POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mencicipi Nikmatnya Kuliner  Jadul Kotaku,  Meratapi Malangnya  Nasib Seni Tari Topeng di Kotaku

Anies SeptivirawanOleh Anies Septivirawan
May 31, 2025
Mencicipi Nikmatnya Kuliner  Jadul Kotaku,  Meratapi Malangnya  Nasib Seni Tari Topeng di Kotaku
🔊

Dengarkan Artikel

‎
‎Oleh: Anies Septivirawan
‎
‎
‎Sinar matahari masih belum terlalu menyengat kulitku. Masih pagi.
‎Aku mau mengisi kekosongan perutku dengan makanan khas kotaku, Situbondo, Jawa Timur, yakni “Tajin Palappa”,  “Nasek Karak”, dan “Nasek Sodu “.
‎
‎Makanan khas jaman dulu bernama tajin palappa, adalah bubur yang dibaluri bumbu kacang dan ditaburi kecambah, sedikit irisan tahu, kangkung serta sayuran lainnya.
‎
‎Mencari menu makanan tajin palappa di kota Situbondo ini,  tidaklah sulit, karena makanan khas kotaku ini bertebaran ada di mana – mana. Mulai dari desa hingga kota.
‎
‎Makanan Ini sudah menjadi makanan favorit dan menjadi kebiasaan mereka sarapan pagi sejak bertahun-tahun lalu hingga saat ini.
‎
‎Harganyapun terbilang murah. Seporsi hanya tujuh ribu rupiah dengan segelas teh hangatnya.
‎
‎Selain tajin palappa, kuliner khas kotaku adalah nasi karak dan ada juga nasi sodu. Nasi karak adalah nasi yang dibaluri dengan kelapa parut dan pelengkapnya, yakni ikan tongkol. Sedangkan nasi sodu adalah nasi dengan kuah santan  yang dilengkapi dengan ikan tongkol dan sambal.
‎
‎Pagi ini, aku sudah usai menyantap dan menikmati lezatnya tajin palappa. Kulihat HP androidku, ada sebuah pesan singkat WhatsApp di androidku mengisyaratkan aku segera datang ke rumah seorang guru tari bernama Hosnatun, usianya 75 tahun. Aku terbiasa memanggil dia dengan sebutan Cak Tutun.
‎
‎Aku segera meluncur ke rumahnya dengan motor matic milikku ke rumahnya di Desa Panji Kidul, Kecamatan Panji, karena aku sudah berjanji kepadanya akan melakukan peliputan kedatangan sejumlah dosen seni asal luar kota, yakni dari Surabaya dan Jember. Jarak rumah cak Tutun dengan rumahku dekat, hanya tiga kilometer.
‎
‎Pada hari Minggu pagi itu, jarum jam telah menunjukkan pukul 09.45 wib, tampak serombongan mobil dosen memasuki pelataran rumah Hosnatun atau Cak Tutun yang berdataran tinggi di desa Panji Kidul Kecamatan Panji, Situbondo.
‎
‎Tampak serombongan dosen berdisiplin ilmu seni budaya berjumlah empat orang itu disambut senyum hangat dan jabat tangan erat Cak Tutun.
‎
‎Hosnatun yang kerap dipanggil Cak Tutun itu sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta dan pelaku seni budaya khususnya seni tari topeng Situbondo.
‎
‎Menurut penuturan yang disampaikan salah satu dosen sekaligus seorang rektor universitas swasta di Banyuwangi, Drs. Andang Subahariyanto, kepadaku mengatakan bahwa,
‎
‎”Kami bersama teman – teman sebenarnya punya satu gagasan yang harus dirintis dan sebenarnya di negeri kita ini ternyata banyak indigenius people atau local genius yang punya banyak gagasan besar dan karya -karya besar namun jarang diketahui oleh publik atau khalayak ramai.Tetapi, gagasan besar itu tidak akan pernah diwujudkan kalau tidak pernah dimulai,” ujar Andang Subahariyanto beberapa waktu lalu.
‎
‎Andang Subahariyanto juga mencontohkan, bahwa mendokumentasikan indigenius people atau local genius seperti pak Hosnatun ini cukup inspiratif. Menurutnya, Hosnatun berani melakukan tafsir terhadap tari topeng yang ia kembangkan, yang itu di luar mainstream dan itu menarik sekali bagi para dosen tari tersebut.
‎
‎”Saya sangat tertarik ketika pak Tutun menjelaskan tentang kitab Negarakertagama khususnya pupuh dua puluh enam hingga pupuh dua puluh delapan tentang asal usul tari topeng. Nah untuk itu kami datang ke Situbondo ini untuk mendokumentasikan beliau dan karya – karyanya dalam bentuk digital karena kalau kita mendokumentasikan lewat tulisan sangat sulit  bagi orang – orang untuk membacanya,” papar dosen ilmu seni budaya di Universitas Jember (UNEJ) yang sekaligus rektor universitas swasta di Banyuwangi, Drs. Andang Subahariyanto, M.Hum, beberapa waktu lalu kepadaku.
‎
‎Pria berkacamata tersebut juga mengatakan sependapat dengan Hosnatun tentang perbedaan makna budaya dan tradisi.
