• Latest

Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku?

April 23, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Masih Adakah Anak-Anak yang Suka Membaca Buku?

Redaksiby Redaksi
April 23, 2025
Reading Time: 2 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Refleksi di Hari Buku Sedunia

Oleh: Ririe Aiko

Hari ini, 23 April 2025, dunia memperingati Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia, sebuah momen yang seharusnya menjadi pengingat akan pentingnya literasi dalam kehidupan manusia. Namun, saya justru terdiam cukup lama. Ada kegelisahan yang tak bisa diabaikan: apakah anak-anak hari ini masih mencintai buku?

Baca Juga

7fb8d49c-8ec5-4336-99da-ba4fb75fa40c

Dari Cerpen ke Layar

Maret 25, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

Maret 3, 2026

Saat saya tumbuh di era 90-an, buku adalah hiburan sekaligus jendela dunia. Majalah Bobo, misalnya, adalah bacaan wajib mingguan yang saya nantikan. Cerita-ceritanya memicu imajinasi, kuis dan rubriknya menumbuhkan rasa ingin tahu. Buku ensiklopedia, walau berat dan tebal, menjadi harta karun yang menyenangkan untuk dijelajahi. Semua itu membentuk fondasi keingintahuan dan pemahaman saya tentang dunia.

Namun, kenyataan hari ini sangat berbeda. Anak-anak generasi Alpha, anak-anak yang lahir di era serbadigital lebih mengenal layar daripada lembaran kertas. Mereka lebih fasih mengoperasikan aplikasi TikTok atau memainkan game daring daripada membuka halaman buku. Majalah anak yang dulu berjaya kini nyaris tak terdengar gaungnya. Buku cerita anak, apalagi ensiklopedia, mulai kehilangan tempat di rak-rak rumah.

Fenomena ini jelas tidak bisa dianggap remeh. Literasi bukan sekadar keterampilan membaca, melainkan kemampuan memahami, berpikir kritis, dan mengolah informasi. Tanpa literasi yang kuat, bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing? Miris rasanya menyadari bahwa banyak anak-anak hari ini lebih hafal nama selebgram dan gamers populer daripada nama tokoh pahlawan nasional.

Tentu, tidak adil jika kita hanya menyalahkan anak-anak atau perkembangan teknologi. Dunia memang telah berubah. Yang perlu kita evaluasi adalah bagaimana peran orang tua, pendidik, dan pemerintah, menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Apakah kita sudah cukup adaptif dalam memperkenalkan literasi di era digital?

Membaca buku tidak harus selalu dalam bentuk fisik. Buku digital, audio book, dan platform membaca interaktif bisa menjadi alternatif yang menjembatani dunia digital dengan budaya baca. Namun, konten yang berkualitas dan pendekatan yang tepat tetap menjadi kunci. Anak-anak membutuhkan role model yang gemar membaca, kurikulum yang memicu minat baca, serta lingkungan yang mendukung tumbuhnya kecintaan terhadap literasi.

Hari Buku Sedunia seharusnya menjadi refleksi bersama, bukan sekadar seremoni. Sudah waktunya pemerintah dan semua pihak menjadikan literasi sebagai prioritas utama. Program Makan Bergizi Gratis perlu diimbangi juga dengan program distribusi buku Gratis. Serta dana pendidikan seharusnya juga mengalir untuk menghidupkan kembali taman bacaan anak dan menerbitkan konten-konten lokal yang menarik.

Membaca buku bukan soal nostalgia. Ini soal masa depan bangsa. Bila kita ingin generasi mendatang mampu berpikir tajam, bertindak bijak, dan membawa Indonesia melangkah lebih maju, maka kita harus mulai dari hal paling mendasar: mengembalikan cinta pada buku. Karena dari situlah peradaban dimulai.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Menulis, Kunci Untuk Abadi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com