• Latest

Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal

Mei 1, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal

Redaksiby Redaksi
Mei 1, 2025
Reading Time: 3 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Ririe Aiko

(Puisi esai ini ditulis untuk memperingati Hari Buruh, didramatisasi dari realitas getir meningkatnya kasus Pemutusan Hubungan Kerja massal yang melanda Indonesia pada awal tahun 2025.)

Di hari buruh kali ini
kami tak lagi ingin berteriak.
Napas kami tersengal
di batas akhir kesabaran.

Masihkah kami didengar
oleh suara-suara yang sibuk di kursi jabatan?
Mereka bilang ini era efisiensi,
tapi mengapa hanya buruh yang harus menyusutkan hidupnya?

Mengapa para petinggi masih bisa menyantap Wagyu, sementara kami hanya sisa harapan palsu?

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

Di layar kaca,
Pak Menteri bersabda seakan sedang membacakan puisi:
“Transformasi industri demi kemajuan negeri.”
Kami menunduk.
Di kantong kami tinggal uang receh dan surat PHK
yang dicetak massal, sebagai pemutusan kerja.

Di Karawang, (1)
ratusan buruh pabrik elektronik digiring pulang,
bukan karena acara gathering,
melainkan karena pabriknya kini kosong,
investor pergi tanpa pamit,
setelah memeras habis tenaga buruh.
“Pasar global tak menentu,” katanya.
Tapi kenapa guncangnya hanya kami yang gemetar?

Di hari buruh,
jalanan dipenuhi sepanduk, peluh, dan teriakan
yang terdengar seperti lagu lama:
“Hidup buruh!”
Tapi siapa yang masih hidup setelah semua ini?
Siapa yang bisa menyebut ‘hidup’
di tengah hidup yang digadai demi subsidi bahan bakar investor?

Lihatlah!
Perusahaan tekstil pailit! (2)
Pabrik sepatu gulung tikar!
Perusahaan bangsa hancur tergusur,
satu per satu pabrik raksasa tutup.
Ekonomi sedang menjerit:
sakit, dan lagi-lagi, kemiskinan bertambah.
Tak ada yang sejahtera,
selain mereka yang berada.

—000—

Para pemangku jabatan sibuk berdiskusi
di hotel bintang lima:
“Bagaimana menyelamatkan iklim investasi?”
Tapi tak satu pun bertanya:
bagaimana menyelamatkan keluarga buruh
yang tersapu badai ekonomi.

Kalian menyebutnya “resesi teknokratik.”
Kami menyebutnya:
kutukan bertahap, tak berdarah,
tapi mematikan kehidupan.

Satu demi satu: kehilangan penghasilan.
Satu demi satu: kelaparan.
Satu demi satu: pendidikan lenyap.
Satu demi satu: tak bisa berobat.

—000—

Di Hari Buruh ini,
kami tak lagi membawa poster.
Kami terlalu lelah berteriak soal kesejahteraan buruh,
sementara yang diteriaki hanya menonton
di balik layar televisi.

Kini,
kami membawa sisa-sisa tenaga
dan setumpuk surat tagihan.

Jika ini yang kalian sebut transisi,
mengapa hanya kami yang berganti status:
dari pekerja
menjadi angka statistik pengangguran? (3)

ADVERTISEMENT

—000–

CATATAN:

  1. Data PHK massal di Karawang dari pabrik elektronik dirilis oleh Serikat Pekerja Nasional, 2024.
  2. Laporan dari Kompas, Desember 2024, menyebut 26 perusahaan garmen dan alas kaki tutup karena enggan memenuhi upah minimum regional.
  3. Badan Pusat Statistik (BPS), Februari 2025, mencatat lonjakan angka pengangguran terbuka sebesar 1,2% akibat pemutusan hubungan kerja di sektor manufaktur.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Tips Bijak Menerima Siswa Mutasi: Peran Strategis Wali Kelas dalam Adaptasi dan Pembinaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com