‎
‎Dan tidak hanya para dosen seni asal universitas Jember saja yang datang bertandang ke sanggarnya Hosnatun, bahkan para dosen seni asal Surabaya pun berkunjung ke Sanggar Wahana Puspa Budaya binaan Hosnatun tersebut.
‎
‎Sejumlah mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, Surabaya juga sempat berkunjung ke “Sanggar Wahana Puspa Budaya” di Desa Panji Kidul, kecamatan Panji, Situbondo, beberapa waktu lalu.
‎
‎Kedatangan mereka bersama salah satu dosennya yakni Lilik Subari yang langsung disambut hangat oleh Hosnatun yang kerap dipanggil Cak Tutun, sang pengasuh sanggar sekaligus seniman juga guru tari topeng Majapahitan.
‎
‎Menurut keterangan Lilik Subari, M.Sn Dosen Pembimbing yang sekaligus mendampingi mahasiswanya. Sebat Sinan’a yang disampaikan kepadaku mengatakan bahwa secara khusus kunjungan dirinya bersama para mahasiswanya adalah merupakan sebuah lanjutan program peningkatan kualitas mahasisiswa, baik kepenarian maupun keilmuanya. Hal ini dilakuka dengan cara turun langsung dan belajar langsung dari narasumbernya dalam kesenian tradisi topeng majapahitan yang berada di kabupaten Situbondo, Jawa Timur ini.
‎
‎Lilik Subari sangat berharap bahwa, agar anak – anak didiknya mampu membuka cakrawala berfikir dalam mengaktualisasikan serta bisa menyerap apa yang terkandung di dalam seni tari topeng majapahitan yang berbasis sejarah yang diaktualisasikan dalam gerak tari.
‎
‎Sementara itu, Hosnatun selaku pengasuh Sanggar Wahana Puspa Budaya dan Padepokan Topeng Majapahitan mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan mereka ke sanggarnya.
‎
‎Meskipun tari topeng di Situbondo dikenal dan berkali – kali dijadikan bahan penelitian oleh para dosen seni asal luar kota Situbondo, namun justru pihak dinas terkait di lingkungan pemerintah kabupaten Situbondo tidak pernah peduli akan keberadaan serta eksistensi kesenian tari topengnya Hosnatun.
‎
‎Kendati pun demikian, Hosnatun tidak pernah merengek – rengek meminta bantuan agar Sanggar Wahana Puspa Budaya tetap “hidup”.
‎
‎Hosnatun dan sanggar yang ia kelola dan ratusan murid yang ia bina dalam setiap kegiatan berkesenian tari hingga saat ini masih bertahan. Bahkan, telah berkali-kali mengharumkan nama kabupaten Situbondo melalui ajang lomba – lomba maupun ajang workshop di tingkat nasional dan internasional.
‎
‎Terus, di mana kepedulian negara dalam hal ini Dinas terkait seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat? 
‎
‎Keadaan tersebut sangat miris. Hatiku menangis. Karena melihat setiap penampilan pagelaran seni tari topeng Cak Tutun, aku jadi teringat masa kecil ketika diajak kakakku menonton sebuah pertunjukan drama sendra tari di alun – alun kota.
‎
‎Aku rindu, aku kangen suasana itu yang kini sudah tidak pernah kutemukan lagi. Yang ada dan masih kutemukan hanya seni tari topeng Cak Tutun, dan itu pun terancam punah, seiring usia cak Tutun yang sudah senja.
‎
‎Kakek dan ayah Cak Tutun telah mewarisi darah seni tari topeng kepada pria bernama asli Hosnatun itu.
‎
‎Namun sayang, Hosnatun tidak bisa mewarisi darah seni tari topeng tersebut kepada generasi berikutnya, yakni anak beserta cucu – cucunya, karena mereka tidak memiliki jiwa seni apalagi seni tari topeng.
‎
‎Akankah seni tari topeng di Situbondo menjadi punah dan menyisakan kenangan?  Akankah rasa tiga jenis kuliner jaman dulu (jadul) di kotaku sirna karena tergusur oleh kuliner – kuliner manca negara?
‎
‎
‎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Mengenal Tokoh Inspiratif Hamdani Mulya Guru, Penulis, dan Pegiat Literasi

Membongkar Lapisan Identitas: Interseksionalitas Gender, Kelas, dan Ras di Indonesia

Naskah Wangsakerta: Pusaran Kontroversi Sejarah dan Jejak Gotra Sawala

Gaza di Antara Damai Palsu dan Neraka

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Anies Septivirawan

Anies Septivirawan

Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Batas Usia Dihapus, PHK Merajalela – Lowongannya Dimana?

Batas Usia Dihapus, PHK Merajalela - Lowongannya Dimana?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00