POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Penyakit

Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 17, 2025
in # Penyakit, Penghargaan, Profil, Sosok
0
Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - 9e96f7b2 c239 4629 9b94 d0a3775b6007 | # Penyakit | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Setelah mengulas Herry IP, Naga Api, pelatih kita yang sukses mengantarkan ganda Malaysia meraih gelar badminton, sekarang giliran Dr. Warsito Purwo Taruno. Nasibnya mirip, tapi beda bidang. Dr Warsito ditolak di negeri sendiri, malah sangat dihargai di negeri orang. Mari kita dalami kisah penemu Electrical Capacitive Cancer Therapy (ECCT), alat penghancur sel kanker. Siapkan kopi dan gorengan tela-tela wak.

Di sebuah negeri bernama Indonesia, seorang ilmuwan bernama Dr. Warsito Purwo Taruno menyalakan lentera harapan di lorong tergelap dunia medis. Ia bukan siapa-siapa ketika lahir di Surakarta, 15 Mei 1967. Namun, dari tanah sederhana itu, tumbuh seorang anak yang kelak akan menjadi pelopor teknologi terapi kanker berbasis medan listrik, teknologi yang mengundang decak kagum dunia, namun malah ditolak oleh bangsanya sendiri.

Baca Juga
  • Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - F495D7CB 5992 4AB9 BF88 A00C80E0785B | # Penyakit | Potret Online
    Aceh
    Almarhum Drs. Mohd. Kalam Daud. M.Ag., dalam Kenangan….!
    07 Jan 2023
  • Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - 5489702e fded 4652 9565 10d115bd708e | # Penyakit | Potret Online
    Aceh
    Empat Srikandi Pidie Jaya Ikuti Festival Pantun Nusantara di Jakarta
    22 Des 2024

Pendidikannya bermula dari SMA Negeri 1 Karanganyar. Ia melanjutkan ke Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, sebelum mendapat beasiswa ke Jepang dan menuntaskan pendidikan hingga doktoral di Shizuoka University. Bukan hanya lulus, ia menjadi pelopor teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), sebuah alat tomografi 4 dimensi yang kemudian digunakan oleh NASA dan perusahaan raksasa seperti Exxon Mobil dan Shell. Warsito tak sekadar belajar, ia mencipta.

Namun pencapaian terbesarnya muncul bukan di ruang kuliah atau laboratorium kampus, tapi saat sang adik tercinta divonis kanker payudara stadium akhir. Rumah sakit angkat tangan. Tapi Warsito menolak tunduk. Ia kembali ke laboratorium, menciptakan Electrical Capacitive Cancer Therapy (ECCT), sebuah terapi revolusioner yang menggunakan medan listrik statis untuk menghancurkan sel kanker tanpa operasi, tanpa kemoterapi, tanpa radiasi. Dari eksperimen untuk menyelamatkan adiknya, lahirlah sebuah teknologi yang menyelamatkan ribuan orang.

Baca Juga
  • Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - 2025 07 20 08 39 57 | # Penyakit | Potret Online
    Genre
    Riska Zulpiana Bawa Bangka Selatan Raih Juara Duta GenRe Babel Empat Tahun Berturut-turut
    20 Jul 2025
  • Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - aafbbe64 6115 4f2b b804 1f369935f165 | # Penyakit | Potret Online
    #Ulama Kharismatik Aceh
    Abi Daud Hasbi, Putera Asli Meurah Mulia ( Mürid Abu Tumin, Blang Blahdeh)
    04 Sep 2025

CTech Labs Edwar Technology pun didirikan. Di sinilah ECCT berkembang, menarik perhatian pasien dari seluruh Indonesia. Tapi apa balasan dari tanah airnya? Pada 2015, Kementerian Kesehatan menutup kliniknya dan menghentikan izinnya atas alasan regulasi. Sebuah surat datang, bukan sebagai ucapan terima kasih, melainkan larangan untuk melanjutkan riset. Warsito disudutkan, bukan karena salah, tapi karena melangkah terlalu cepat untuk birokrasi yang lamban.

Namun seperti air yang tak bisa dibendung, Warsito membawa ECCT ke Warsawa, Polandia. Kota tempat Marie Curie dulu menaklukkan radioaktif. Di sana, teknologi ini disambut dengan tangan terbuka. Pelatihan internasional dimulai. Negara-negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Singapura tertarik mengembangkan teknologi ini. Dunia menyambutnya dengan hormat, saat Indonesia bahkan enggan memberi ruang.

Baca Juga
  • Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - 2025 07 19 17 23 47 | # Penyakit | Potret Online
    Bisnis
    Membaca Catatan Perjalanan Bisnis Founder Owner PT BALAD GRUP, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy: Membumi Di Vietnam
    19 Jul 2025
  • Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - 1bc1885e ddfa 45cb 85d9 42b7166f8d2c | # Penyakit | Potret Online
    Artikel
    Menapaki Jejak Sang Pembelajar: Perjalanan Karir Imam Hidajat yang Menginspirasi
    22 Sep 2025

Meski ditolak di negeri sendiri, Warsito tak pernah membenci. Ia terus meneliti, mengajar, mengembangkan teknologi, dan menyelamatkan nyawa. Lebih dari sepuluh paten internasional dikantonginya. Ia telah menerbitkan lebih dari 150 artikel ilmiah. Ia menerima Achmad Bakrie Award pada 2009 dan BJ Habibie Technology Award pada 2015. Tapi di luar semua itu, penghargaan sejatinya adalah senyum para pasien kanker yang sembuh, bukan karena takdir, tapi karena tekad satu manusia yang enggan menyerah.

Kisah Warsito bukan sekadar tentang teknologi. Ini adalah kisah perjuangan. Tentang seorang ilmuwan yang dicintai dunia namun disisihkan oleh bangsanya. Tentang bagaimana negeri ini kerap menolak cahaya dari anak-anaknya sendiri, lalu memujanya setelah dunia lebih dulu berlutut.

Apakah bangsa ini hanya akan terus menjadi pengusir diam-diam para jeniusnya? Apakah kita hanya akan memberi tempat bagi penghafal kebijakan, tapi tidak pada pencipta harapan? Warsito telah memberi contoh bahwa cinta pada negeri tidak harus menunggu pengakuan. Tapi sampai kapan negeri ini terus menutup pintu pada cahaya yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa?

Jika Warsito bukan pahlawan, maka kita patut bertanya kembali: siapa sesungguhnya pahlawan dalam dunia yang sesak oleh birokrasi tapi hampa keberpihakan?

“Jika ilmu untuk menyelamatkan nyawa dianggap melanggar aturan, maka biarlah dunia menjadi saksi bahwa aku pernah mencoba.” Begitu kira-kira pesan diam Dr. Warsito. Sebuah pesan yang tak akan lekang oleh waktu.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Tantangan dan Peluang Akademisi Indonesia di Era Digital

Next Post

HABA Si PATok

Next Post
Mengenal Dr Warsito, Ditolak Negeri Sendiri, Dihargai di Negeri Orang - 1742395492821 | # Penyakit | Potret Online

HABA Si PATok

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah