POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ketika Kritik Dipenjara

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 29, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Menimbang Ulang Batas antara Kritik, Hinaan, dan Demokrasi yang Sehat

Oleh: Dayan Abdurrahman

Dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan fenomena yang mengusik nurani demokrasi: sejumlah aktivis dan warga sipil dijerat pasal penghinaan terhadap presiden dan simbol negara. Dalam banyak kasus, kritik—yang mestinya menjadi bagian vital dari demokrasi—dijawab dengan pelaporan, pengadilan, bahkan pemenjaraan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal arah demokrasi, kebebasan akademik, dan kesadaran publik.

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia berdasarkan jumlah pemilih. Kita berbangga dengan Pemilu langsung, partisipasi politik, dan kebebasan pers. Namun, apakah demokrasi hanya tentang memilih dalam lima tahun sekali? Demokrasi sejati hidup dari ruang diskusi, kritik, dan refleksi—bahkan jika itu menyakitkan bagi yang berkuasa.

Kritik vs Hinaan: Masihkah Kita Bisa Bedakan?

Dalam negara demokrasi yang sehat, kritik bukanlah kejahatan. Kritik adalah cermin bagi kekuasaan dan napas bagi perubahan. Tapi belakangan, tafsir atas kritik semakin menyempit. Beberapa kalimat yang ditulis di media sosial, unggahan video, atau orasi di jalan raya, langsung dibingkai sebagai “penghinaan terhadap presiden” atau “mengganggu ketertiban umum”.

Pasal 218 dan 219 KUHP baru yang mengatur tentang penghinaan terhadap presiden memang telah menghidupkan kembali semangat pasal karet. Amnesty International mencatat bahwa sejak 2019 hingga 2023, terdapat lebih dari 80 kasus pelaporan warga yang dianggap menghina presiden atau pejabat publik, terutama melalui media sosial. Sementara Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) menyatakan bahwa kecenderungan kriminalisasi terhadap ekspresi meningkat sejak 2020, seiring dengan penguatan otoritarianisme simbolik.

Perspektif Akademik dan Demokrasi

Dalam ranah akademik, kita diajarkan bahwa ilmu tumbuh dari perdebatan dan kritik. Ketika suatu pandangan dianggap mutlak dan tak bisa dikritik, maka lahirlah dogma, bukan ilmu. Dalam pendidikan tinggi, mahasiswa dan dosen seharusnya dilatih untuk berpikir kritis, menyampaikan gagasan, bahkan melawan arus jika diperlukan. Tapi bagaimana mungkin kita mendidik generasi kritis jika negara sendiri menakut-nakuti warga yang mengkritik?

📚 Artikel Terkait

Kopitalisme, Ndasmu!

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Bersanding Tanpa Pelaminan

Tim Pengabdian ISBI Aceh Latih Siswa SMK Menulis Cerpen

Demokrasi bukanlah sistem yang nyaman bagi kekuasaan. Justru, demokrasi menempatkan kekuasaan dalam posisi yang terus-menerus harus terbuka terhadap kritik. Di negara seperti Amerika Serikat, presiden dikritik oleh media, seniman, dan warga sipil tanpa ancaman hukum. Di Inggris, satire politik menjadi budaya populer. Bahkan di India, meskipun mengalami kemunduran demokrasi, aktivisme sipil tetap hadir dan membentuk tekanan sosial terhadap kebijakan.

Keadilan dan Ketimpangan Perlakuan

Ketika warga biasa dipenjara karena kata-kata di media sosial, sementara elit politik bebas mencaci dan memanipulasi tanpa hukuman, Di situlah keadilan sosial dipertanyakan. Hukum seolah tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kita seakan kembali ke era feodalisme modern, di mana penguasa dilindungi seperti raja, dan rakyat harus tunduk tak bersuara.

Padahal dalam UUD 1945, pasal 28E ayat (3) menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Ketika pasal ini dikalahkan oleh tafsir sepihak terhadap stabilitas dan ketertiban, maka kita tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga kepercayaan.

Wewenang yang Tidak Boleh Kebablasan

Wewenang memang penting untuk menjaga ketertiban dan kestabilan negara. Namun, kekuasaan yang tidak diawasi akan mudah tergelincir menjadi otoritarian. Ketika kritik dianggap ancaman, maka negara mulai melihat rakyat sebagai musuh. Inilah benih dari represi.

Menariknya, negara justru akan lebih kuat ketika ia terbuka terhadap kritik. Seperti tubuh yang bisa sembuh karena tahu luka di mana, negara pun akan lebih sehat jika tahu di mana titik lemahnya. Dalam logika demokrasi, justru para pengkritik adalah bagian dari penyembuh.

Menuju Indonesia yang Lebih Bermartabat

Kita mencintai Indonesia, bukan sebagai slogan kosong, tetapi sebagai cita-cita kolektif. Kita ingin negeri ini tumbuh sebagai bangsa yang berani, bukan bangsa yang takut pada suara berbeda. Demokrasi yang tumbuh dengan kritik akan menghasilkan pemimpin yang kuat, bukan pemimpin yang disanjung tanpa dasar.

Pendidikan demokrasi seharusnya tidak berhenti di bangku sekolah atau kampus, tetapi hidup dalam ruang publik, media, komunitas, dan keluarga. Ketika anak muda melihat bahwa berbicara jujur bisa membuat orang dipenjara, maka mereka akan belajar diam. Dan dari generasi yang diam, lahirlah bangsa yang pasif.

Mari kita jaga negeri ini, bukan dengan membungkam, tetapi dengan mendengar. Kritik bukanlah ancaman. Ia adalah tanda bahwa rakyat masih peduli.

Indonesia tidak kekurangan cinta. Tapi cinta yang dewasa adalah cinta yang berani mengingatkan, bukan hanya memuja. Demokrasi sejati bukan hanya diukur dari pilpres dan pileg, tetapi dari seberapa aman rakyatnya mengkritik pemimpinnya.


Akhir kata, semoga kita bisa terus menyalakan obor demokrasi, agar Indonesia Raya benar-benar menjadi negeri yang lebih bermartabat, lebih adil, dan lebih terbuka. Karena hanya dengan itulah, kita benar-benar mencintai bangsa ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Puisi - puisi Anies Septivirawan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00