• Latest
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Mei 11, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Redaksiby Redaksi
Mei 11, 2025
Reading Time: 3 mins read
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Setelah menikmati sinetron dalam negeri, mulai ijazah Jokowi, Mega vs Netizen, nikahan Luna Maya, sekarang kita ke luar negeri lagi. Perang India vs Pakistan. Apa update terakhir perang negara serumpun itu? Siapkan kopinya, wak.

Sampai hari ini, setidaknya 48 jiwa melayang. Warga sipil di Jammu, India, dan Kashmir, Pakistan, menjadi korban dari ‘drama langit’ yang tak mereka pesan. Ratusan lainnya terluka, bukan oleh kata-kata tajam dari pidato politik, tapi oleh serpihan baja dan debu reruntuhan. Mereka menjadi statistik tragis dari konflik yang selalu dijual dengan jargon mulia, kedaulatan, keamanan nasional, dan tentu saja, tanda kutip besar “perdamaian yang terpaksa dibela dengan senjata.”

Di sisi India, pangkalan udara Pathankot dan Udhampur dilumat oleh rudal Pakistan. Tidak seperti iklan properti yang menjanjikan ‘udara segar dan tenang’, kedua tempat itu kini lebih mirip neraka dengan wifi. Sebagai balasannya, India mengirim ucapan ‘terima kasih’ berupa ledakan ke Pangkalan Udara Nur Khan, Mureed, dan Shorkot milik Pakistan. Belum cukup sampai di sana, malam-malam perbatasan kini dihiasi pemadaman listrik, sirene panjang-panjang, dan tentu saja, kecemasan massal yang tidak dijual di minimarket.

Sementara itu, Dewan Komando Nasional Pakistan (NCA) telah diaktifkan. Tidak, ini bukan sinyal bahwa mereka mau main film superhero, tapi bahwa mereka sedang memegang remote control paling mengerikan di planet ini, peluncur nuklir. Sebuah tombol kecil yang bisa membuat dunia kembali ke zaman batu, tanpa perlu asteroid atau Thanos. Amerika Serikat, G7, dan seluruh penjaga moralitas dunia pun langsung gigit jari. Mereka menyerukan ‘pengendalian maksimal’, sebuah frasa yang terdengar seperti nasihat orang tua kepada anak remaja yang pegang korek api di gudang bensin.

Baca Juga

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Maret 14, 2026

Donald Trump, entah kenapa masih presiden, menyatakan “keprihatinan mendalam.” Sebuah kalimat yang memiliki arti seluas samudra dan seakurat ramalan bintang. PBB lewat Antonio Guterres menawarkan diri sebagai mediator, walau semua tahu bahwa tawaran damai dari PBB kadang seperti sinyal internet di hutan Kalimantan, ada tapi tidak bisa diakses. China, sambil mengelus dagu dan menimbang kepentingannya, meminta agar kedua negara ‘menahan diri’ sambil tetap menolak segala bentuk terorisme. Rusia, seperti biasa, berdiri di tengah sambil bilang “ya udahlah,” tapi dalam bahasa yang lebih diplomatik.

Indonesia juga tidak tinggal diam. Ketua DPR Puan Maharani tampil di layar kaca, menyerukan agar PBB segera bertindak dan menawarkan diplomasi parlemen, karena kalau dunia mau damai, tentu solusinya bukan senjata, tapi rapat. Sangat Indonesia. Para tukang ngopi di Pontianak juga menyerukan damai. “Bagus diajak ngopi di Asiang, bisa damai tu India vs Pakistan tu.”

Di balik segala letupan dan diplomasi murahan, ini bukan cuma perang dua negara. Ini adalah epos kontemporer tentang ego, identitas, dan libido kekuasaan yang tak kunjung kenyang. Perang ini adalah puisi paling keras dari dunia yang sedang letih, letih dengan janji damai, letih dengan perjanjian yang dilanggar, letih dengan kata-kata yang akhirnya dikalahkan oleh tombol rudal dan algoritma target.

Di satu sisi, ini semua terdengar begitu epik, seperti kisah Mahabharata digital, dengan pemain utama bersenjata nuklir. Tapi jangan tertipu. Di balik semua kehebohan ini, ada tubuh-tubuh anak kecil yang tak sempat lari, ada ibu-ibu yang tak sempat menyelamatkan kompor, ada doa-doa yang tertelan ledakan. Tapi tentu saja, itu semua hanya latar belakang. Sebab di panggung utama, dunia sedang menunggu, siapa yang lebih dulu menekan tombol, dan siapa yang lebih dulu diliput CNN sambil terbakar.

Selamat datang di dunia 2025. Perangnya nyata, tapi kedamaiannya fiksi ilmiah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Pendidikan Aceh: Antara Syariat, Modernitas, dan Tantangan Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com