.

Bogor, 17 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

HABA Si PATok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00