POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

IMLF 3: Ketika Literasi Mengalahkan Bisingnya Mesiu

RedaksiOleh Redaksi
May 10, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dikdik Sadikin

Victor A. Pogadaev, seorang penerjemah Rusia, terjebak di Bandara Internasional Sheremetyevo, Moskow. Ia hendak terbang ke Indonesia menuju Padang pada 7 Mei 2025 lalu, ketika serangan drone Ukraina tiba-tiba saja mengguncang Moskow. Atas perintah berwenang di sana, ia dan para calon penumpang terpaksa menunda keberangkatannya. Padahal Victor ditunggu-tunggu kehadirannya di Tanah Minang. Dia lah penerjemah puisi-puisi Chairil Anwar ke dalam bahasa Rusia dalam antologi puisi berjudul “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya), yang diterbitkan di Moskow oleh penerbit Klyuch-C pada tahun 2009.

Sementara itu, seorang penyair dari India menangis diam-diam di lobi hotel, mengenang tanah airnya yang kembali memanas oleh konflik dengan Pakistan. Dan dunia pun terasa rapuh, seperti halaman buku tua yang hampir lepas dari jilidnya.

Dunia memang tidak sedang baik-baik saja. Dentuman mesiu terdengar dari Donetsk yang menghitam oleh perang, hingga Delhi yang dirundung kabut ketegangan. Dari Kashmir yang meradang, hingga Gaza yang tak kunjung reda.

Namun, pada saat yang sama, di Padang dan Bukittinggi, di antara Jam Gadang dan Goa Kelelawar, di antara Mesjid Raya dan rumah puisi Taufik Ismail, Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3 (IMLF 3) digelar. Di ranah Minang, yang diwarisi pepatah alam takambang jadi guru, para penyair, sastrawan, dan pemikir dari 24 negara, memilih untuk membaca puisi, bukan menghitung amunisi. Mereka berkumpul sejak Kamis 8 hingga Senin 12 Mei 2025 untuk merayakan sesuatu yang nyaris tak terdengar: literasi. Bukan sebagai senjata, melainkan sebagai jembatan.

Tema IMLF 3 mengandung paradoks yang indah: Language, Literature, and Culture for Peace. Sebuah paradoks yang paling puitis. Saat negara-negara besar saling unjuk kekuatan dengan peluncur senjata, sebuah provinsi kecil di barat Indonesia justru menunjukkan bahwa kekuatan bisa juga datang dari kata-kata.

“Puisi tak bisa menghentikan peluru,” kata seorang bijak. “Tapi kadang ia bisa menunda peluru berikutnya.”

📚 Artikel Terkait

Penyair Syarifuddin Aliza Rilis Buku Puisi “Surat dari Hulu”

Destinasi Bernama Rumah Ramah Hariyanto dan Siasat Menyusun Wajah Wisata Indonesia

Nasib THR Para Penulis

UTANG PRIBADI, LEMBAGA, ATAU NEGARA?

Sastri Bakry, pemimpin Satu Pena Sumatera Barat, seperti tengah mewujudkan pernyataan itu. Di tangannya, IMLF 3 bukan sekadar festival. Ia adalah semacam doa yang dijahit dari puisi, seminar, musik, dan jamuan bajamba. Sebuah ritual modern yang memadukan aksara dan adat, intelektualitas dan kuliner.

Lebih dari 200 peserta dari Malaysia, India, Jepang, Australia, Rusia, Prancis, Kroasia, Kurdistan, Bangladesh, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, Inggris, Tunisia, Swiss, Spanyol, Bulgaria, Italia, Cyprus, Slovenia, Tiongkok, dan beberapa negara lagi, datang membawa bukan hanya karya, tapi beberapa di antaranya juga luka-luka dari negeri mereka masing-masing. Dan Sumatera Barat menerimanya dengan nasi kapau, tari piring, dan percakapan tanpa prasangka. Mungkin inilah bentuk lain dari diplomasi: yang tak melibatkan para ahli strategi, tapi melibatkan penyair, pelukis, dan penyanyi.

IMLF tahun ini juga meluncurkan buku setebal 50 artikel, hasil penelitian dari para akademisi dunia tentang literasi. Ada seminar budaya, pameran lukisan, dan bahkan bazar UMKM. Tetapi yang paling senyap, dan karena itu paling bermakna, adalah momen-momen saat seseorang dari Kroasia bersulang teh dengan perempuan dari India, atau ketika musik Kurdistan berpadu dengan tari Minang di panggung kecil Bukittinggi.

Tidak ada perjanjian damai yang ditandatangani di sini. Tapi di sinilah, kadang kita bisa mengintip apa yang disebut peradaban. Dalam makna yang paling sederhana dan manusiawi: saling mendengar.

Tentu saja, kita tak naif. Literasi tak akan menghentikan perang. Buku tak bisa menjadi tameng dari peluru kendali. Tapi mungkin kita mulai memahami, mengapa Nelson Mandela pernah berkata, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”
Dan bukankah literasi adalah pintu awal dari pendidikan itu?

IMLF 3 bukan revolusi. Ia hanya desir kecil di tengah badai dunia. Tetapi desir kadang lebih jujur dari petir. Dan jika dunia ini ingin damai, mungkin ia harus mulai dari Minangkabau. Dari puisi. Dari percakapan sederhana antara bahasa dan budaya. Antara kata dan manusia.

Sebab, jika alam yang takambang adalah guru bagi Minangkabau, maka sastra barangkali adalah cara terbaik untuk membacanya.

Padang, 9 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Waspadai Tontonan Anomali Berbasis AI: Ancaman Nyata bagi Perkembangan Otak Anak

Waspadai Tontonan Anomali Berbasis AI: Ancaman Nyata bagi Perkembangan Otak Anak

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00