• Latest
Nilai Filisofis dan Sosiologis Sambel Tempoyak Dalam Tradisi Makan Suku Bangsa Lampung

Nilai Filisofis dan Sosiologis Sambel Tempoyak Dalam Tradisi Makan Suku Bangsa Lampung

Juni 15, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Nilai Filisofis dan Sosiologis Sambel Tempoyak Dalam Tradisi Makan Suku Bangsa Lampung

Jacob Eresteby Jacob Ereste
Juni 15, 2025
Reading Time: 3 mins read
Nilai Filisofis dan Sosiologis Sambel Tempoyak Dalam Tradisi Makan Suku Bangsa Lampung
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Jacob Ereste

Senang sekali rasanya saat membaca cerita Mohammad Madani gelar Dalom Putrkha Jaya Makhga tentang sambel tempoyak yang khas menjadi pelengkap makan besar dari keluarga Lampung, meski sesungguhnya banyak juga digemari oleh sulu bangsa masyarakat Sumatra Selatan yang ada di berbagai tempat, meski penyebutan namanya hadi berbeda.

Hanya saja cerita tentang sambel tempoyak yang unik dan khas rasanya ini — karena dibuat dari buah durian yang dipermentasikan — bagus sekali bila dapat diuraikan juga tidak hanya sebatas lauk pauk dari acara makan pun yang dari warga masyarakat Lampung pada umumnya pun bernilai sakral. Apalagi acara makan itu sering diperluas dengan mengajak saudara yang ada di sekitar tempat tinggal. Tentu saja, akan lebih heboh dan spektakuler bila acara makan bersama itu juga mengajak anggota keluarga yang lebih besar. Misalnya karena ada diantara anggota keluarga tang ada di tempat lain atau kota datang bertandang untuk melepas rasa kangen atau sekedar berbagi kebahagian bersama keluarga lainnya yang ada di kampung atau di tuh atau anek.

Baca Juga

Sigupai Mambaco Menghidupkan Bahasa Singkil Lewat Baca Nyaring Istimewa

Sigupai Mambaco Menghidupkan Bahasa Singkil Lewat Baca Nyaring Istimewa

Juni 23, 2025
Gastronomi dan Keajaiban Tanah Priangan

Gastronomi dan Keajaiban Tanah Priangan

Mei 29, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu

Mei 19, 2025

Jadi nilai sakral dari acara makan bersama yang acap dilakukan siku bangsa Lampung tidak hanya sekedar semacam rasanya kuliner belaka, sehingga milai-nalai sakral dan spiritual yang sangat nenonjol dan menarik dari sambel tempoyak itu tidak cuma sebatas acara makan bersama saja, tapi ada nilai filisofis dan sosiologisnya yang salam seperti ekspresi dalam kebersamaan, atau saat sebelum acara makan bersama itu dimulai atau setelah usai, biasanya beragam penuturan kisah dan cerita tentang keluarga lain yang sudah sukses atau karena jarang dapat berkumpul bersama dalam acara makan bersama yang bermakna sosiologis tanpa pernah dipelari dari perguruan tinggi yang ada.

Jadi nilai kerukunan dan kebersamaan dalam berbagi kebahagiaan, sering dilakukan oleh keluarga suku bangsa Lampung yang tidak perlu mengacu pada konsepsi persatuan dan kesatuan untuk sekaligus menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam satu puak atau keluarga. Namun budaya yang telah dipraktikkan secara turun temukan ini mempunyai nilai filosofis dalam tradisi lisan yang tidak pernah tertulis ini, diteguhi dan dirawat bersama, utamanya bagi mereka yang berkecimpung untuk menyelenggarakannya.

Artinya, nilai filisofis dan sosilogis sambel tempoyak dalam acara makan bersama keluarga suku bangsa Lampung dapat diurai tidak hanya dari nikmatnya menu makan bersama itu yang seakan wajib disertai oleh gulai ikan, tetapi lebih jauh lagi bagaimana awal mulanya ilmu dan pengetahuan tentang persentase buah durian itu bisa dilakukan san menjadi menu pelengkap dalam acara makan bersama, atau bahkan menjadi bagian dari acara makan adat — begawi e — atau hajat besar yang berkaitan dengan upacara pernikahan, kelahiran, sunatan atau sejenis upacara adat lainnya.

Paparan filosofis di balik sambel tempoyak dalam tradisi makan warga masyarakat Lampung yang ditulis Mohammad Madani dalam medua Hati Pena, 15 Juni 2025 sungguh menarik, apalagi bahasa tuturnya bagus dan enak. Cuma saja sayangnya tidak diekplorasi lebih maksimal mulai dari makna acara makan bersama itu sendiri hingga ke beragam acara makan bersama itu sendiri yang telah menjadi budaya secara turun temurun dalam adat kebiasaan suku bangsa Lampung. Itulah sebabnya, tradisi “cuak mengan” sungguh unik dan menarik bila diteliti secara filosofis dan sosiologis hingga masih dapat bertahan sampai sekarang.

Setidaknya, dalam acara makan bersama keluarga dalam tradisi dan budaya suku bangsa Lampung, pasti miliki nilai yang sakral. Spiritual hingga filosofis dan sosiologis yang pantas dan patut dijaga dan dipelihara sampai kapanpun juga. Sebab nilai-nilai kebersamaan, kerukunan san kerapatan dalam keluarga, suku atau puak dan satu kesatuan marga patut dan kayak untuk tetap dijaga dan dipelihara bersama. Sebab dari acara makan bersama dengan simbol sambel tempoyak itu mulai dari lingkaran kecil keluarga merupakan bagian dari cara untuk menjaga rasa kebersamaan, kekompakan dan mengerahkan tali persaudaraan yang mungkin saja sudah merenggang. Padahal dalam segala yang lebih luas — keluarga besar, satu marga atau bahkan acara makan bersama satu kampung pun — yang masih acap dilakukan — dapat menjadi sarana membangun kerukunan dalam kebersamaan. Maka itu, acara makan bersama yang dikelas dalam bentuk hajatan, syukuran dan sejenisnya juga jerapah dilakukan warga masyarakat di perkotaan. Setidaknya dengan begitu, rada kangen dengan kampung halaman bisa tertangkap dan terserap nuansanya.

Banten, 14 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Menghitung Korban Perang Iran vs Israel, Siapa Peduli?

Menghitung Korban Perang Iran vs Israel, Siapa Peduli?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com