POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

LA Seperti Sengaja Dihancurkan Trump

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Enam bulan lalu kota ini dilanda kebakaran dahsyat. Sekarang, dilanda kerusuhan. Di tengah situasi tak menentu, sang presiden semakin membuat kacau dengan mengirim ribuan tentara. Itulah situasi kota Los Angeles (LA) saat ini. Yok disimak sambil seruput kopi, wak.

LA tidak hanya terbakar oleh cuaca musim panas atau oleh mimpi-mimpi Hollywood yang patah. Kali ini, kota para malaikat menyulap dirinya menjadi panggung pertunjukan demokrasi yang megah, dramatis, dan mengandung unsur piroteknik tingkat tinggi. Kerusuhan pecah, dan penyebabnya bukan karena Black Friday, tapi karena ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS) tiba-tiba berubah menjadi pasukan elite pemburu manusia. Mereka menggelar operasi besar-besaran seakan sedang syuting sekuel Sicario, menangkap lebih dari 100 orang, termasuk beberapa yang katanya “diduga” bagian dari kelompok kriminal. “Diduga”, kata sakti yang bisa membebaskan semua tindakan dari pertanggungjawaban moral.

Lalu masuklah Donald Trump, yang tampaknya masih belum move on dari ketenaran politiknya. Tanpa sebutir pun izin dari Gubernur California Gavin Newsom, Trump mengerahkan 2.000 personel Garda Nasional, seperti seorang raja yang mengirim pasukan untuk meredam pemberontakan, lengkap dengan kendaraan lapis baja, wajah datar, dan semangat “demi negara” yang biasanya hanya muncul saat menjelang pemilu. Gubernur Newsom, yang berasal dari Partai Demokrat dan memiliki potensi nyapres 2028, tentu saja meradang. Tapi dalam demokrasi Amerika versi 2025, marah saja tidak cukup. Kau harus viral.

Demonstrasi pun meledak, awalnya damai, seperti lagu cinta lama yang mendayu. Namun situasi memburuk ketika aparat membalas spanduk dan orasi dengan gas air mata dan granat kejut. Lho, katanya negara demokrasi? Tapi ketika rakyat bicara, negara malah menyuruh mereka batuk. Tak cukup di situ, peluru karet juga ikut unjuk kerja, mengenai jurnalis asing yang konon hanya ingin meliput, bukan ikut rusuh. Tapi dalam logika negara, kamera kadang lebih berbahaya dari molotov.

📚 Artikel Terkait

Prasasti Kebon Kopi

Perpustakaan Aceh Kekurangan Koleksi Literasi Tentang Aceh

Nasionalisme dan Ekologi

Perspektif Budaya Membaca dan Menulis di Indonesia

Ini bukan sekadar amarah warga, ini duel para dewa politik, Trump di sisi kanan panggung, Newsom di kiri, dan rakyat di tengah-tengah, jadi properti. Ya, Los Angeles bukan kota sembarangan, ini basis kuat Demokrat, tempat para liberal bangga dengan hak asasi dan brunch organik. Maka, ketika Trump menginjakkan kaki politiknya ke sana, itu bukan penegakan hukum, itu seperti mengencingi halaman rumah orang dan mengklaim itu adalah bentuk kasih sayang.

Sementara para pejabat Republik membela tindakan Trump, menyebut pengerahan pasukan sebagai langkah menjaga “ketertiban”, Ketua DPR Mike Johnson bahkan dengan bangga mengatakan itu adalah prinsip “perdamaian melalui kekuatan”. Sebuah kalimat yang terdengar seperti slogan villain dalam film Marvel kelas menengah. Di sisi lain, Newsom dan kawan-kawan Demokrat mencium motif tersembunyi, bahwa ini bukan soal imigran, tapi panggung sandiwara menjelang pemilu. Sebab jika kerusuhan berlanjut, dan Newsom gagal meredam, simpati publik bisa berpindah. Bahkan kabarnya, Trump mengancam akan memangkas dana federal untuk California, karena apa lagi yang lebih demokratis selain memeras daerah yang tak tunduk?

Inilah demokrasi versi 2025, rakyat berdemo, pemerintah kirim pasukan, jurnalis ditembak, lalu negara bicara soal transparansi, gubernur dibentak, lalu presiden tampil heroik. Semua terbungkus indah dalam narasi kebebasan yang semakin mirip sinetron bertema distopia.

Demokrasi tetap hidup, katanya. Tapi dari bau gas air mata yang mengambang di udara Los Angeles, kita tahu, demokrasi itu kini bukan lagi soal suara rakyat, melainkan siapa yang punya lebih banyak granat dan retorika.

Mari kita hargai demokrasi seperti kita menghargai WiFi gratis, gratis, tapi selalu diawasi. Ingat, dalam demokrasi modern, kamu bebas bicara… asal tidak terlalu keras.
Karena kalau terlalu keras, bisa-bisa kamu dibilang “mengancam keamanan nasional” dan dihadiahi peluru karet sebagai kenang-kenangan.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Ekonomi dari Rakyat, Tapi untuk Bank? Kritik terhadap Skema Bantuan Berkedok Kredit

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00