• Latest
Mencicipi Jajanan Jadul “Suwar -Suwir” Hingga Makan Malam di Warung “Bu Ony”

Mencicipi Jajanan Jadul “Suwar -Suwir” Hingga Makan Malam di Warung “Bu Ony”

April 8, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mencicipi Jajanan Jadul “Suwar -Suwir” Hingga Makan Malam di Warung “Bu Ony”

Catatan Perjalanan Silaturahmi Idul Fitri 1446 Hijriyah di Kota Jember

Anies Septivirawanby Anies Septivirawan
April 8, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: jalal-jalanKuliner
Mencicipi Jajanan Jadul “Suwar -Suwir” Hingga Makan Malam di Warung “Bu Ony”
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

‎Oleh: Anies Septivirawan
‎
‎Nuansa hari raya idul Fitri 1446 Hijriyah  masih terasa kental. Hal itu masih tampak dari masih banyaknya umat muslim di indonesia melakukan safari silaturahmi kepada para sanak, saudara dan para handai taulan.
‎
‎Tidak terkecuali di Situbondo. Aku dan keluarga masih melakukan safari silaturahmi yang kuawali beranjang sana ke rumah pamanku pada tanggal 1 Syawal dilanjutkan mudik ke rumah kampung halaman istriku di kecamatan Genteng, Banyuwangi.
‎
‎Dan sekarang, hari ini, Sabtu, tanggal 5 April 2025 Masehi atau 6 Syawal 1446 Hijriyah, aku dan keluarga melakukan safari silaturahmi ke rumah saudara kandungku yang tertua di kota Jember yang terkenal julukannya dengan  kota “Suwar-Suwir”. Mendengar namanya, aku sangat penasaran tentang bentuk dan rasanya serta bahan bakunya.
‎
‎Syahdan, selepas waktu shalat ashar, aku dan istriku meluncur dan segera mencari tempat jajanan khas Indonesia Jember tersebut. Tepat pada pukul 15.00, kami berdua tiba di toko yang menjual “Suwar-Suwir” itu.
‎
‎Ternyata tidak hanya satu toko itu saja yang menjual makanan kue khas Kabupaten Jember tersebut. Tempatnya, berlokasi di Jalan Gajah Mada ada sekitar sepuluh toko berderet dari barat ke timur di sepanjang jalan Gajah Mada yang masuk dalam wilayah ada Kecamatan Kaliwates, Jember.
‎
‎Jajanan jaman dulu (jadul) yang disebut “Suwar -Suwir” ini sudah aku dengar sejak aku duduk di bangku SD, berpuluh tahun lalu. Tapi, anehnya, aku baru mendengar sekarang nama itu. Maka dari itu, aku mencoba menepis rasa penasaranku dengan cara mendatangi “Pusat Ole-ole” di Kota Jember ini. Walhasil, aku pun bertemu dengan makanan yang katanya berbahan baku dari tape (buah singkong yang difermentasi).
‎
‎Di etalase toko itu, sudah tampak “Suwar -Suwir berbagai bentuk kemasan dan rasa. Mulai dari rasa asli tape hingga rasa sirsak. Harganyapun bervariasi, terganggu besar atau kecilnya kemasan kue itu.
‎
‎Aku memilih kemasan ukuran kecil dan sedang. Dan varian rasa yang kubeli adalah “Suwar -Suwir rasa asli tape., seharga Rp 70 ribu. Lumayanlah, untuk “buah tangan” atau ole -ole teman – teman dan saudara di Situbondo.
‎
‎Dan ketika senja hari kami lalui di Kabupaten Jember, perut kami sekeluarga mulai terasa lapar. Kami pun mencari menu makanan murah dan enak di sepanjang jalan Gajah Mada, masih di kawasan Kecamatan Kaliwates.
‎
‎Kemudian kami temukan sebuah warung lesehan (warles) yang menyuguhkan menu makanan yang kebanyakan orang yang singgah makan di warung itu.
‎
‎Aku, istri dan anakku duduk lesehan di tikar dan karpet warung itu. kutemukan di daftar menu ada lalapan ayam, gurami, lele, tempe hingga bebek bledek yang harganya sangat pas di kantongku aiias murah. Dan… tentu saja rasanya membuat lidah kami tidak kecewa alias enak.
‎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025
Sarjana Dalam Gendongan

Sabang: Daerah Wisata, Jalur Free Port dan Harapan Baru

Agustus 21, 2025
Sigupai Mambaco Menghidupkan Bahasa Singkil Lewat Baca Nyaring Istimewa

Sigupai Mambaco Menghidupkan Bahasa Singkil Lewat Baca Nyaring Istimewa

Juni 23, 2025

Discussion about this post

Next Post

Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com